Tampilkan postingan dengan label Orientalisme dan Islamologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Orientalisme dan Islamologi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Juni 2016

Kisahku Menjadi Muslimah


oleh Alexandra Chernov (Australia). Foto: Pemanah Iran, Shiva Mafakheri

Aku adalah anak perempuan ketiga dari empat bersaudara. Aku dilahirkan di Melbourne, Australia, pada tahun 1971. Ayahku seorang Kristen Ortodoks yang lahir di Polandia. Keluarganya campuran Rusia dan Jerman. Sementara ibuku lahir di Australia. Nenekku dari ibu berdarah Rusia dan Yahudi. Ibu dibesarkan dalam lingkungan Anglikan, tetapi tidak begitu rajin menjalankan agamanya.

Ketika aku kecil, seperti juga teman-teman kecilku, setiap minggu aku pergi ke gereja dan ikut sekolah minggu. Sejak kecil hingga dewasa aku selalu sekolah di sekolah Kristen. Namun ketika aku menjelang dewasa dan suka membaca Bibel, aku mulai suka bertanya-tanya dan ragu tentang banyak hal. Diantaranya adalah konsep trinitas, pengampunan dosa oleh pendeta dan lain-lain.

Meski aku sering bertanya namun jawabannya tak pernah memuaskanku. Aku amat percaya pada Tuhan karena banyak kenalanku mengatakan bila aku percaya pada Tuhan aku akan menjadi orang yang baik. Namun aku tidak pernah paham bahwa Yesus adalah anak Tuhan. Karenanya bila berdoa aku selalu meminta kepada Tuhan bapak bukan Tuhan anak.

Namun demikian aku tetap tidak puas. Akhirnya akupun melirik agama lain. Sayang ketika itu beberapa kenalan Islamku tidak menjalankan ajarannya dengan baik. Akibatnya aku baru mengenal ajaran ini setelah lama terombang-ambing mempelajari agama-agama lain.

Mulanya adalah ibuku yang telah bercerai dari ayah. Ketertarikannya dalam studi Perbandingan Agama telah membuatnya lebih dulu memeluk Islam daripada aku. Namun demikian ia tidak pernah membicarakan ajaran barunya itu kepadaku. Tapi aku pikir kalaupun ia mengajarkannya mungkin aku justru tidak tertarik.

Suatu hari aku menemukan Al-Quran yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Muhammad Marmaduke Pickthall. Aku segera membelinya dengan maksud akan kuberikan kepada ibu. Aku sempat membuka-buka sedikit. Akan tetapi baru beberapa bulan kemudian aku mulai serius mempelajarinya. Namun demikian aku jadi suka membela ajaran Islam ketika ada orang yang mengkritik ajaran ini. Aku begitu bergairah mempertahankan Islam seolah aku adalah seorang Muslim.

Akhirnya di pagi hari raya Idul Fitri di tahun 1992, setelah shalat Ied, aku mengikrarkan syahadat di Islamic Council of Victoria, Melbourne. Sulit aku mengatakan bagaimana perasaanku waktu itu. Yang jelas aku merasa terlahir kembali dan dalam keadaan bersih tanpa dosa sedikitpun pula. Ibuku tentu saja sangat bahagia mengetahui kabar tersebut.

Karena aku mempelajari Islam terlebih dahulu sebelum bersyahadat maka akupun langsung memahami apa yang menjadi kewajibanku. Aku segera meninggalkan pekerjaanku sebagai pelayan yang menghidangkan minuman keras dan mencari pekerjaan yang halal. Aku juga segera menutup auratku dengan berjilbab.

Sayang ayah menentang keislamanku. Padahal ketika ibu dulu masuk Islam ia tidak memprotes. Ia hanya menganggapnya gila dan hilang akal saja! Mungkin karena mereka sudah bercerai jadi ayah tidak peduli. Belakangan aku menyadari bahwa ayah menentangku bukan semata-mata karena ia membenci Islam. Karena ternyata selama ini ia berpikir bahwa perempuan Islam diperlakukan buruk dan tidak mempunyai hak apa-apa.

Di luar itu, aku bersyukur bahwa aku tidak mengalami hambatan yang berarti. Walaupun dengan berjilbab ternyata aku tetap dapat bekerja bahkan sebagai baby sitter di keluarga non muslim. ”Kamu orang yang sama dengan yang telah kami kenal selama ini. Anak-anak masih menyukaimu. Demikian juga kami”, begitu komentarnya. Alhamdulillah….Sebelumnya aku memang telah mengenal keluarga ini.

Aku juga aktif di berbagai kegiatan keislaman. Aku pernah bekerja sebagai tenaga sukarela di sebuah sekolah Islam, membantu ibu-ibu mengajar di sana. Aku ikut pengajian di beberapa kelompok pengajian yang berbeda dan shalat di masjid-masjid yang berbeda. Aku memang tidak ingin terikat pada satu kelompok pengajian saja.

Sebaliknya aku juga tidak mau hanya membangun kontak dengan sesama Muslim. Aku justru berpikir sebagai Muslimah aku harus berdakwah kepada teman-teman non muslimku. Teman-teman dekatku aku rasa tidak kaget dengan penampilan baruku. Karena mereka memang mengetahui prosesku berislam. Terkadang aku bahkan berdiskusi dengan mereka. Namun teman-temanku yang tidak begitu akrab tampaknya agak terkejut juga mengetahui kepindahanku. Tapi apa peduliku?

Sementara itu ayah dan keluarga besarnya tetap memandangku dengan perasaan aneh dan asing. Kadang-kadang mereka bahkan mengambil gambarku seolah aku ini mahluk ajaib. Tapi aku tidak tersinggung. Aku malah sengaja berpose secantik mungkin. ”Biarkan mereka tahu penampilan perempuan Islam”, pikirku senang.

Kini aku begitu optimis akan masa depanku. Aku berharap semoga aku dapat menjadi muslimah sekaligus ibu yang baik. Saat ini aku ingin menuntaskan studiku di Monash University untuk belajar ilmu lingkungan yang menurut pengamatanku belum banyak ditangani Muslim. Padahal bukankah kepedulian terhadap lingkungan adalah bagian dari Islam yang sangat penting?

Pendek kata, aku ingin berdakwah dengan caraku sendiri. Aku juga terobsesi suatu hari kelak akan memiliki ladang, tinggal di sana dan dapat mengendarai kuda kesayanganku sepanjang hari seperti juga Rasulullah saw dulu. Aku memang sangat menyukai kuda. Di tempat inilah secara berkala aku akan menyelenggarakan acara perkemahan khusus untuk anak-anak Muslim.

Pau-France, 24 Agustus 2009. 



Senin, 28 September 2015

Tiga Syubhat Kaum Khawarij



(Sumber: Delusions of the Devil by Abu’l Faraj Ibn Jauzi, transl. D.S. Margoliouth, Ed. N.K. Singh, Kitab Bhavan, India).

Ibnu Abbas berkata: “Orang-orang Khawarij memisahkan diri dari Ali, berkumpul di satu daerah untuk keluar dari ketaatan (memberontak). Mereka ketika itu berjumlah enam ribu orang. Semenjak Khawarij berkumpul, tidaklah ada seorang yang mengunjungi Ali melainkan dia berkata –mengingatkan beliau–: “Wahai Amirul Mukminin, mereka kaum Khawarij telah berkumpul untuk memerangimu.” Beliau menjawab: “Biarkan mereka, aku tidak akan memerangi mereka hingga mereka memerangiku, dan sungguh mereka akan melakukannya.”

Hingga di suatu hari yang terik, saat masuk waktu dhuhur aku menjumpai Ali. Aku berkata: “Wahai Amirul Mukminin, tunggulah cuaca dingin untuk shalat dhuhur, sepertinya aku akan mendatangi mereka (Khawarij) berdialog.” Ali bin Abi Thalib berkata: “Wahai Ibnu Abbas, sungguh aku mengkhawatirkanmu!” “Wahai Amirul Mukminin, janganlah kau khawatirkan diriku. Aku bukanlah orang yang berakhlak buruk dan aku tidak pernah menyakiti seorang pun.” Maka Ali pun mengizinkanku.

“Jubah terbaik dari Yaman segera kupakai, kurapikan rambutku, dan kulangkahkan kaki ini hingga masuk di barisan mereka, di tengah siang. Sungguh aku dapati diriku masuk di tengah kaum yang belum pernah sama sekali kujumpai satu kaum yang sangat bersemangat dalam ibadah seperti mereka. Dahi-dahi penuh luka bekas sujud, tangan-tangan menebal bak lutut-lutut unta. Wajah-wajah mereka pucat pasi karena tidak tidur, menghabiskan malam untuk beribadah. Kuucapkan salam pada mereka. Serempak mereka menyambutku: “Marhaban, wahai Ibnu ‘Abbas. Apa gerangan yang membawamu kemari?”

Aku berkata: “Sungguh aku datang pada kalian dari sisi sahabat Muhajirin dan sahabat Anshar, juga dari sisi menantu Rasulullah (maksudnya Imam Ali) yang kepada merekalah Al-Qur’an diturunkan dan merekalah orang-orang yang paling mengerti makna Al-Qur’an daripada kalian.”

Begitu mendengar ucapan Ibnu Abbas yang penuh makna dan merupakan prinsip hidup –yang tentunya tidak mereka sukai karena menyelisihi prinsip sesat mereka–, berkatalah sebagian Khawarij memberi peringatan: “Jangan sekali-kali kalian berdebat dengan seorang Quraisy (yakni Ibnu ‘Abbas). Sesungguhnya Allah berfirman, “Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar” (QS. Az-Zukhruf: 58).

Betapa bodohnya mereka gunakan ayat ini untuk mencela Ibnu Abbas, padahal beliau lebih mengerti Al-Qur’an, sebagaimana Rasulullah berdoa untuknya: “Ya Allah, faqihkan ia dalam agama dan ajarkanlah ia tafsir.”

Ibnul Jauzi kembali melanjutkan riwayat kisah ini, Berkata dua atau tiga orang dari mereka: “Biarlah kami yang akan mendebatnya!”.

Aku (Ibn Abbas) berkata: “Wahai kaum, datangkan untukku alasan, mengapa kalian membenci menantu Rasulullah beserta sahabat Muhajirin dan Anshar, padahal kepada merekalah Al-Qur’an diturunkan. Tidak ada pula seorang pun dari sahabat yang bersama kalian, dan ia (Ali adalah orang) yang paling mengerti dengan tafsir Al-Qur’an!” Mereka berkata: “Kami punya tiga alasan.” Aku (Ibn Abbas) berkata: “Sebutkan (tiga alasan kalian).”

Mereka berkata, “Pertama: Sungguh dia telah jadikan manusia sebagai hakim (pemutus perkara) dalam urusan Allah, padahal Allah berfirman: “…Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah…” (QS. Yusuf: 40). Hukum manusia tidak ada artinya di hadapan firman Allah. Aku (Ibn Abbas) berkata: “Ini alasan kalian yang pertama. Lalu apa lagi?” Mereka berkata: “Adapun yang kedua, sesungguhnya dia telah berperang tapi kenapa tidak mau menawan dan mengambil ghanimah? Kalau mereka (Aisyah dan barisannya) itu mukmin tentu tidak halal bagi kita memerangi dan membunuh mereka. Tidak halal pula tawanan-tawanannya.”

Ibnu Abbas berkata: “Lalu apa alasan kalian yang ketiga?” Mereka berkata, “Ketiga: Dia telah hapus sebutan Amirul Mukminin dari dirinya (dalam perjanjian). Kalau dia bukan amirul mukminin (karena menghapus sebutan itu) berarti dia adalah amirul kafirin (pemimpin orang-orang kafir).” Ibnu ‘Abbas berkata: “Adakah pada kalian alasan selain ini?” Mereka berkata: “Cukup sudah bagi kami tiga perkara ini!”

Selanjutnya, mari kita simak bagaimana Ibnu Abbas mendudukkan syubhat-syubhat tersebut.

Ibnu ‘Abbas berkata: “Ucapan kalian bahwa Ali telah menggunakan manusia dalam memutuskan perkara (untuk mendamaikan persengketaan antara kaum muslimin), sebagai jawabannya akan kubacakan ayat yang membatalkan syubhat kalian. Jika ucapan kalian terbantah, maukah kalian kembali (kepada jalan yang benar)?” Mereka berkata: “Ya, tentu kami akan kembali.”

Ibnu ‘Abbas berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya Allah telah menyerahkan di antara hukum-Nya kepada hukum (keputusan) manusia, seperti dalam menentukan harga kelinci (sebagai tebusan atas kelinci yang dibunuh saat ihram). Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan (hukum) dua orang yang adil di antara kamu, sebagai hadyu yang dibawa sampai ke Ka’bah, atau (dendanya) membayar kafarat dengan memberi makan orang-orang miskin, atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa” (QS. Al-Maidah: 95).

Demikian pula dalam perkara perempuan dan suaminya yang bersengketa, Allah juga menyerahkan hukumnya kepada hukum (keputusan) manusia untuk mendamaikan antara keduanya. Allah berfirman:

“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengenal” (QS. An-Nisa: 35).

Maka demi Allah, jawablah oleh kalian. Apakah diutusnya seorang manusia untuk mendamaikan hubungan mereka dan mencegah pertumpahan darah di antara mereka lebih pantas untuk dilakukan, atau hukum manusia perihal darah seekor kelinci dan urusan pernikahan wanita? Menurut kalian manakah yang lebih pantas?” Mereka katakan: “Bahkan inilah (yakni mengutus manusia untuk mendamaikan manusia dari pertumpahan darah) yang lebih pantas.”

Ibnu ‘Abbas berkata: “Apakah kalian telah keluar dari masalah pertama?” Mereka berkata: “Ya.” Ibnu Abbas melanjutkan: “Adapun ucapan kalian bahwa Ali telah berperang tapi tidak mau mengambil ghanimah dari yang diperangi dan tidak menjadikan mereka sebagai tawanan, sungguh (dalam alasan kedua ini) kalian telah mencerca ibu kalian (yakni Aisyah). Demi Allah! Kalau kalian katakan bahwa Aisyah bukan ibu kita (yakni kafir), kalian sungguh telah keluar dari Islam (karena mengingkari firman Allah). Demikian pula kalau kalian menjadikan Aisyah sebagai tawanan perang dan menganggapnya halal sebagaimana tawanan lainnya (sebagaimana layaknya orang-orang kafir), maka kalianpun keluar dari Islam. Sesungguhnya kalian berada di antara dua kesesatan, karena Allah berfirman: “Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka” (Al-Ahzab: 6).

Ibnu Abbas berkata: “Apakah kalian telah keluar dari masalah ini?” Mereka menjawab: “Ya.” Ibnu Abbas berkata lagi: “Adapun ucapan kalian bahwasanya Ali telah menghapus sebutan Amirul Mukminin dari dirinya (pada saat perjanjian perdamaian), maka (sebagai jawabannya) aku akan kisahkan kepada kalian tentang seorang yang kalian ridhai, yaitu Rasulullah. Ketahuilah, bahwasanya beliau di hari Hudaibiyah (6 H) melakukan shulh (perjanjian damai) dengan orang-orang musyrikin, Abu Sufyan dan Suhail bin ‘Amr. Tahukah kalian apa yang terjadi? Ketika itu Rasulullah bersabda kepada Ali: “Wahai Ali, tulislah perjanjian untuk mereka.” Ali menulis: “Inilah perjanjian antara Muhammad Rasulullah…” Segera orang-orang musyrik berkata: “Demi Allah! Kami tidak tahu kalau engkau Rasul Allah. Kalau kami mengakui engkau sebagai rasul Allah tentu kami tidak akan memerangimu.”

Rasulullah bersabda: “Ya Allah, sungguh engkau mengetahui bahwa aku adalah Rasulullah. Wahai Ali tulislah: Ini adalah perjanjian antara Muhammad bin Abdilah…’.” (Rasulullah memerintahkan Ali untuk menghapus sebutan Rasulullah dalam perjanjian). Ibnu Abbas berkata: “Demi Allah, sungguh Rasulullah lebih mulia dari Ali. Meskipun demikian, beliau menghapuskan sebutan Rasulullah dalam perjanjian Hudaibiyah…” (Apakah dengan perintah Rasul menghapuskan kata Rasulullah dalam perjanjian kemudian kalian mengingkari kerasulan beliau? Sebagaimana kalian ingkari keislaman Ali karena menghapus sebutan Amirul Mukminin?)

Ibnu Abbas berkata: “Maka kembalilah dua ribu orang dari mereka, sementara lainnya tetap memberontak (dan berada di atas kesesatan), hingga mereka diperangi dalam sebuah peperangan besar (yakni perang Nahrawan).”


Demikian tiga syubhat Khawarij yang mereka jadikan sebagai alasan memberontak dan memerangi Ali. Semua syubhat tersebut terbantah dalam dialog mereka dengan Ibnu Abbas. Maka selamatlah mereka yang mau mendengar sahabat dan menjadikan mereka sebagai rujukan dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah. Sedangkan mereka yang tidak mau kembali pada sahabat Rasulullah tetap dalam kebinasaan. Hingga terjadilah pertempuran Nahrawan. Fitnah pun berlanjut dan terjadilah pembunuhan Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah di Mesjid Kufah ketika ia tengah sujud di mihrab sholatnya di malam Lailatul Qadr. 


Senin, 06 Juli 2015

Diskursus Sebagai Instrumen Kekuasaan



Oleh Sulaiman Djaya (penyair dan penulis lepas)

Mengetahui adalah menguasai” (Francis Bacon, 1561-1626)

Dalam ranah dan hasrat politik Barat, diskursus humaniora dan saintifik acapkali “ada” demi kekuasaan itu sendiri, yang di sini contohnya adalah orientalisme, sebagaimana dipaparkan Edward W. Said [1] dalam bukunya yang berjudul Orientalism yang diterbitkan pada tahun 1978 oleh penerbit Vintage Books itu. Pertanyaannya adalah apakah orientalisme sebagaimana dipaparkan Edward Said tersebut? Berikut ulasan singkatnya.

Pertama-tama, orientalisme adalah hal-ikhwal tentang bagaimana Timur direpresentasikan atau dihadirkan oleh Barat sebagai yang lain (others). Lewat tulisan, novel atau karya sastera, kajian disiplin akademik, dan lain-lain. Timur menjadi objek pembacaan, objek pemahaman, objek kajian, objek perjalanan dan objek penulisan dari para penulis Barat. Karena Timur adalah hasil representasi, maka konstruksi ke-Timur-an itu sendiri bukanlah “the real Orient”. Timur adalah entitas yang direpresentasikan dalam sudut pandang, perspektif, kesadaran dan bias ideologi pengamat (pembaca Barat) yang tersituasikan di dalam masyarakatnya, tradisi budaya dan lingkungannya beserta lembaga-lembaga yang menstabilkan kesadaran tersebut seperti sekolah, perpustakaan, dan pemerintah.

Menurut Said, orientalisme adalah doktrin politik yang diarahkan kepada Timur, pada saat mana Timur lebih lemah dan budaya Barat lebih dominan. Dalam konteks ini, Timur dihadirkan (direpresentasikan) dalam sifat-sifatnya yang despotik, sensual, pasif, terbelakang, mentalitas menyimpang, dan sebagainya –sesuai dengan subjektivitas para penulis dan pengamat Barat. Pandangan semacam ini sudah terinstitusionalisasi sejak abad ke-18 sebagai satu sistem kebenaran, dan menurut Said, konsekuensinya, para pengamat Eropa cenderung rasis, imperialis dan etnosentrik –juga eropasentrik terhadap yang lain (others). Dan malangnya, pada akhir abad ke-19, orientalisme (kajian tentang ke-Timur-an) membawa misi membantu kolonialisme alias penjajahan.

Said membuat distingsi antara “latent orientalism” dan “manifest orientalism”. “Latent” di sini merujuk pada “struktur dalam” (deep structure) atau aspek “unconscious” dari orientalisme yakni positioning politik dan kehendak-untuk-berkuasa dari Barat untuk menguasai Timur di dalam diskursus. Sementara “manifest” menujuk pada detail permukaan atau aspek yang nampak dalam diskursus, seperti disiplin (sosiologi, sejarah, sastera, dan lain-lain), produk budaya, sarjana dan tradisi bangsa. Aspek pengetahuan yang “manifest” dari orientalisme ini selalu berubah, sementara aspek “latent”-nya relatif konstan alias tetap dan tidak berubah –yaitu kepentingan politik dan kekuasaan yang ada di belakangnya.

Aspek “latent” dari orientalisme terlihat dari karya-karya para pengarang Eropa yang menghadirkan Timur (yang berbeda dengan Barat) sebagai terbelakang, eksentrik, bodoh, sensual, tunduk, uncivilized, dan “as problems to be solved or confined or taken over” –di sini lahirlah hasrat berkuasa Barat atas Timur dengan retorika “memberadabkan” tersebut, di mana motif sesungguhnya adalah penaklukkan dan penjajahan, dan karena itu perlu diperhatikan, dimajukan, bahkan diselamatkan oleh Barat (ini dilakukan bukan hanya karena takdir determinisme biologis tetapi juga karena motif dan hasrat politik).

Aspek “latent” lain dari orientalisme adalah konsepsi dunia maskulin. Orientalisme adalah kajian yang bias laki-laki, buta kelamin, yang mana perempuan oriental selalu digambarkan oleh para novelis dan pelancong sebagai pembangkit fantasi seksual laki-laki. Gambaran tentang Timur semacam ini diasumsikan bersifat statis, tetap yang tak mungkin berkembang dan berubah, dan merupakan bagian dari “Oriental Wisdom”.

Dalam karya-karya orientalis (misalnya, Jacob Buckhardt, von Ranke, Ignaz Goldziher, dan lain-lain), Timur absen dalam representasi Barat. Ia menjadi objek penafsiran, objek penilaian dan pembelajaran, objek yang dihadirkan oleh Barat (yang -“menurut mereka”- tanpa Barat tak mungkin Timur hadir) sebagai yang lemah, sial, dungu, inferior, dan lain-lainnya. “We must not forget that the Orientalist’s presence is enabled by the Orient’s effective absence”, tulis Said.

selanjutnya, geografi adalah material penting penyokong pengetahuan mengenai Timur. Geografi bukan hanya menjadi akar dari kekhasan Timur, tapi sekaligus menjadi daya tarik Barat untuk membedakan, menempati, dan menguasai Timur, dengan dalih merawat, menjaga, membebaskan dan melindungi perkembangan Timur yang lemah dan terbelakang. Timur adalah sebuah ruang geografis yang menjadi objek pendefinisian Barat lewat khazanah sains, kesarjanaan, pemahaman dan administrasi Barat yang kemudian membentuk apa yang sekarang ini disebut Timur.

Ada dua metode yang digunakan Orientalisme untuk membawa Timur ke dalam amatan dunia Barat. Pertama, lewat persebaran kapasitas pembelajaran modern berikut aparatusnya seperti profesi, universitas, masyarakat profesional, organisasi eksplorasi dan geografikal serta industri penerbitan. Ini melibatkan prestise para sarjana, pelancong dan penyair pertama yang membentuk Timur esensial. Menurut Said, ini semua adalah manifestasi doktrinal dari “latent orientalism” yang memberikan para orientalis itu kapasitas “enunciative” untuk bicara dalam bahasa yang rasional mengenai Timur.

Kedua, lewat bertemunya pengetahuan orientalis dengan kekuasaan Barat. Orientalis adalah “agen khusus” kekuasaan Barat, “penasehat” yang memasok pengetahuan untuk penciptaan kebijakan kolonial di dunia jajahannya. “The discoveries of Westerner about the manifest and modern Orient acquired a pressing urgency as Westerner territorial acquisition in the Orient increased”, lanjut Said. Kolaborasi antara orientalis dan penguasa kolonial pada akhirnya mengafirmasi pandangan Foucault mengenai ketakterpisahan pengetahuan dan kekuasaan. Begitu pengetahuan tentang Timur diproduksi oleh para orientalis, ia langsung diafirmasi, diperkuat dan menjadi faktual oleh administrasi kolonial.

Dengan demikian, orientalisme dibentuk secara “latent” oleh kategori identitas yang bersifat oposisional: “kita” dan “mereka”. Kita adalah Eropa, kulit putih, yang dideskripsikan oleh para orientalis sendiri sebagai liberal, benar, ramah, terdidik, dan rasional. Di sisi yang lain, identitas ini diperkuat dan dibedakan oleh liyan mereka (their others) yang digambarkan sebagai terbelakang, primitif, bodoh dan seterusnya. Dengan label semacam itu, seolah-olah “only an Occidental could speak of Oriental, for example, just as it was the White Man who could designate and name the colored, or nonwhites”, demikian Edward W. Said melanjutkan paparannya, dimana keyakinan ini disokong dan diperkuat oleh sains atau diskursus.

Catatan:
[1] Edward Wadie Said adalah seorang filsuf perintis studi poskolonialisme, keturunan Palestina yang lahir tahun 1935, dibesarkan di Kairo, Mesir, mendapat pendidikan gaya Inggris, kemudian di Universitas Princeton dan Universitas Harvard. Dalam "Orientalism", Said, dengan meminjam pendekatan Michel Foucault dan Antonio Gramsci, membongkar cara pandang dunia Barat atas dunia Timur selama ini yang selalu dalam upaya penguasaan dan penindasan. 


Annemarie Schimmel, Islam, dan Prasangka Barat



Oleh Sulaiman Djaya (Sumber: Radar Banten, 6 Juli 2015)

Kita barangkali memang tak dapat menafikan bahwa dalam ranah dan hasrat politik Barat, diskursus humaniora dan saintifik acapkali “ada” demi kekuasaan itu sendiri, yang di sini contohnya adalah orientalisme, sebagaimana dipaparkan Edward W. Said dalam bukunya yang berjudul Orientalism yang diterbitkan pada tahun 1978 oleh penerbit Vintage Books itu, yang di sana banyak sekali disinggung bagaimana para orientalis menarasikan Islam dan Timur secara tidak adil, acapkali bertabur tuduhan dan prasangka yang tanpa bukti. Namun, belakangan ini, semakin banyak yang menulis tentang Islam dengan narasi yang simpatik dan menghadirkan diskursus Islam secara objektif bagi publik atau para pembaca, terutama sekali untuk para pembaca di Barat. Salah-satunya adalah Annemarie Schimmel.

Bagi kita dan kaum intelektual yang konsen pada kajian Islam, Schimmel masyhur sebagai Islamolog langka yang memandang sejarah Islam dengan kaca mata objektif dan perspektif yang adil, yang tidak teracuni ‘kebencian’ kaum orientalis lama. Dalam hal ini, menurut sebagian orang dan pakar, Annemarie Schimmel adalah orang yang cinta Islam, seorang pecinta yang telah rela berkorban demi cintanya.

Saat itu, ketika ia mengomentari doa-doa Islam, khususnya Shahifah Sajjadiyah (Kumpulan Munajatnya Imam Ali Zainal Abidin as Sajjad as), Annemarie Schimmel mengutarakan: “Saya selalu membaca doa-doa, hadits, dan sejarah Islam dari Bahasa Arab dan tidak pernah merujuk ke terjemahan apapun. Saya pernah menerjemahkan dan mencetak sebagian Shahifah Sajjadiyah ke dalam Bahasa Jerman”.

Sekitar 70 tahun lalu,” demikian paparnya, “ketika sedang menerjemahkan doa melihat hilal Bulan Ramadhan dan doa perpisahan dengan Bulan Ramadhan, ibuku terbaring di rumah sakit. Saya menemaninya. Setelah ibuku tertidur, saya duduk di sebuah pojok kamar dan menulis ulang terjemahan yang telah saya lakukan. Kamar ibuku memiliki dua ranjang. Di ranjang yang lain terbaring seorang wanita penganut Kristen Katholik yang sangat fanatik dan kuat akidahnya. Ketika melihat saya sedang menerjemahkan doa-doa Islam, ia serta merta memprotes saya: Memangnya kita memiliki kekurangan doa di agama Kristen dan Kitab Suci sehingga kamu memilih doa-doa Islam?

Setelah buku itu dicetak, saya mengirimkan satu naskah kepada wanita Kristen itu. Sebulan setelah itu, ia menelpon saya seraya berkata: “Saya sangat berterimah kasih atas hadiah buku itu. Setiap hari saya membaca buku itu sebagai ganti dari doa-doa (Kristen). Imam Zainal Abidin as Sajjad as bisa membuat solusi bagi mayoritas masyarakat Barat.” Dan yang sangat menarik, di atas batu nisan Annemarie Schimmel tertulis hadis Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as dengan khat Nasta’liq yang sangat indah: “Seluruh manusia tertidur pulas. Ketika ajal tiba, mereka baru sadar”.

Annemarie Schimmel lahir pada bulan April 1922 di kota Erfurt, Jerman (sebuah bangsa yang telah melahirkan banyak ilmuwan dan pujangga masyhur), dari sebuah keluarga tingkat menengah. Kegemarannya membaca kisah-kisah Arab dari sejak masa kecil telah menanamkan benih yang dapat menentukan jalan kehidupannya di masa mendatang. Demikian pula, pada usia 15 tahun, Annemarie Schimmel mempelajari Bahasa Arab dengan penuh semangat cinta, dan pada tahun 1956 telah berhasil menjadi dosen di Universitas Marburg, Jerman. Hanya saja, lantaran ia masih berusia muda, Annemarie Schimmel malah mengajar di Universitas Ankara dengan menggunakan Bahasa Turki, bukan Universitas Marburg. Selain Bahasa Arab, Turki, Persia, dan Urdu, ia juga menguasai mayoritas bahasa negara-negara Eropa.

Di tahun 1951, Annemarie Schimmel berhasil meraih gelar doktor dalam jurusan sejarah agama-agama, dan pada tahun 1961 dinobatkan sebagai dosen Universitas Bonn, Jerman. Annemarie Schimmel juga pernah mengajar di Harvard, Cambridge, dan perguruan-perguruan tinggi Turki, Iran, Pakistan, dan Afghanistan. Benazzir Bhutto (Perdana Menteri Pakistan) yang telah terbunuh merupakan salah satu mahasiswa orientalis ini. Singkatnya, ia telah mengenal banyak sumber Islam sekaligus jazirah dan kawasan-kawan kaum muslim.

Schimmel dan Rushdi
Berkat kerja keras dan dedikasinya yang tinggi tak kenal lelah itu, Schimmel telah memperoleh aneka hadiah berharga di sepanjang aktivitas ilmiah yang pernah digelutinya. Hadiah Perdamaian yang setiap tahun diberikan kepada para limuwan Jerman sebelum penyelenggaraan pameran internasional Frankfurt berhasil diraih olehnya pada tahun 1995. Setelah menerima Hadiah Perdamaian ini, seorang wartawan salah satu saluran televisi datang menjumpainya menanyakan pendapat Annemarie Schimmel tentang Salman Rushdi. Dan opininya sungguh membanggakan, di mana bertentangan dengan opini negara-negara Eropa kala itu yang memang disetir untuk mendiskreditkan Negara Islam, Schimmel membela Dunia Islam dengan berani dan menegaskan bahwa tulisan Salman Rushdi sangat dangkal dan ditulis hanya demi menggembirakan Barat.

Menurut Annemarie Schimmel, Salman Rushdi dengan bukunya yang buruk itu telah melukai perasaan seluruh Muslimin dan juga perasaan diri Annemarie Schimmel. Setelah wawancara televisi inilah para pembela Salman Rushdi menyerang wanita orientalis yang penuh tanggung jawab ini, yang salah-satunya adalah Ludger Lutkehaus yang menyerang wanita orientalis sejati ini melalui sebuah makalah di Koran Sued Deutsche Zeitung pada tanggal 11 Mei 1995. Setelah itu, seorang dosen di Universitas Hamburg melalui makalah di Koran Diezeit pada tanggal 12 Mei 1995 menuntut supaya Hadiah Perdamaian itu dicabut dari tangan Schimmel.

Begitu pun, dalam sebuah wawancara dengan Koran Der Spiegel pada tanggal 22 Mei 1995, Annemarie Schimmel mengaku, “Dengan menulis 80 buah buku, saya ingin menggambarkan sejarah Islam yang benar kepada masyarakat Eropa. Saya menilai hal ini adalah sebuah aktivitas politik. Saya telah mewakafkan seluruh umur saya guna mewujudkan kesepahaman antara Barat dan Timur.” Sekalipun serangan dan kritikan tersebut, Professor Stephan Field, Dekan Institut Sastra Universitas Bonn, memberikan pembelaan tegas. Roman Herzog mantan Presiden Jerman dalam acara peringatan hari wafat Annemarie Schimmel menyatakan: “Jika tidak ada Annemarie Schimmel, bangsa Jerman tidak akan pernah memahami Islam yang sebenarnya.”

Dan tentu saja, banyak karya tulis yang telah dipersembahkan oleh Annemarie Schimmel kepada Dunia Islam. Karya tulis terakhir yang ia tulis pada tahun 2002 mengupas kehidupan Rasulullah Saw. Di pembukaan buku ini, Schimmel menautkan sebuah puisi berbahasa Urdu dari seorang pemeluk Agama Hindu. Arti puisi ini adalah: “Mungkin saya kafir dan mungkin juga saya mukmin. Ilmu tentang semua ini berada di tangan Tuhan. Tetapi aku ingin menazarkan diriku sebagai seorang hamba yang bersih; nazar untuk seorang figur agung Muhammad Rasulullah.” Lantaran buku ini, Schimmel banyak memperoleh kritik pedas. Tapi ia hanya menjawab, “Saya hanya mencintai Muhammad.”

Sang intelektual, peneliti dan pejuang yang gigih dan tekun ini wafat pada tahun 2003 dalam usia lebih dari 80 tahun. Salah seorang dosen berkebangsaan Arab bernama Muhammad Abul Fadhl Badran di Universitas Bonn menulis: “Ketika menerima berita kewafatan Schimmel, saya ingat suatu hari ketika ia mengundang saya ke rumahnya, sebuah rumah yang penuh dengan tanda-tanda ketimuran dan Islami. Ketika Schimmel menyuguhkan teh dan kurma, saya bertanya kepadanya bagaimana ia bisa menanggung seluruh serangan media massa itu. Ia hanya tersenyum dan menjawab: Saya tidak pernah menggubris serangan-serangan media massa ini, karena mereka menulis semua itu lantaran kedengkian, dan orang dengki tidak akan pernah melihat keindahan. Saya menulis kebenaran dan hakikat. Saya sangat mencintai Dunia Islam dan hingga ajal tiba pun tetap akan mencintainya”. 

(Terjemah inskripsi Arab –Hadits Imam Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah- pada Nisan Schimmel: “Seluruh manusia tertidur pulas. Ketika ajal tiba, mereka baru sadar”)