Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Mei 2016

Diplomasi Bunga Indonesia-Korea Utara


Presiden Soekarno telah banyak menjalin persahabatan dengan negara lain, terutama dengan negara-negara yang dinilai anti Amerika, hingga konon lengsernya Bung Karno juga dikarenakan adanya campur tangan Amerika, diantaranya: Kuba, Tiongkok (Cina), Uni Soviet (kini Federasi Rusia), dan Korea Utara.

SOEKARNO DAN KIM IL SUNG
Sejak dulu Korea Utara selalu mendapatkan pertentangan Barat-Amerika dkk, terkait paham ideologi mereka, juga karena aliansi Korea Utara yang cenderung ke poros Rusia-Cina. Namun Indonesia tak memandang ini sebagai sebuah tembok besar yang menghalangi dua negara untuk menjalin hubungan. Presiden Soekarno untuk pertama kalinya mengunjungi Korea Utara di tahun 1964.

Sambutan kepada Presiden ternyata bagus dan apresiatif. Bahkan Kim Il Sung juga membalas kunjungan ini bersama anaknya Kim Jong Il di bulan April tahun 1965. Kehadiran mereka berdua kala itu, sekaligus untuk mengikuti peringatan 10 tahun Konferensi Asia Afrika pertama yang diadakan pada tahun 1955 di Bandung. Di KAA pertama itu, Soekarno memberikan wadah bagi Korut untuk bisa berkiprah di dunia Internasional.

Duta Besar Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK), sering disebut Korea Utara, Ri Jong Ryul mengatakan presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno dan pendiri sekaligus presiden DPRK Kim Il Sung memiliki hubungan yang istimewa. “Hubungan antara Presiden Soekarno dan Presiden Kim Il Sung sangat istimewa dan tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. Presiden Soekarno juga dikenal baik oleh rakyat DPRK,” ujar Ri Jong Ryul.

Menurut Ri, eratnya hubungan Soekarno dan Kim Il Sung dimulai sejak tahun 1964 ketika Proklamator Indonesia itu melakukan kunjungan resmi ke DPRK (Korea Utara), yang dibalas dengan kunjungan Kim Il Sung dan anaknya Kim Jong Il ke Indonesia pada April 1965.

“Selain untuk mempererat hubungan bilateral, kunjungan Kim Jong Il saat itu sekaligus untuk menghadiri peringatan 10 tahun Konferensi Asia Afrika yang pertama kali diadakan tahun 1955 di Bandung,” kata Ri. Dalam pertemuan itu, Ri melanjutkan, kedua pemimpin negara tersebut membahas tentang kesejahteraan, kemerdekaan dan kedaulatan antara kedua negara.

Pada tanggal 13 April 1965, Kim Il Sung, Presiden Korea Utara saat itu, melakukan kunjungan ke Indonesia. Untuk menyenangkan tamunya, Presiden Soekarno mengajak Kim Il Sung berjalan-jalan ke Kebun Raya Bogor. Ketika mereka melewati deretan tanaman anggrek yang sedang mekar, Kim Il Sung tampak begitu terpesona dengan anggrek jenis “dendrobium” asal Makassar, Sulawesi Selatan. Kim Il Sung mengungkapkan bahwa anggrek itu begitu indah dan warna merah muda yang indah menunjukkan keanggunan dan martabatnya.

Melihat tamunya tertarik dengan bunga tersebut, Presiden Soekarno pun memberikan anggrek tersebut pada Kim Il Sung sebagai hadiah ulang tahun. Pada saat itu Presiden Soekarno pun berinisiatif memberi nama anggrek itu dengan perpaduan nama Kim Il Sung dan Indonesia. dan jadilah nama “Kimilsungia” atau dalam Bahasa Korea disebut “Kimilsunghwa” (bunga Kim Il Sung).

Anggrek itu pun dibawa ke Korea untuk dirawat dan dikembangbiakkan menjadi lebih baik. Sejak saat itu “Kimilsungia” ditetapkan sebagai bunga nasional Korea Utara. Di Korea “Kimilsungia” memiliki 7 kuntum tiap tangkai, sedangkan di Indonesia rata-rata hanya memiliki 3 kuntum.

“Karena itulah negara kami tidak akan pernah melupakan Indonesia,” ujar Ri, yang negaranya pada bulan April setiap tahunnya, sejak tahuh 1999, merayakan Festival Kimilsungia untuk memeringati ulang tahun Kim Il Sung dan menghormati hubungan dengan Indonesia. Dalam festival ini segala macam varian bunga terutama anggrek dipamerkan. Diplomasi ala bunga ini menjadikan Indonesia memiliki tempat istimewa di hati rakyat Korea Utara.

Bahkan Pemerintah Indonesia adalah satu-satunya pihak yang mendapat kehormatan untuk menyampaikan kata sambutan tiap festival ini berlangsung. Diplomasi ala Bunga ini juga membuat hubungan Indonesia dan Korea Utara menjadi dekat, sehingga sampai saat ini Indonesia dan Korea Utara sering melakukan pertukaran budaya. Tak heran bahwa bunga Kimilsungia dianggap juga sebagai simbol persahabatan Indonesia dan Korea Utara. 


Minggu, 10 April 2016

Proyek Anti-Komunis CIA di Asia Tenggara




CIA didirikan pada 1947. Tugasnya yang utama adalah kontra-intelijen, untuk melindungi Amerika dari gangguan subversi komunis atau apa pun yang memusuhinya. Tiga huruf itu kemudian bergetar di seluruh dunia sebagai tangan-tangan hitam Amerika. Artikel ini adalah kutipan dari buku Portrait of a Cold Warrior: G.P. Putnam’s Sons karya Joseph Burkholder Smith, bekas agen Central Intelligence Agency, terbitan 1976. Dan salah satu kiprah CIA adalah mendongkel (mengkudeta) Soekarno dengan membantu gerakan separatis PRRI dan Permesta.

“Butuh waktu buat saya untuk membiasakan diri memakai papan nama yang dikalungkan ke leher. Untuk membiasakan diri menyadari bahwa kerja saya selanjutnya akan didominasi oleh lemari dengan tiga kombinasi. Setiap malam, segala sesuatu, sampai pita mesin ketik pun, mesti diamankan di dalam lemari itu. Sementara itu, tiga petugas berganti-ganti memeriksa, untuk meyakinkan segala sesuatu normal-normal saja. Siapa pun yang melanggar aturan-aturan tersebut akan dihukum: harus menempuh ulang pendidikan sekuriti selama satu minggu. Kabar burung mengatakan, tiga pelanggaran akan membawa pemecatan.

Dipikir-pikir, segala macam peraturan pengamanan yang mengatur hidup saya dengan edannya itu tak lebih sejumlah keanehan saja, bahkan seringkali lucu. Coba pikir, sudah ada pagar jangkung, ada pengawal gerbang yang melindungi dan memelihara keamanan gedung, ada seabrek aturan sekuriti, masih ada lagi akal: tak memasang papan nama. Tampaknya, tak ada yang ingat bahwa jajaran gedung CIA yang tak diberi tanda pengenal itu justru akan mengundang kecurigaan. Karena itulah satu-satunya bangunan tanpa tanda pengenal.

Aturan sekuriti pribadi tak kalah lucunya, karena bertentangan dengan aturan fisik di kantor. Para karyawan mendapat instruksi: tidak boleh mengatakan bahwa mereka bekerja buat CIA. Terutama para pejabat di Bagian Klandestin, tempat saya bekerja. Tapi anehnya, tak ada seorang pun yang berpikir untuk memperlengkapi kami dengan semacam topeng samaran. Dalam hal itu, kami jadi mengandalkan pada kelihaian masing-masing. Sementara itu, untuk hal-hal yang penting seperti referensi kredit atau referensi dalam menyewa rumah, dan membuka rekening di bank, kami hanya diberi referensi yang sama — Viola Pitts, 2430 “E” Street, N.W.

Selalu diingatkan agar kami tidak membiarkan siapa pun melihat pas kami. Dengan pas tersebut kami diperbolehkan masuk ke dalam kompleks setiap pagi. Tapi tampaknya tak ada seorang pun yang berpikir tentang masalah sekuriti di pelataran parkir. Setiap pagi serentetan orang, bagaikan parade, dengan santainya berjalan dari lapangan parkir dan masuk ke dalam gedung-gedung. Barisan kami demikian jelasnya, sehingga tak diperlukan tanda pengenal lain untuk masuk. Mata-mata Soviet pasti akan tahu siapa “barisan manusia yang masuk ke dalam gedung tak dikenal” itu.

Jam kerja di Gedung “L” dan “K” dimulai pukul 0.30, tapi persoalan mendapatkan tempat parkir menyebabkan hampir semua orang mesti datang lebih pagi. Mereka yang datang pagi biasanya berkumpul di kafetaria buat minum kopi.

Setiap pagi saya mendapat kesempatan mengamat-amati rekan-rekan sekerja. Dari kebiasaan itu, dapat saya simpulkan bahwa perubahan masa jelas sekali tergambar pada kami. Umumnya “karyawan” tipe baru sangat muda usia. Yang lebih senior selalu memasuki kafetaria dengan topi. Mereka benamkan kepalanya dalam-dalam ke topi sampai hampir kehilangan alis. Atribut itu sudah lama lenyap dari busana mereka yang lebih muda. Entah kenapa orang-orang yang lebih tua itu masih saja mempertahankannya.

Saya tak kuasa menahan diri untuk tidak mengomentari pemakaian topi itu. “Kau pasti akan melihat sendiri nanti pada waktu menjalani latihan untuk Bagian Klandestin,” kata John, seorang rekan baru saya. “Memang masih agak lama. Tapi baiklah, supaya tidak penasaran, aku ceritakan sekarang saja. Orang-orang itu adalah bekas agen FBI atau perwira dalam Bagian Kontraintelijen Tentara. Mereka biasanya diajar, betapa pentingnya seorang agen rahasia selalu memakai topi.”

“Mengapa?” tanya saya penasaran. “Kita mesti pakai topi. Itu upaya terbaik supaya sukar dikenal,” jawab John.

Menurut buku pintar latihan FBI, kata John, sebuah topi akan menyulitkan orang memandang kita, bila berpapasan. Khususnya agen rahasia musuh. Walhasil, pakailah topi, dan, simsalabim, tak akan mudah dikenal.

Lantaran kemahiran Direktur FBI J. Edward Hoover dalam bidang PR, FBI memiliki reputasi tinggi sebagai organ yang paling profesional dalam bidang rahasia-rahasiaan. Cara-cara yang digunakannya diikuti oleh Korps Intelijen Angkatan Darat. CIA pun, terutama Direktorat Klandestin, kemudian menguntitnya. Mitos topi yang aneh itu demikian hebatnya, sehingga perlu waktu sepuluh tahun bagi Direktorat Klandestin untuk menyadari kenyataan: bahwa orang yang duduk di pojok tanpa banyak omong dan memakai topi adalah manusia yang paling dlperhatikan di dalam ruangan atau jalanan.

Ada juga beberapa meja yang para penghuninya langsung bisa dilacak dengan mudah. Mereka mengenakan celana kedodoran dengan jas tak pernah sampai ke bagian belakang celananya. Pakaian mereka seperti kantung yang dibuat untuk mengepak peti, bukan melindungi tubuh manusia. Pada mulanya mereka itu agak menakutkan saya. Tapi lama-lama saya teringat pada foto-foto di koran tentang tokoh-tokoh yang sedang mengamati parade 1 Mei dari atas kuburan Lenin. Tahulah saya bahwa orang-orang itu tak lain dari para spesialis masalah-masalah Eropa Timur.

Membedakan para petugas, di bagian mana mereka bekerja dalam CIA, bukan hanya lewat cara berpakaian dan ciri-ciri ras. Juga gamblang dari pengelompokannya waktu minum kopi. Ada kelompok yang bekerja pada Biro Operasi Khusus (OSO Office of Special Operations), ada yang bekerja pada Biro Koordinasi Kebijaksanaan (Office of Policy Coordination) lebih dikenal dengan nama OPC. Mereka mengadakan pembagian kerja di antara mereka, tapi bekerja sama sesedikit mungkin. Di Divisi Timur Jauh, ketika saya mulai bekerja pada 1951, misalnya, walaupun para personel OPC dan OSO bekerja di kantor yang berdekatan, mereka tak campur.

OSO dibentuk tak lama setelah CIA didirikan pada 1947. Tugasnya yang utama adalah kontraintelijen, untuk melindungi Amerika dari gangguan subversi komunis atau apa pun yang memusuhinya. Ia juga bertugas menjalankan operasi yang berarti mengumpulkan informasi tentang aktivitas kaum komunis atau kegiatan lain yang diperintahkan pemerintah.

OPC lahir di kala keadaan dunia sedang memburuk. Rekrutan pertamanya mulai membentuk badan itu pada awal 1949. Tugas OPC demikian rahasianya, sehingga itu dengan sengaja disembunyikan di balik nama Biro Koordinasi Kebijaksanaan, yang begitu menyesatkan. Pada musim gugur 1951, digosipkan bahwa OPC dan OSO akan dilebur menjadi satu. Cerita yang beredar mengatakan bahwa semua personel OSO akan dipecat, tapi ada juga yang mengatakan justru orang-orang OPC-lah yang akan mengalami nasib seperti itu. Dua kelompok yang dinamakan “Adso” dan “Adpic” sedang mengadakan tur keliling dunia untuk mencari “data” bagaimana caranya melebur kedua biro tersebut.

Kay mengatakan kepada saya agar tak terlalu memperhatikan segala gosip itu dan menyuruh saya agar lebih memperhatikan keadaan dalam negeri enam negara Asia Tenggara. Demi kemudahan geopolitis, CIA ternyata telah mengelompokkan keenam negara itu. Padahal, kompleksitas di negara-negara itu tak semudah seperti yang dibayangkan.

Di Indocina, pemimpin komunis terkemuka yang telah aktif berjuang melawan Jepang sedang sibuk-sibuknya melakukan perlawanan terhadap kedatangan kembali Prancis. Itulah Ho Chi Minh, dulu seorang anak dari Annam yang pernah menjadi jongos pada sebuah kapal dagang Prancis. Orang itu demikian hebatnya, sehingga Legiun Asing yang begitu terkenal dalam kemiliteran Prancis dibikin tak berdaya oleh tentara Viet Minh yang dipimpin Ho Chi Minh.

Di Muangthai (Thailand), dengan rakyat yang begitu setia kepada Jepang pada 1942, keadaan tampaknya lebih baik. Pepatah “kalau kau tak bisa mengalahkan mereka, bergabunglah dengan mereka” sebenarnya bukanlah peribahasa kuno orang Thai. Tapi pada 1951 mereka dengan sepenuh hati bersedia bekerja sama dengan kami untuk membendung ekspansi komunis di Asia Tenggara.

Divisi Timur Jauh Biro Koordinasi Kebijaksanaan (FE-OPC) telah membentuk suatu unit besar di bawah selimut (cover) organisasi sipil yang bergerak di bidang pembangunan dengan nama SEA Supply Company. Dari laporan-laporannya, ternyata organisasi itu terlibat dalam usaha merencanakan suatu penyerbuan ke Cina Daratan. Untuk maksud tersebut, telah digalang kerja sama antara biro CIA di Taiwan dan sisa-sisa laskar Kuomintang di perbatasan Burma-Cina.

Di Malaya orang-orang Inggris sedang berperang melawan pasukan gerilya komunis. Para pemimpin mereka telah memperoleh keahlian dalam perang berkat pengalaman mereka menentang pendudukan militer Jepang. Keadaan di sana banyak sekali persamaannya dengan apa yang sedang berkembang di kawasan Indocina. Sementara itu, Burma, yang baru saja berhasil memerdekakan diri, dipimpin oleh seorang sarjana yang penuh mistik, yakni U Nu. Ia menyatakan dirinya sedang memgembangkan suatu sistem demokrasi yang sosialistis. Sayangnya, para pemimpin Burma, termasuk U Nu sendiri, seperti tak dapat menerangkan apa sosialisme Burma itu.

Di seberang sana, Soekarno dan Mohammad Hatta, kedua pemuka nasionalis Indonesia, telah memproklamasikan kemerdekaan negara kepulauan itu pada 17 Agustus 1945. Itu terjadi hanya tiga hari setelah Jepang bertekuk lutut. Empat tahun berikutnya terjadi perundingan-perindingan yang diselingi oleh pertempuran dengan Belanda.

Problem utama yang dihadapi oleh pemerintah-pemerintah baru itu sama: mereka menghadapi ancaman kaum komunis yang tengah melancarkan perang gerilya. Dan itu semua membuat kami juga prihatin. Demikianlah yang saya baca dalam file-file tentang negeri-negeri tersebut.

Pada Februari 1948, Uni Soviet mensponsori pertemuan partai-partai komunis seluruh Asia di Kalkuta. Partai Komunis Australia juga turut hadir. Konferensi tersebut dipublikasikan dalam media massa kaum komunis. Pertemuan itu menyerukan agar “semua kekuatan anti-imperialis bersatu untuk menentang penindasan imperialis dan kaum reaksioner di setiap negeri”. Menurut laporan itu, semua kekacauan dan kesukaran yang terjadi di Burma, Malaya, Filipina, dan Indonesia bersumber pada konferensi tersebut.

Jumat, 01 April 2016

Partai Kerajaan Saudi & Ideologi Ekstrim Wahabi




Di tahun 2006, Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono memberi peringatan akan adanya penyusupan gerakan radikal (Zionis-Wahabi) ke dalam partai-partai Islam. Menurut Juwono Sudarsono, gerakan radikal itu bernaung di parpol yang mengatasnamakan Islam sambil menunggu momentum radikalisasi.

Atas pernyataannya itu, Menhan Juwono Sudarsono menerima badai protes dari kalangan partai, salah satunya Ketua Umum Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Tifatul Sembiring. Dia menyebut pernyataan Menhan itu hanya memberi stigma negatif partai-partai Islam (untuk kita bisa mengartikannya sebagai partai-partai yang membajak dan mengatasnamakan Islam). 

Dia (Tifatul Sembiring) menyebut Menhan telah menggunakan cara-cara Orde Baru. “Kalau memang punya bukti, langsung tunjuk hidung partai mana yang dimaksud,” tantang Tifatul Sembiring menanggapi pernyataan Menhan Juwono Sudarsono. Tak heran jika mantan presiden PKS, yang pernah menjabat sebagai Menkominfo di pemerintahan SBY tersebut, bersikap sangat keras terhadap peringatan Menhan Juwuno Sudarsono di tahun 2006 itu.

Bersama Hidayat Nur Wahid, Tifatul Sembiring adalah peletak dasar ideologi PKS. Keduanya berasal dari gerakan Tarbiyah, yang ingin mentransplantasi ideologi politik Ikhwanul Muslimin dari Mesir dan ideologi keagamaan Wahabi dari Arab Saudi.

Berdirinya PKS berawal dari kelompok keagamaan (tepatnya gerakan Wahabisme) yang berbasis di kampus-kampus negeri (utamanya kampus-kampus sekuler yang mahasiswanya minim pengetahuan agama) pada awal 1980-an. Kelompok ini kerap disebut gerakan Tarbiyah (pendidikan) atau Usroh (keluarga). Gerakan ini disebut tarbiyah karena dibangun dengan kegiatan mentoring atau pendidikan keagamaan oleh kelompok-kelompok yang dibentuk di sekitar kampus.

Setiap kelompok terdiri dari 5-7 orang yang dibimbing seorang murabbi (mentor) dengan kewajiban saling menjaga satu sama lain, tak hanya dalam aktivitas belajar tapi juga dalam aspek kehidupan sehingga seperti keluarga (usroh). Bahkan, seorang murabbi juga bertugas mencarikan jodoh bagi anggotanya, tentu saja itu dilakukan dengan motif semakin mempersolid usroh tersebut, karena mereka berpendapat, jika menikah dengan selain Wahabi dapat dikatakan sesat. 

Tak mengherankan, jika dalam banyak kasus, seorang anggota usroh lebih mendengarkan seorang murabbi daripada orang tuanya sendiri. Dan belakangan, mereka pandai berpura-pura untuk dapat masuk di kalangan Nahdhiyyin dan lain sebagainya.

Perkembangan gerakan Tarbiyah Wahabi itu di Indonesia terbilang cukup pesat, sehingga dalam tempo sepuluh tahun sejak 1980, telah menyebar ke seluruh kampus-kampus ternama di Indonesia seperti UI, IPB, ITB, UGM, Unair, Brawijaya, Unhas dan lain-lain. 

Kelahiran dua majalah Tarbiyah Wahabi, yang terbit akhir tahun 1986, yakni Ummi dan Sabili, yang menyebarkan pemikiran-pemikiran Ikhwanul Muslimin Mesir dan Wahabisme Rezim Saud Saudi Arabia, menjadi wahana pembinaan juga sebagai media informasi dan komunikasi pemikiran Tarbiyah di Indonesia. Gerakan tarbiyah itu berjalan secara samar-samar selama rezim Orde Baru yang terkenal otoriter dan “diktator”. Pola gerak itu mencapai titik balik pada momentum politik 1998, di mana semua kekuatan membuka diri menyambut perubahan iklim politik Indonesia, tak terkecuali kelompok tarbiyah Wahabi. 

Dalam iklim keterbukaan politik yang permisif terhadap semua bentuk ekspresi ideologi, para aktivis tarbiyah Wahabi memutuskan untuk mendirikan Partai Keadilan (PK). Partai berlambang bulan sabit dan pedang ini dideklarasikan 9 Agustus 1998 di Masjid Al-Azhar Kebayoran Baru dengan diikuti puluhan ribu pendukungnya.

Namun, jangan Anda salah sangka bahwa keterlibatan mereka dalam pemilu demokratis adalah bentuk penerimaan terhadap demokrasi. Sama sekali bukan. Cita-cita paling tinggi mereka adalah model Rezim Politik Wahabi yang sangat keras. Bagi mereka, sistem kepartaian, nasionalisme, atau pun demokrasi, hanyalah alat sementara, cara yang bisa ditunggangi untuk mencapai tujuan membentuk negara model Rezim dan Politik dalam ideal benak dan pemikiran Wahabisme. 

Mereka menunggangi demokrasi atau pemilihan umum hanya untuk merebut kekuasaan, sampai mereka berhasil membuat misi mereka terwujud, yaitu mewujudkan Daulah atau Khilafah model Wahabi dan Bani Umayyah, meski banyak dari mereka yang tidak sadar bahkan tidak paham bahwa cita-cita daulah atau khilafah itu tidak dikenal dalam Islam.

Bagaimana tidak? Azas Pancasila saja mereka tolak, dianggap sebagai azas sekuler dan kafir, dan jika ada anggotanya yang tetap menerima Pancasila, dicap futur (demoralisasi ideologi) hingga murtad bagi yang benar-benar menentang keras. Tentu kita masih ingat ketika beberapa oknum PKS melecehkan Sang Saka Merah Putih dan Pancasila.

Niat PKS dengan ideologi politik Ikhwanul Muslimin dan paham Wahabi ini memainkan peranan “playing as friend” (Berpura-pura menjadi teman atau mitra), awalnya terlihat ramah terhadap Pancasila dan Indonesia, namun tujuan mereka sejalan dengan Hizbut Tahrir. Toh, memang penggagas Hizbut Tahrir adalah sempalan Ikhwanul Muslimin dan kaum Wahabi yang merasa gemas dengan pola ‘berpura-pura’ yang dianggap lambat mencapai tujuan politik mereka.

Kedekatan PKS dan ideologi Ikhwanul Muslimin memang tak bisa dipungkiri, walau pun belakangan beberapa petinggi mereka pandai berpura-pura untuk menepis hal itu. Lihat saja reaksi mereka ketika pimpinan Ikhwanul Muslimin, Mohammed Mursi digulingkan dari kursi kepresidenan di Mesir, respon solidaritas PKS sangat massif melebihi solidaritas mereka terhadap berbagai kekerasan atas umat Islam di tanah air.

Anis Matta, yang menjadi presiden PKS saat itu juga terang-terangan menyatakan bahwa inspirasi-inspirasi Ikhwanul Muslimin memberi kekuatan pada PKS. Dari Hasan Al-Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin, hingga Anis Matta yang terang-terangan memuja Al-Qaeda yang buatan CIA-Amerika, yang ironisnya banyak anggota PKS sendiri tidak tahu bahwa Al-Qaeda adalah buatan dan binaan CIA-Amerika, sebagaimana ISIS saat ini yang juga buatan dan binaan CIA-Amerika dan Mossad-Israel.

Seperti telah sama-sama kita ketahui, Wahabi mengasosiasikan diri sebagai kaum salaf yang mengharamkan semua bid’ah dan memahami ajaran Islam secara harfiah (peringatan Maulid, tahlilan, atau ziarah kubur diharamkan) dan menganggap yang bertentangan dengan mereka adalah kafir, meski kenyataannya mereka justru terputus dari sanad salaf. Sedangkan ikhwanul muslimin bergerak di bidang politik. Karena tujuan untuk mendirikan negara versi mereka tak lagi dapat dilakukan seperti cara NII melalui pemberontakan, tapi dengan merebut kekuasan politik.

Jadi jangan heran jika dalam tubuh PKS ada Hilmi Aminuddin, putera Danu Muhammad Hasan, salah satu pemimpin gerakan Negara Islam Indonesia, Panglima NII Jawa dan Madura. Dan perkembangan mutakhir saat ini adalah mereka berusaha masuk dan mempengaruhi basis Nahdhiyyin dengan jalan pernikahan atau dengan berpura-pura tidak masalah dengan tradisi Nahdhiyyin, karena tujuan mereka adalah melakukan ideologisasi di dalam rumah tangga dan kepada istri dari basis Nahdhiyyin yang mereka nikahi.

Belajar dari kegagalan cara-cara pemberontakan mereka itu, kalangan Wahabi ini memanfaatkan alam demokrasi untuk mendirikan parpol dan merangsek masuk ke dalam birokrasi dan pemerintahan. Mereka memaksakan aturan paham mereka secara ketat hingga melanggar hak azasi warga negara yang berbeda keyakinan.

Yang lebih mendekatkan Wahabi dengan Ikhwanul Muslimin adalah ketidaktundukan mereka terhadap pemerintahan negara, atas nama nasional. Mereka hanya akan tunduk pada negara dan pemerintahan versi mereka, dan setiap upaya mereka adalah untuk mewujudkan tujuan tersebut.

Dalam mengembangkan sayap dan pengaruhnya, PKS melakukan infiltrasi ke berbagai ormas, lembaga pendidikan, instansi pemerintahan dan swasta. Bahkan di kampus-kampus, mereka memaksakan mentoring dan liqa’ untuk menyebarkan paham mereka, membuat kesepakatan dengan pihak kampus, agar mahasiswa tingkat awal mendapatkan mata kuliah dan materi dari mereka, dan minta diwajibkan untuk liqa’. Jika tidak mengikuti, maka ancaman nilai Agama Islam akan buruk dan mempengaruhi masa depan kelulusan karena mata kuliah wajib.

Sebagai contoh, dalam kasus Muhammadiyah, PKS menuggangi amal usaha, masjid, lembaga pendidikan, dan fasilitas lainnya demi tujuan politiknya. Penolakan Muhammadiyah terhadap PKS diwujudkan dalam Surat Keputusan Pimpinan Pusat (SKPP) Muhammadiyah Nomor: 149/Kep/I.0/B/2006. SKPP menyebut Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai partai politik yang memanfaatkan Muhammadiyah demi kekuasaan politik.

Karena itu SKPP menyerukan para anggota dan pimpinan Muhammadiyah agar membebaskan diri dari misi dan tujuan PKS. Dan pada 2006 pula, sebuah TK milik Aisyiyah Muhammadiyah di Prambanan yang telah berdiri 20 tahun hendak diubah menjadi TK Islam Terpadu. Di belakang rencana itu, ada Hidayat Nur Wahid yang saat itu menjabat Ketua MPR dan Dewan Pembina dan Pengurus Yayasan Islamic Centre yang berafiliasi dengan PKS. 

Tentu saja Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah keberatan dengan rencana itu. Kasus lain menunjukkan di mana PKS mengambil alih tanah masjid wakaf Muhammadiyah ketika Hidayat Nur Wahid membantu membangun fisik masjid di atasnya.

Keberadaan Kelompok Tarbiyah Ikhwanul Muslimin (PKS) di lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah mulai terkuak tatkala Farid Setiawan, pengurus Muhammadiyah wilayah Yogyakarta, menulis sebuah artikel opini di Majalah Suara Muhammadiyah. Dalam artikel berjudul “Tiga Upaya Mu’alimin dan Mu’alimat” itu Farid Setiawan mensinyalir penyusupan agen-agen garis keras di Madrasah Mualimin dan Muallimat Muhammadiyah Yogyakarta. Kedua lembaga pendidikan menengah ini dikenal sebagai tempat pengkaderan ulama Muhammadiyah yang langsung dikelola oleh Pimpinan Pusat.

Di kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), gerakan penyusupan paham Wahabi-Ikhwanul Muslimin demikian kuatnya, terutama lewat Fakultas Teknik, Agama Islam, dan Program Magister Agama Islam, di mana ketuanya adalah Dewan Syuro PKS, Dr. Muinudinillah, Lc., lulusan King Abdul Aziz University Arab Saudi. Yang menarik adalah, kira-kira tiga perempat mahasiswa S2 Studi Islam itu merupakan kader PKS yang dibawa oleh direkturnya dan mendapatkan beasiswa dari Kerajaan Arab Saudi yang sangat gencar menyebarkan Wahabisme.

Penyusupan ideologi PKS di forum-forum pengajian kantor pemerintah pernah menggegerkan Pemerintah Kota (Pemkot) Depok dan Bogor pada tahun 2006, yang saat itu dipimpin Walikota Nur Mahmudi Ismail, mantan Presiden PKS. Hasbullah Rachmad, ketua Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Depok, mengungkapkan hal tersebut pada Desember 2006.

Hasbullah memberi contoh bahwa pengajian rutin yang dibawakan guru ngaji dari Fraksi PKS di kalangan birokrasi Pemkot Depok merupakan bentuk pemaksaan. “Mereka yang ingin karirnya naik diwajibkan ikut pengajian PKS. Itu benar-benar terjadi,” kata Hasbullah. Banyak sekali kasus pemaksaan atas cara beragama dan ibadah orang lain, sesuai dengan prinsip Wahabi. Alangkah mengherankan dan sangat patut dipertanyakan, mengapa PKS dengan Ikhwanul Muslimin ala Mesir dan paham Wahabi ala Rezim Saud ini dapat lestari di Indonesia.

Selasa, 08 Maret 2016

Politik Global Zaman Akhir




oleh Syekh Imran Nazar Hossein (Jenewa, Swiss 27 Februari 2016)

Guru saya Maulana Fazlur Rahman Al-Anshari bertanya kepada saya, Al-Quran telah datang bagi orang-orang yang takut kepada Allah, kemudian apa isi Al-Quran yang lainnya? Beliau menunjuk kearah langit, lihatlah bintang-bintang di langit. Bagi orang-orang yang tidak mengerti, bintang-bintang itu hanyalah sesuatu yang sangat indah. Hanyalah sebatas sesuatu yang berkelap-kelip. Namun ketika Allah berbicara tentang bintang-bintang yang ada di langit, maksudnya adalah bahwa bintang-bintang itu bukanlah hanya sekedar hiasan, bintang-bintang itu memberi kamu panduan, jika kamu bisa memahami maknanya.

Jika kamu menghubungkan satu bintang ke bintang yang lain, kamu akan mendapat gambaran besar. Maka ketika kamu berlayar di lautan, kamu bisa melihat pola bintang-bintang itu untuk memberikan petunjuk arah, ayat-ayat di Al-Quran itu seperti bintang-bintang itu, memberi kamu arahan dan panduan di dalam proses sejarah manusia, banyak orang yang melihat sejarah manusia hanya sebatas menghafal peristiwa dan tanggal kejadian, mereka hanya memahami sejarah sebagai sesuatu yang tidak berarah, tanpa bertujuan, seperti kayu yang ada di lautan, kesana kemari, tidak punya arah yang jelas dan pasti.

Namun ada orang-orang yang tertentu, “biasanya mereka tidak melihat televisi”, mereka itu adalah pemikir, mereka berpikir, mereka bisa menghubungkan peristiwa satu dengan peristiwa yang lain dalam sejarah, dan mereka bisa melihat pola tertentu dalam sejarah, dan membaca sejarah dengan berbeda dari apa apa yang ditulis dalam sejarah, mereka melihat bahwa dunia berada di ambang kehancuran, dan mereka ini belum tentu orang Islam, atau Nashrani (Kristiani) atau Yahudi.

Di sebelah saya ini adalah seorang sekuler, Piero, ia menulis surat kepada saya, “Saya mengerti apa yang kamu bicarakan”, dan setelah berdiskusi dengan saya, kita memperoleh kesimpulan yang sama. Oleh karena itu, Allah memberikan cahaya kepada siapa saja yang diinginkan, dengan cahaya itu, kamu bisa membaca dan menghubungkan peristiwa-peristiwa dalam sejarah, dan mengerti kita berada di mana, dan bagaimana cara mengantisipasinya.

Saat ini Suriah itu seperti tumpukan kayu kering, yang hanya membutuhkan api kecil untuk membakarnya. Mereka yang telah menciptakan ISIS, yang saya sebut sebagai Negara Islam palsu, telah menciptakan ISIS melalui perencanaan yang matang, dan untuk mencapai tujuan-tujuan penting. Namun sekarang rencana mereka hancur berantakan, karena intervensi militer Rusia di Suriah yang telah mengalahkan ISIS, dan mereka tidak bisa menerima hal itu terjadi.

Maafkan bahasa saya yang kasar. Ada orang-orang yang munafik, mereka mengatakan kebohongan besar, kemudian keesokan harinya mereka mengenakan pakaian bagus untuk pergi ke Gereja di Hari Minggu [Barat], dan ada juga datang ke Masjid di Hari Jum’at [Erdogan-Turki], tanpa rasa malu. Yakni mereka yang telah menciptakan ISIS. ISIS telah berada di ambang kehancuran, karena penyusupan militer mereka ke Suriah telah gagal. Digagalkan oleh tentara yang berada di dalam Suriah, bukan tentara yang berada di luar Suriah, yang dibayar satu ribu dolar per-hari, para tentara bayaran. Tentara yang mempertahankan Suriah, apapun agama mereka, Muslim, Kristen, atau yang lainnya, telah memenangkan peperangan itu.

Oleh karena itu, saat ini kita berada di saat yang berbahaya, itulah pengantar ceramah hari ini, yaitu mempersiapkan diri menghadapi perang nuklir. Kami mengajak para pendengar untuk melihat dua kota yang penting, yaitu ALEPPO di utara Suriah, dan MOSUL di utara Irak, jika kedua kota tersebut jatuh ke tangan Rusia kita berkemungkinan, entah besok atau lusa, bahwa Turki anggota NATO, yang dipimpin Presiden Erdogan, akan melakukan serangan militer ke Suriah. Agar tidak kalah dalam peperangan itu. Dimana Arab Saudi mungkin akan menjadi bagian dari perang itu. Jika serangan itu terjadi, apakah serangan itu dengan ijin NATO? Atau Turki dan Arab Saudi melakukannya tanpa sepengetahuan NATO, dengan harapan NATO akan ikut campur. Ini adalah pertanyaan yang tidak bisa saya jawab, saya dan semua orang tidak bisa menjawab pertanyaan itu, ini adalah analisis kecil, sebelum kita masuk ke gambaran besarnya.

Jadi ada dua kemungkinan di situ, akan ada perang terbatas dimana NATO tidak ikut campur. Turki dan Arab Saudi akan bertempur bersama NATO dimana mereka akan kalah, Rusia akan mengalahkan mereka. Ini adalah skenario di mana saya harus memilih apa yang harus saya katakan dengan hati-hati. Jika skenario itu terjadi yaitu pilihan yang pertama tadi, maka akhir dari perang terbatas itu secara pasti sudah kita ketahui jawabannya, yaitu bahwa Iran menjadi penguasa di Timur Tengah, bahwa keluarga kerajaan Saudi akan hilang dari sejarah manusia, bahwa ISIS akan menguasai Mekkah dan Madinah.

ISIS adalah ular berbisa yang diciptakan dengan tujuan khusus memulai perang adu-domba antara Syi’ah dan Sunni di dunia Islam. Maka jika ISIS menguasai Saudi Arabia, hal itu akan menjadi umpan yang saya harap Iran tidak akan memakannya. Jika Iran memakan umpan itu, dan menyerang Arab Saudi, maka mereka yang menciptakan ISIS mendapatkan apa yang mereka inginkan, yaitu perang antara Syi’ah dan Sunni di dunia islam, dan yang diuntungkan adalah Israel.

Saya akan mengutuk Iran jika itu terjadi, jika Iran melakukan serangan bodoh ke Arab Saudi. Pilihan yang kedua, dan kita bergerak cepat sekarang, adalah serangan Barat ke Suriah, Dimana NATO ikut campur karena Turki adalah anggota NATO. Itu adalah kewajiban legal, jika salah satu anggota NATO berperang, maka seluruh NATO ikut berperang. Ini akan memicu terjadinya perang dunia, dan jika perang dunia terjadi saat ini, maka itu adalah sebuah perang nuklir. Jika itu perang nuklir, maka hanya ilmuwan nuklir yang bisa memberitahu kita, apa saja dampak perang nuklir, dan saya harap Piero dapat menjelaskan kepada kita semua hal yang akan terjadi, seperti apa dunia setelah perang nukllir itu?

Sekarang Eskatologi Islam akan menjelaskan apa-apa yang berkaitan dengan perang nuklir? Kita sudah sering mendengarkan apa yang Nabi saw katakan, hanya saja kita tidak menempatkannya dalam konteks yang benar. Nabi Muhammad saw berkata: ‘Bahwa sungai Eufrat suatu hari nanti, akan mengeluarkan segunung emas, dan orang-orang akan berperang untuk memperebutkan emas itu, bahwa 99 orang dari 100 yang memperebutkan emas itu akan mati, dan masing-masing akan berkata bahwa akulah yang akan selamat atau menang, tetapi mereka yang beriman kepada Allah tidak boleh menyentuh emas itu’.

Kami mengenalinya sebagai simbolisme keagamaan, dan pada seminar kami di Bulan Agustus 2014 di Jenewa, kami menjelaskan ta’wilnya, bahwa segunung emas yang dimaksud bukanlah logam, memang, ada mereka yang memaksakan untuk mentakwilkannya secara tersurat, dan mereka sampai saat ini menunggu Sungai Eufrat mengeluarkan logam emas. Tetapi menurut kami ini adalah simbolisme keagamaan, pada tahun 1974, lautan minyak bumi yang berada dibawah sebuah sungai telah berfungsi sebagai segunung emas.

Kapan? Bagaimana? Yaitu ketika HENRY KISSINGER meminta Raja Faisal untuk menjual minyak ke Arab Saudi (Sebuah permintaan yang sangat arogan), bahwa minyak Arab Saudi hanya boleh dijual dengan Dollar Amerika. Dan mereka berkata; kami adalah kaum yang menegakkan pasar yang bebas dan adil, benarkah? Apakah ini pasar yang bebas dan adil? Apakah mereka tidak malu? Apakah kamu tidak malu? Apakah ini pasar yang bebas dan adil? Bahkan jika saya ingin membeli minyak bumi dengan emas pun tidak boleh. Saya tidak boleh membeli minyak bumi dengan yang lain kecuali dengan Dollar Amerika. Raja Faisal menyetujuinya, dan mengajak seluruh negara Arab pengekspor minyak bumi untuk mengikutinya, dan itulah OPEC maha karya Gerakan Zionist.

Ya OPEC melaksanakan hal itu. Lalu lahirlah sesuatu yang disebut sebagai PETRODOLLAR. Dan prediksi Nabi Muhammad [saw] terbukti, lalu beliau berkata, bahwa mereka akan berperang untuk memperebutkan minyak itu. Hati-hati dengan apa yang Nabi katakan, perang itu akan terjadi sebentar lagi, karena BRICS adalah ancaman bagi PETRODOLLAR. Dan Rusia adalah pemimpin BRICS, tanpa Rusia, China tidak akan ada berada di BRICS. Tanpa Rusia, Brazil, India, China, Afrika Selatan, BRICS hanyalah taman kanak-kanak. Jadi menurut pandangan eskatologi kami, sebuah perang besar telah datang, kami mengerti dan memahami, itu adalah perang untuk memperebutkan segunung emas.

Oleh karena itu Ukraina adalah hanya tontonan, dan Suriah adalah tontonan, perang sebenarnya adalah untuk segunung emas. Untuk menjaga kekuasaan mereka di seluruh dunia, mereka harus menjaga kekuasaan mereka terhadap uang. Kamu tidak bisa menguasai dunia tanpa mengusai uang, dan kamu tidak menguasai uang selama umat manusia menggunakan emas dan perak sebagai uang. Kamu harus membuang emas dan perak sebagai uang? Karena itulah uang yang memiliki nilai intrinsik. Itu adalah uang yang sebenarnya dan kamu menggantinya dengan permainan monopoli, ada orang yang menyebutkannya uang kertas toilet.