Tampilkan postingan dengan label Profil Filsuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil Filsuf. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Juni 2016

Cinta dan Sophia


Plato bertanya kepada Sokrates: “Apa itu cinta? Bagaimana aku bisa menemukannya?” Sokrates menjawab: “Ada ladang gandum yang luas di depan sana. Berjalanlah kamu dan tidak boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta.”

Plato pun berjalan, dan tidak berapa lama kemudian, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apa pun. Sokrates bertanya: “Mengapa kamu tidak membawa satu pun ranting?” Plato menjawab: “Bukankah aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik). Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut.

Saat aku melanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwa ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatang pun pada akhirnya”. Mendengar jawaban Plato, Sokrates pun berujar: “Itulah cinta. Cinta adalah pemahaman yang terus-menerus harus dibangun dan diperjuangkan. Cinta harus dibuktikan, bukan dinyatakan”. 


HARAPAN
Pada tanggal 7 Desember 1998 di bagian utara Armenia, terjadi gempa dengan kekuatan 6,9 skala richter yang menghancurkan sebuah gedung sekolah diantara bangunan-bangunan lainnya. Di tengah keramaian dan suasana panik, seorang bapak berlari menuju ke sekolah tersebut, dimana anaknya bersekolah. Sambil berlari, ia terus teringat pada kata-kata yang sering ia ucapkan kepada anaknya itu, “Hai anakku, apapun yang terjadi, bapak akan selalu bersamamu!”

Sesampainya di tempat di mana sekolah itu dulunya berdiri, yang ia dapati hanyalah sebuah bukit tumpukan batu, kayu dan semen sisa dari gedung yang hancur total! Pertama-tama ia hanya berdiri saja di sana sambil menahan tangis. Namun kemudian, ia pergi ke bagian sekolah yang ia yakini adalah tempat ruang kelas anaknya. Dengan hanya menggunakan tangannya sendiri ia mulai menggali dan mengangkat batu-batu yang bertumpuk di sana. Ada seseorang yang sempat menegurnya, “Pak, itu tak ada gunanya lagi. Mereka semua pasti sudah mati.”

Bapak itu menjawab, “Kamu bisa berdiri saja di sana, atau kamu bisa membantu mengangkat batu-batu ini!” Maka orang itu dan beberapa orang lain ikut menolong, namun setelah beberapa jam mereka capek dan menyerah. Sebaliknya, si bapak tidak bisa berhenti memikirkan anaknya, maka ia menggali terus.

Dua jam telah berlalu, lalu lima jam, sepuluh jam, tigabelas jam, delapan belas jam. Saat itulah ia mendengar suatu suara dari bawah papan yang rubuh. Dia mengangkat sebagian dari papan itu, dan berteriak, “Armando!”, dan dari kegelapan di bawah itu terdengarlah suara kecil, “Papa!”. Kemudian terdengarlah suara anak-anak yang lain yang ternyata selamat, dan ikut berteriak saat itu.

Semua orang yang ada di sekitar reruntuhan itu, kebanyakan para orang tua dari murid-murid, terkejut sekaligus bersyukur saat menyaksikan dan mendengar teriakan mereka. Mereka menemukan 14 anak yang masih hidup itu! Pada saat Armando sudah selamat, dia membantu untuk menggali dan mengangkat batu-batu sampai teman-temannya sudah diselamatkan semua. Semua orang mendengarnya ketika ia berkata kepada teman-temannya itu, “Lihat, aku sudah bilang kan, bahwa Papaku pasti akan datang untuk menyelamatkan kita!” 


JODOH
Plato bertanya kepada Sokrates: “Bagaimanakah aku nanti akan menemukan jodohku?” Mendengar pertanyaan Plato tersebut, Sokrates malah meminta Plato untuk mencari sebuah pohon yang bagus untuk ditebang. Plato pun pergi ke sebuah hutan yang terdekat, sesuai permintaan Sokrates. Dia pun berjalan menyusuri hutan tersebut. Saat itu dia menemukan sebuah pohon yang sangat bagus menurutnya untuk ditebang sesuai saran Sokrates. Namun tiba-tiba dia mengurungkan niatnya.

Ia kembali menyusuri jalan setapak di tengah hutan, berharap menemukan kembali pohon yang lebih baik dari yang ia lihat sebelumnya. Namun setelah lama dia berjalan dan hampir keluar dari hutan, dia belum menemukan lagi pohon yang menurutnya lebih baik dari yang pertama. Tetapi ada sebuah pohon yang tidak jauh dari tempatnya berdiri saat itu yang tidak lebih baik dari yang pertama, tetapi menurutnya masih lebih baik untuk menebangnya saja daripada dia pulang tidak membawa apa-apa sesuai saran Sokrates. Kala itu ia berpikir bahwa dia tetap membutuhkan sebuah pohon yang harus ditebang untuk dibawanya pulang.

Setelah itu ia langsung pulang menemui Sokrates dengan membawa sebuah pohon yang telah ditebangnya. Melihat kedatangan Plato itu, Sokrates bertanya keheranan: “Apakah ini menurutmu pohon yang baik?” Plato menjawab: “Sebetulnya pada awalnya ada yang lebih baik tetapi saya lewatkan karena berharap menemukan yang lebih baik. Setelah saya jauh berjalan, saya menemukan pohon ini yang tidak lebih baik dari yang pertama.” Dengan tersenyum, Sokrates pun berkata: “Itulah jodoh. Bahwa jodoh akan kaudapatkan berdasarkan keputusanmu.” 


Jumat, 13 November 2015

Husain Pewaris Adam –Sketsa Biografis Ali Syari’ati



Kesadaran, kepekaan, keberanian berpikir, keluhuran jiwa serta kekuatan kalbu –semua ini adalah sifat-sifat agung manusia yang ditemukannya pada pribadi ‘Ain al-Quzat dan didambakannya sendiri. Dan dengan ketajaman rasanya dia sadar bahwa dia pun akan mengalami nasib seperti ‘Ain al-Quzat, mati dini dalam usia muda. Karena itu, tidak mengherankan, dia sudah siap menghadapi setiap kemungkinan dan tidak pernah gentar mengemukakan pendapatnya. Tetapi dia tahu, bahwa dalam masyarakat yang terdiri atas golongan tertindas dan terhina, dalam masa kejahilan, di tengah gurun kealpaan atau lebih tepat lagi, dalam masa di mana orang mengambil sikap melupakan dan mengabaikan kebenaran ―kesadaran dan kepekaan tidak lagi identik dengan keberanian berpikir dan kekuatan kalbu. Sebaliknya, mutu intelektualitas telah jadi identik dengan ambisi dan hasrat akan kedudukan. Keadaan ini justru menyebabkan penindasan dan penghinaan terhadap mereka yang sadar.

Dia (Ali Syari’ati), dengan senyum pahit, mengecam para intelektual yang tidak memiliki keberanian, bahkan malah turut serta dalam korupsi; mereka senantiasa menanti bingung di persimpangan jalan dan tidak berani maju menghadapi ujian karena takut gagal.

Baginya, jalan yang telah dipilihnya bukan merupakan “langkah pertama”, melainkan seluruh hidupnya. Sedangkan sikap bimbang ragu adalah sikap penghambaan intelektual, yang secara metaforis kita sebut sebagai “intelektualisme”.

Seluruh hidupnya yang singkat tetapi berarti telah digunakannya untuk berjuang secara berani, dan dengan segenap daya dan kemampuan menentang lawan pikiran dan kemanusiaan yang kawakan ini. 

Sementara itu, dia melancarkan perlawanan terhadap kebiasaan untuk menganggap sesuatu yang aktual sebagai hal yang normal dan wajar sehingga dirasakan tidak perlu menggantinya dengan yang ideal; terhadap pandangan bahwa hidup manusia adalah sia-sia dan tanpa arti; terhadap kedangkalan dan kesombongan; terhadap candu yang bukan saja telah merasuk sebagian terbesar umat, tetapi bahkan sekelompok pengawal agama tauhid, melenakan mereka dalam keadaan antara tidur dan jaga, dalam lamunan hampa dan telah menyelewengkan mereka dari jalan yang benar, yaitu jalan yang ditandai oleh jatuh-bangun ―jalan yang menuntut keyakinan serta hati-nurani yang waspada.

Dia melancarkan jihad terus-menerus terhadap kekejian zaman dan masyarakat kita, masyarakat yang telah layu akarnya. Maka untuk menyirami akar yang telah layu itu seruannya harus dikorbankan, termasuk hidup sendiri, dengan cara menjadi syahid!

“Aku tidak bisa tinggal diam dan tidak mengatakan sesuatu. Bila aku diam, rasanya aku bagaikan seorang yang sedang sekarat yang tahu bahwa kedamaian dan keselamatan sedang menantinya, yang telah jemu akan kesukaran hidup, yang tidak dapat berbuat lain terkecuali menanti sepanjang hayat...Tidakkah kau lihat betapa nikmat dan damainya kematian seorang syahid? Bagi mereka yang terbiasa akan rutin harian, kematian merupakan tragedi yang seram, penghentian yang dahsyat dari segalanya: lenyap dalam ketiadaan. Alangkah agungnya mereka yang memperhatikan amar yang menakjubkan ini dan mengamalkannya ― “Matilah sebelum engkau mati” (Kavir, hal. 55).

Setiap orang yang mengenal Dr. Syari’ati tahu benar bahwa mempelajari dan membaca karya serta buah pikirannya bukan saja bermanfaat tetapi juga bahwa cara hidupnya merupakan refleksi pandangan dunianya yang tepat dan mendalam, seberkas sinar yang memancar dari imannya. Berikut ini akan kami kemukakan sekadar garis besar saja, suatu sketsa kehidupan yang sarat dengan amal, kegiatan, keyakinan, cinta serta tanggungjawab ―kehidupan seorang manusia yang sadar dan penuh bakti. Atas penyajian kami yang kurang memadai ini kami mohon maaf kepadanya dan kepada sahabat-sahabatnya.

SKETSA HIDUP ALI SYARI’ATI
Sungguh, yang menjadi masalah baginya bukanlah hidup itu sendiri, melainkan bagaimana melangsungkannya dan apa tujuannya. Karena itulah sejak awal dia sudah bergulat untuk memberi bentuk dan arti bagi hidupnya. Selain itu dia pun menyadari benar, betapa berat amanah yang diwarisinya dari leluhurnya. Dia ingin memikul amanah itu sebaik-baiknya sampai ke tempat tujuan, dan sebagaimana tercatat dalam surat terakhirnya, sekejap pun dia tidak pernah menyia-nyiakan atau membiarkan waktunya berlalu tanpa manfaat dan hasil: 

“Berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, yang kasih ajaib-Nya menimbulkan malu dan perih dalam hatiku dan hampir membuat batinku guncang meledak, karena kukira aku tidak pantas untuk itu, telah kutempuh jalan itu sehingga aku tidak dapat membiarkan sekejap pun dari hidupku untuk kesenangan pribadi. Kiranya Allah melimpahkan kurnia pertolongan-Nya kepadaku dalam mengatasi kelemahanku, dan adakah nikmat yang lebih besar dari ini, bahwa hidupku yang tadinya tidak akan karuan, ditakdirkan harus begini?” (Dari surat terakhir Syari’ati kepada ayahandanya). 

Hidupnya tidak hanya untuk mendukung amanah yang diwarisinya dan leluhurnya, tetapi juga untuk menuntut kebenaran dan keadilan yang sepanjang sejarah di setiap zaman merupakan amanah mereka yang tertindas, terhina dan teraniaya, amanah yang telah dimanifestasikan sepenuhnya oleh Husain, pewaris Adam, beban yang telah dibawa oleh Zainab ke dalam istana Yazid di Damsyik (Damaskus, Suriah), beban yang semakin hari terasa semakin berat di pundak para pengabdi Allah.

Kesepian, keterasingan, kegagalan, kekecewaan dan penderitaan jelas terlihat di gurun itu berlumur darah; di angkatnya kepalanya di atas gelimang merah syuhada, dan tegak senyap, seorang diri (Husain Pewaris Adam, hal. 16-17). 

Dia meyakininya sebagai warisan filsafat dan iman Islam untuk membangun suatu kesinambungan yang terarah dan mengaliri aneka peristiwa yang telah, sedang dan akan terjadi di berbagai waktu dan tempat. Satu sama lain para syuhada itu dihubungkan oleh kesinambungan ini; mereka lahir dan mereka mati akibat suatu sebab logis dan hukum ilmiah; mereka saling meneruskan serta saling mempengaruhi; dan masing-masing menjadi mata rantai dari suatu rangkaian yang merentang sejak awal kemanusiaan, Adam, hingga berakhirnya sistem kontradiksi dan pertarungan di akhir zaman. Kesinambungan yang logis ini, gerakan maju yang pasti ini, dikenal sebagai sejarah. 

Tidak pernah sekejap pun dia melupakan amanah sejarah yang berat ini, yang diwarisinya dari leluhurnya dan menyinari seluruh hayatnya. Hidupnya bermula di gurun pasir dan berakhir pada saat dia menemukan ideologi historis dan sosial yang utuh, suatu risalah yang merupakan panduan intelektual bagi angkatan muda, suatu usaha menemukan kembali “jalan tengah” yang didambakan zaman kita. Secara sadar dia melangkah sepanjang garis nasib mereka yang menderita kepedihan zaman, maka bertambahlah seorang lagi bilangan para syuhada dalam sejarah ―Suatu esensi suci pantaslah menerima kurnia Allah; Tidak setiap batu dan bungkal bisa menjadi marjan dan mutiara. 

Tidaklah kebetulan, sebagaimana halnya banyak tokoh besar di bidang ilmu dan agama, hidup Syari’ati berakar di pedesaan. Dia benar-benar bangga akan leluhurnya, yang merupakan ulama-ulama terkemuka pada masa mereka, karena mereka telah memilih jalan hidup menyepi di gurun Kavir, menghindari hingar-bingar kehidupan kota. Marilah kita ikuti kata-katanya sendiri: 

“Lebih kurang delapan puluh lima tahun yang lalu, sebelum bermulanya Revolusi Konstitusional, kakekku belajar ilmu kalam, filsafat dan fiqh pada pamannya dari pihak ibu, Allamah Bahmanabadi, dan dia biasa terlihat dalam perdebatan filsafat dengan Hakim Asrar. Meskipun tinggalnya jauh dan terpencil di desa Bahmanabad dekat Mazinan, dia terkenal di kalangan terpelajar Teheran, Masyhad, Isfahan, Bukhara dan Najaf. Terutama di Teheran dia dianggap sebagai seorang genius, sehingga Nasiruddin Syah lalu mengundangnya ke ibukota. Di sana dia mengajar filsafat di madrasah Sipahsalar. Tetapi rupanya hasratnya untuk menyendiri dan menyepi menggetar kuat dalam kalbunya menariknya pulang kembali ke Bahmanabad. Padahal sebenarnya kedudukannya sudah mantap di ibukota, sehingga kalau mau dia bisa memperoleh jabatan, kekuasaan, menjadi tokoh masyarakat serta menikmati kemasyhuran dan pengaruhnya. Namun secara sadar semua itu ditinggalkannya”. 

Banyak yang diperoleh Syari’ati dari leluhurnya; dia belajar filsafat untuk tetap menjadi manusia di tengah-tengah kehidupan yang telah tercemar, di kala terasa sekali betapa sukarnya untuk tetap menjadi manusia, di kala seruan jihad perlu diulang setiap hari, dan di kala jihad tidak mungkin dilancarkan. 

“Akhund Hakim ialah kakekku dari pihak ibu. Alangkah mengasyikkan cerita mereka tentangnya kepadaku. Dari cerita-cerita inilah berasal perasaan yang dalam serta tanpa sadar di lubuk jiwaku...Seakan-akan dapat kulihat diriku hidup dalam dirinya limapuluh atau delapanpuluh tahun yang lalu...dan aku berterima kasih kepadanya karena apa adanya dan karena apa yang dilakukannya” (Kavir, hal. 9, dan seterusnya).

Pamannya dari pihak ibu pun merupakan salah seorang murid terkemuka dari ulama termasyhur, Adib Nisyapuri. Tetapi, setelah belajar fiqh, filsafat dan sastra, dia mengikuti jejak leluhurnya, kembali ke Mazinan. Syari’ati mengambil alih seluruh amanah kemanusiaan dan intelektual yang diwariskan leluhurnya. Dia merasa bahwa mereka tetap hidup dalam dirinya dan menerangi jalan yang ditempuhnya. Namun, ayahandanyalah yang sebenarnya menjadi guru ruhaninya yang utama. Maka jadilah sang anak refleksi yang benderang dari esensi ayahandanya.

“Ayahku merombak tradisi dan tidak pulang kembali ke desa setelah menyelesaikan pelajarannya. Dia tinggal di kota dan berjuang gigih mempertahankan dirinya dengan ilmu, cinta-kasih dan jihad di tengah-tengah gelimang noda kehidupan kota...Diriku adalah hasil keputusannya untuk tetap di kota, dan akulah satu-satunya yang mewarisi semua kekayaan yang ditinggalkannya, harta yang berupa kemiskinan...Akulah pendukung amanah kinasihnya yang teramat berat...(Kavir, hal. 19).

Terutama yang menjadi perhatiannya ialah untuk mengembalikan para remaja terpelajar modern kepada Iman dan Islam, menyelamatkan mereka dari materialisme, pemujaan terhadap Barat dan permusuhan rerhadap agama.

“Ide yang berkembang dalam beberapa tahun belakangan untuk mempergunakan Al-Quran sebagai sarana sentral dalam mengajarkan, mempelajari serta menyiarkan Islam dan Syi’ah, begitupun ide untuk mendirikan suatu sekolah khusus tafsir al-Quran terutama berasal dari dia” (Syari’ati, Menjawab Beberapa Soal, hal. 162). 

Kami menggarisbawahi pengaruh ayahnya atas diri Syari’ati, karena sebagaimana setiap orang yang mengenal cendekiawan yang berhati mulia ini kiranya bisa menyetujui ini akan membantu kita memahami berbagai dimensi kehidupan Syari’ati. Sekaligus itupun merupakan bukti, bahwa jika seorang genius dan cerdas ditempatkan di bawah asuhan seorang guru yang cakap, bila dia menerima pendidikan dalam kondisi yang memadai, maka dia akan mampu mematahkan batas-batas keawaman, menelanjangi zamannya sendiri. Dia tidak akan sekadar menjadi penerima, melainkan akan tumbuh menjadi sumber yang berwibawa; dia tidak akan pernah bersikap pasif, melainkan akan aktif senantiasa.

Mereka yang mengenal Syari’ati tua dan mengamati aneka dimensi kehidupannya, yaitu dimensi-dimensi kearifan, religius, sosial, politik serta manusiawinya, tahu betul akan pengabdiannya, ketekunannya, daya tahannya, kedalaman pengetahuannya. Mereka pun mengenal tulisan-tulisannya di bidang agama maupun di bidang filsafat, seperti: Khilafah dan Wilayah dalam al-Quran dan Sunnah; Wahyu dan Kenabian; ‘Ali, Saksi Risalah; Janji Agama-Agama; Guna dan Keperluan Agama; Ilmu Ekonomi Islam, dan terutama Tafsir Modern (Tafsir-i Nuvin)-nya. 

Akhirnya mereka tahu betul akan keberaniannya menentang semua anasir yang membekukan dan membunuh bakat, yang bahkan terdapat di universitas-universitas serta lingkungan Islam. Mereka menyadari peranannya yang penting dalam mengubah metode pendekatan terhadap masalah-masalah Islam dan dalam memilih metode penelitiannya yang tepat di zaman edan ini. Tidak banyak, dewasa ini, bapak dan anak semacam mereka.

“Ayahku membentuk dimensi-dimensi pertama batinku. Dialah yang mula-mula mengajarku seni berpikir dan seni menjadi manusia. Begitu ibu menyapihku, ayah memberikan kepadaku cita kemerdekaan, mobilitas, kesucian, ketekunan, keikhlasan serta kebebasan batin. Dia-lah yang memperkenalkan aku kepada sahabat-sahabatnya ― ialah buku-bukunya; mereka menjadi sahabat-sahabatku yang tetap dan karib sejak tahun-tahun permulaan sekolahku. Aku tumbuh dan dewasa dalam perpustakannya, yang merupakan keseluruhan hidupnya dan keluarganya. Banyak hal yang sebetulnya baru akan kupelajari kelak bila aku telah dewasa, melalui rangkaian pengalaman yang panjang serta harus kubayar dengan usaha dan perjuangan yang lama, tetapi ayahku telah menurunkannya kepadaku sejak masa kanak-kanak dan remajaku secara mudah dan spontan. Aku dapat mengingat kembali setiap bukunya, bahkan bentuk sampulnya. Teramatlah cintaku akan ruang yang baik dan suci itu; bagiku ia merupakan sari masa lampauku yang manis, indah, tetapi jauh” (Ali Syari’ati, Menjawab Beberapa Soal, hal. 89). 

Tetapi mereka yang genius dan berbakat selalu mematah batas lingkungan dan menelanjangi zamannya. Seorang genius selalu menganggap kaidah-kaidah yang ada sekadar sebagai titik-tolak untuk lompatan kreatif ke depan. Tidak pernah ia membiarkan diri dikungkung dan dikekang oleh lingkungannya. Syari’ati menyadari benar akan batasan lingkungannya maupun tentang bentuk-bentuk tradisional di sekitarnya. Namun ia tidak akan menyerah. Bahkan ia telah bertekad untuk mengatasi semua itu, mengarahkannya sesuai dengan keyakinannya. Dan ia berhasil. Ia mengajar sambil belajar, dan berkembang secara intelektual dalam berbagai hal sehingga setiap orang tahu bahwa ia telah melangkah melampaui batas lingkungan dan zamannya. 

Bakat, lingkungan yang sesuai dan terutama keyakinan akan kebenaran Islam, bergabung dengan keikhlasan pemikiran dan sikap intelektual dan personal, semua itu telah dimanfaatkan Syari’ati sebaik-baiknya demi cita-citanya yang luhur. Berikut adalah catatannya tentang lingkungan dan pendidikannya. 

“Alangkah besar berkas yang dikurniakan dalam hidupku. Tidak mungkin aku menilainya. Tidak seorang pun yang seberuntungku dalam hidup ini. Nasib telah mempertemukan aku dengan pribadi, pribadi yang luar-biasa, besar, indah, bersemangat serta kreatif, rasanya mereka berada dalam diriku. Bahkan sekarang pun bisa kuhayati kehadiran mereka di dalam diriku, dan aku hidup melalui mereka dan dalam mereka...(Kavir, hal. 88)

Sebagaimana halnya dengan pribadi-pribadi besar yang pernah menjadi gurunya, maupun orang lain yang telah menggairahkan zikir dan jihad kepadanya, begitu juga berbagai aspek ajaran Islam yang menjadi sumber inspirasi dan cita-citanya, hidupnya selalu dalam keadaan tafakkur, bergerak dan tanggung-jawab, berjuang demi kesempurnaan dan keabadian. Namun hidupnya tidak pernah merusak hubungannya dengan lingkungannya semula maupun keluarganya dan tidak pernah ia melupakan gurun Kavir. Setiap kali orang menyebut Mazinan memancarkan senyum bahagia pada wajahnya. 

Masa kanak-kanak dan remajanya biasa saja, tidak berbeda dengan siswa lainnya. Ia sekolah, turut ujian, setiap tahun naik kelas, mula-mula di sekolah dasar lalu di sekolah lanjutan. Sementara itu ia pun sibuk belajar bahasa Arab dan ilmu-ilmu agama. Setamat sekolah lanjutan atas, karena senang akan profesi guru, ia masuk ke sekolah keguruan yang waktu itu merupakan lembaga yang harum dan penting, mempersiapkan mereka, yang karena suatu dan lain hal tidak bisa masuk ke universitas, untuk menjadi guru. Waktu itulah ia memulai kariernya sebagai penulis dengan karya-karyanya antara lain Pendidikan Tengah (Maktab-e Wasita), mengenai filsafat sejarah. Ia pun menyampaikan ceramah-ceramah di hadapan para mahasiswa dan intelektual di Pusat Dakwah Islam di Masyhad. 

Yang terutama membentuk dan mempengaruhi jalan pikirannya bukanlah program studinya yang konvensional. Juga bukan pendidikan tingginya di luar negeri. Melainkan kegemarannya untuk belajar dan berpikir, serta kreativitas dan tanggung-jawab yang berasal dari keyakinan Islamnya yang teguh. Begitu pun dari lingkungan pertamanya, yang senantiasa menjadi sumber petunjuk baginya. Pusat Dakwah Islam di Masyhad, yang selama tigapuluh tahun menjadi pusat kegiatan intelektual Muslim di kota itu, banyak berjasa kepadanya. Sebaliknya ia pun berperanan besar dalam kegiatan-kegiatan pusat dakwah itu dengan memberikan ceramah-ceramah, menjawab pertanyaan-pertanyaan, dan memimpin pertemuan-pertemuan.

Sejak dari mula, ia sangat gemar menulis dan memberi ceramah sebagai sarana pengembangan intelektual dan pendalaman iman. Apalagi ia memang memiliki kelancaran lisan dan ketajaman tulisan. Dengan bahasa-bahasa Prancis dan Arabnya, bahkan sejak sebelum ia masuk universitas, ia telah mampu menerjemahkan buku-buku dari bahasa-bahasa itu. Buku terjemahannya tentang Abu Dzarr al-Ghaffari dari bahasa Arab, dan sebuah buku tentang doa dari bahasa Prancis ― keduanya merupakan kenang-kenangan masa pra-universitasnya ― membuktikan keluasan pikiran dan ruang lingkup usahanya di masa itu. Lagi pula, kata pengantarnya yang jelas, lancar pada kedua terjemahan itu, menunjukkan arah dan kejernihan pemikiran ilmiahnya.

Dalam pandangannya, Islam bisa dianggap sebagai aliran tengah di antara berbagai aliran filsafat, sebagai jembatan antara sosialisme dan kapitalisme. Islam mencakup kebaikan dan segi-segi positif aliran-aliran pikiran lain dan sebaliknya menghindarkan segi-segi negatifnya.

Namun, ia sangat menaruh perhatian pada gerakan-gerakan ideologis dan anti imperialis yang ketika itu sedang melanda dunia Islam, dari Afrika Utara hingga Indonesia, serta mengisyaratkan aksi yang Luas menyeluruh. Terjemahannya tentang Abu Dzarr maupun tentang doa yang kecil tetapi bernas itu, keduanya merupakan hasil karya remajanya, telah menariknya kepada sumber-sumber Islam yang murni lagi suci serta merupakan tafsir sosialnya yang pertama tentang kehidupan Rasul maupun tokoh-tokoh Islam lainnya. Jelas sekali pengaruh Rasul serta tokoh-tokoh tersebut atas pribadi Syari’ati. 

Pada tahun 1956, Fakultas Sastra didirikan di Masyhad, dan Syari’ati bisa meneruskan studinya sambil bekerja sebagai guru, ia termasuk mahasiswa pertama yang terdaftar di fakultas itu. Di sini benturan-benturan pendapat dengan guru-gurunya semakin mendorongnya untuk lebih memperkembangkan jalan pikiran pilihannya sendiri. Di kelas maupun dalam kuliah yang dihadirinya ia selalu berperan aktif, tidak pernah tinggal pasif sebagaimana kebanyakan mahasiswa. Kesempatannya yang baru ini, untuk belajar, merenung, meneliti dan diskusi, ternyata telah menumbuhkan minatnya dalam sejarah agama, sejarah Islam dan filsafat sejarah. Ia mempertanyakan pelbagai hal, terutama tentang filsafat sejarah Toynbee, yang banyak ditentangnya. 

Kebebasan pikir dan keyakinannya terbukti dari tekadnya membela kebenaran dan keadilan serta perhatiannya yang khusus atas peristiwa-peristiwa keagamaan, sosial maupun politik yang menyangkut nasib rakyat. Meskipun di kala itu suasana bisu mencekam di mana-mana, namun tanpa gentar ia melibatkan diri dalam pertarungan dan pertentangan sosial, dalam perjuangan antara hak dan batal. Karena pidato-pidato, tulisan-tulisan serta kegiatan-kegiatan perlawanannya, maka pemerintah mengawasinya.

Tidak pernah ia bisa tinggal diam serta menerima keseimbangan negatif yang sudah mapan dalam masyarakat. Secara serentak ia berjuang menghadapi dua front. Ia menentang kelompok tradisionalis ekstrem yang telah membungkus diri mereka sendiri, memisahkan Islam dari masyarakat, mengucilkan diri di sudut-sudut masjid dan madrasah serta melancarkan reaksi negatif terhadap gerakan intelektual dalam masyarakat. Mereka telah menyelubungi cahaya Islam dengan tabir gelap dan berkurung diri di dalamnya. Ia pun menentang kelompok intelektual tanpa akar dan prakarsa yang berlindung di belakang skolastisisme baru. Kedua kelompok itu telah memutuskan hubungan mereka dengan masyarakat dan massa rakyat. Kepala mereka tunduk pada korupsi dan dekadensi zaman modern.


Sumber Bahasa Indonesia: Ali Syari’ati, Paradigma Kaum Tertindas (Sebuah Kajian Sosiologi Islam), Penerjemah Saifullah Mahyudin dan Husen Hashem, Penerbit Al-Huda Muharram 1422/April 2001.

Kamis, 16 Juli 2015

Tiga Usia Jacques Derrida




Oleh KRISTINE MCKENNA

Ketika orang-orang membicarakan intelektual Prancis gila dan seorang superstar esoteris, ketika mereka tersandung oleh kata dekonstruksionisme di Entertainment Weekly dan bertanya-tanya apa kira-kira artinya, ketika para mahasiswa di seluruh dunia dipaksa untuk memahami apa artinya—seperti yang sudah mereka lakukan selama 20 tahun ini, maka semuanya mesti dikembalikan kepada Jacques Derrida.

Derrida, salah satu figur intelektual paling berpengaruh pada seperempat abad terakhir, adalah Bapak Dekonstruksionisme, sebuah sistem analisis kontroversial, yang dirancang untuk membongkar bahasa dan membuka bias dan kesalahan-kesalahan asumsi yang melekat di dalamnya. Berakar pada keyakinan bahwa bahasa memuat hal-hal yang tak bisa atau dihalangi untuk mencapai kesadarannya yang penuh, Dekonstruksionisme merupakan sebuah metodologi lentur yang bisa diterapkan pada tiap-tiap dan semua teks—dan memang, dampaknya pada kritik sastra setara, jika tidak lebih besar, dari jejak yang ditinggalkannya pada wacana filsafat.

Lahir pada 1930 dalam keluarga Yahudi Sefardis [pengikut tradisi dan kebiasaan kaum Yahudi yang menetap di Spanyol dan Portugal pada akhir abad ke-15] di Aljazair, Derrida muda mempertanyakan prasangka intelektual pada usia 10 tahun, ketika Aljazair dikendalikan oleh rezim Vichy dukungan Prancis. Dia dikeluarkan dari sekolah setelah sebelumnya seorang guru memberitahunya bahwa, “kebudayaan Prancis tak dibuat untuk anak Yahudi”. Dia lalu dikenal sebagai murid pengganggu dan berkepala batu, dan pada usia 19 tahun dia pindah ke Paris untuk belajar filsafat di École Normale Supérieure. Di sanalah dia bertemu Marguerite Aucouturier, seorang psikoanalis, yang dinikahinya pada 1957. Belajar di sana dari 1952 hingga 1956, fokus Derrida terutama adalah pada karya-karya filsuf Jerman Edmund Husserl dan Martin Heidegger, dan tulisan-tulisannya tentang mereka membuatnya memperoleh beasiswa ke Harvard pada 1956. Dia kembali ke Paris pada 1960 untuk mengajar filsafat di Sorbonne, dan 2 tahun kemudian menyatakan kemerdekaannya sebagai filsuf dengan menerjemahkan karya Husserl, Origin of Geometry, dengan memberinya kata pengantar sangat panjang yang membuat esai Husserl jadi tampak tak seberapa. Pada 1967 dia menerbitkan gagasan pokoknya dalam 3 buku yang terus dibicarakan hingga kini—Speech and Phenomena, Writing and Difference, dan Of Grammatology—yang membawanya ke pusat wacana filsafat. Derrida, yang telah menulis 45 buku dan telah diterjemahkan ke dalam 22 bahasa, diangkat menjadi profesor tamu di University of California at Irvine pada 1986. Satu kebijakan besar dibuat universitas, yaitu memulai proyek arsip Derrida pada 1990.

Derrida berbicara dengan saya di kantornya yang sederhana di Irvine. Mengingat karya-karyanya yang ambisius dan tak kenal takut, mengejutkan bahwa ternyata dia orang yang gampang ditemui, dan gagasan-gagasannya lebih tak menciutkan nyali ketika dibicarakan ketimbang dituliskan. Dia orang yang sangat hangat, dan kharismanya muncul jelas di sepanjang bagian Derrida, sebuah film dokumenter arahan Kirby Dick dan Amy Ziering Kofman yang diluncurkan minggu ini.

Mengapa Anda setuju tampil dalam film ‘Derrida’?

Saya tak serta-merta setuju. Saya mesti mulai dengan berusaha keras menerima ketidaknyamanan yang saya rasakan tentang gambar saya di foto-foto. Saya berhasil melewati hampir 20 tahun tanpa satu pun kemunculan foto diri saya dalam hubungannya dengan buku-buku saya, dan ada dua alasan untuk itu. Pertama, saya punya apa yang mungkin Anda sebut sebagai penolakan ideologis atas fotografi konvesional—potret wajah, gambar seorang penulis dengan meja kerjanya—karena hal itu seperti sebuah konsesi untuk penjualan atau untuk media. Alasan yang kedua adalah bahwa saya selalu mempunyai hubungan yang sulit dengan tubuh dan gambar saya sendiri. Sulit buat saya melihat diri saya sendiri pada foto. Jadi selama 20 tahun saya memberi ijin kepada diri saya sendiri untuk menghapus gambar saya dengan alasan politis. Dekade terakhir ini menjadi lebih sulit, karena saya terus-menerus tampil di ruang publik pada konferensi yang dihadiri wartawan, kebanyakan dari mereka mengambil gambar saya. Akhirnya ini jadi tak mungkin dikendalikan, dan kemudian saya merasa tiba waktunya untuk mengalahkan penolakan ini, akhirnya saya membiarkannya. Dan saya mesti bilang, saya tekejut dengan keberhasilan film itu dalam memadukan kehidupan sehari-hari keluarga yang bersifat privat dengan hal-hal yang kurang privat—perjalanan yang saya lakukan ke Afrika Selatan selama masa pembuatan film, umpamanya—dan refleksi tentang subjek-subjek besar. Film itu tetap pada jalur tersebut, dan bertanya tentang biografi penulis. Apakah seorang filsuf mesti punya biografi?

Bagaimana mungkin seorang filsuf tak punya biografi?

Tentu dia punya biografi, tetapi pertanyaan yang saya ajukan adalah apakah kita mesti menerbitkannya. Haruskah dia menceritakan biografinya sendiri? Haruskah dia memberikan hidupnya kepada publik dan ditafsirkan?

Bagaimana Anda memisahkan tulisan seorang filsuf dengan hidupnya?

Saya tak tahu apakah itu bisa, tetapi kebanyakan filsuf klasik telah berusaha memisahkannya, dan beberapa di antara mereka berhasil. Jika Anda membaca teks-teks dalam tradisi filfasat, Anda akan tahu bahwa mereka hampir tak pernah bilang “Aku”, dan tak berbicara sebagai orang pertama. Sejak Aristoteles hingga Heidegger, mereka berusaha menganggap hidup mereka pribadi sebagai sesuatu yang berada di pinggiran atau sesuatu yang kebetulan. Yang esensial adalah pengajaran dan pemikiran mereka. Biografi merupakan sesuatu yang empiris dan berada di luar, dan dianggap sebagai sebuah kebetulan yang tak punya hubungan esensial dan perlu dengan sistem atau aktivitas filosofis.

Di film itu Anda ditanya: Jika Anda bisa berbicara dengan filsuf yang Anda kagumi dalam semua hal, hal apa yang ingin Anda dengar? Anda menjawab, “Kehidupan seks mereka, karena itu adalah hal yang tak mereka bicarakan”. Tetapi ketika pewawancara bertanya tentang kehidupan seks Anda sendiri, Anda menolak menjawab. Mengapa wilayah ini tak terjamah?

Saya menolak menjawab pertanyaan bukan karena saya pikir itu adalah hal yang mesti disembunyikan, tetapi karena saya tak mau membuka aspek paling personal dari kehidupan saya sembari bergaya di depan kamera dan berbicara dengan bahasa asing. Jika saya membicarakan hal semacam itu, saya lebih memilih mempertajam alat-alat saya—tulisan saya. Jika Anda membaca saya, Anda akan menemukan banyak teks dimana saya membicarakan pertanyaan-pertanyaan ini dengan cara saya. Glas [1974], The Post Card: From Socrates to Freud and Beyond [1980], dan Circumfession [1991] adalah karya-karya biografis, dan kehidupan serta hasrat-hasrat saya tertulis dalam semua karya saya.

Bisakah Anda mengingat momen ketika menyadari bahwa Tuhan, sebagaimana kata itu dipahami secara konvensional, adalah sebuah gagasan yang tak bisa Anda rengkuh?

Untuk mendiskusikan hal ini kita mesti berpegang pada definisi tertentu tentang tuhan—yaitu sebagai kata yang dipahami secara konvensional. Tetapi, ya, saya bisa mengingatnya. Waktu kecil, saya secara berkala dibawa ke sebuah sinagog di Aljazair, dan itu adalah salah satu aspek Yudaisme yang saya suka—umpampanya musiknya. Namun kemudian, sebagai remaja saya mulai melawan agama, tidak atas nama atheisme, tetapi karena saya menyadari bahwa agama seperti yang dijalankan dalam keluarga saya penuh dengan kesalahan pemahaman. Ia membuat saya tak berpikir, sekedar melakukan pengulangan-pengulangan buta, dan khususnya ada satu hal yang menurut saya tak bisa diterima, yaitu hilangnya penghormatan. Rasa hormat dalam membawa dan membaca Torah diperjual-belikan di Sinagog, dan menurut saya itu sangat buruk.

Lalu ketika saya berumur 13 tahun, saya membaca Nietzche untuk pertama kali, dan saya pikir saya tak sepenuhnya memahami dia, dia memikat saya. Buku harian saya kemudian dipenuhi kutipan dari Nietzche dan Rousseau—dewa saya lainnya pada waktu itu. Nietzche bertujuan menjatuhkan Rousseau, tetapi saya menyukai keduanya dan bertanya-tanya, bagaimana saya bisa mendamaikan keduanya dalam diri saya?

Heidegger mengatakan, dalam sebuah wawancara sesaat sesudah Perang Dunia II, yang dia minta tak diterbitkan hingga kematiannya pada 1976, “Filsafat sesudah Nietzsche tak dapat menawarkan pertolongan dan harapan bagi masa depan umat manusia. Yang bisa kita lakukan hanya menunggu kehadiran kembali Tuhan. Hanya Tuhan yang bisa menyelamatkan kita sekarang”. Anda setuju?

Saya tak akan menggunakan istilah “tuhan”, tetapi yang menarik buat saya dalam pernyataan ini adalah tentang Heidegger yang anti-religius. Ia dibesarkan sebagai seorang Katolik, tetapi dia mati-matian menolak Kristianitas, jadi tuhan yang dia tunjuk bukanlah tuhan yang kita tahu. Dia menunjuk tuhan yang bukan hanya belum lagi datang, tetapi mungkin juga tuhan yang tidak eksis. Dia menamai tuhan untuk menyebut sesuatu yang diharapkan, dan mengiaskan bahwa sesuatu yang akan datang dan menyelamatkan kita akan kita beri nama tuhan. Saya tak setuju dengan pernyataan ini jika ia mendorong harapan akan keselamatan. Tetapi jika pernyataan itu berarti kita tengah menunggu kedatangan sesuatu yang tak terduga, dan bahwa kita mesti bersabar menunggu kedatangannya, maka saya tak berkeberatan. Ini adalah sesuatu yang saya sebut sebagai mesianitas tanpa mesianisme (messianicity without messianism), dan manusia sesungguhnya bersifat mesianis. Kita tak bisa tidak begitu, karena kita eksis dalam sebuah keadaan mengharapkan sesuatu akan terjadi. Meski kita tengah berada dalam sebuah keadaan hampa harapan, dorongan akan pengharapan merupakan bagian tak terpisahkan dari hubungan kita dengan waktu. Hampa harapan hanya mungkin karena kita berharap bahwa sejumlah kebaikan atau seseorang yang kita cintai akan datang. Jika itu yang dimaksudkan Heidegger, maka saya setuju dengannya.

Apakah Anda takut mati di masa kanak-kanak, selama berlangsungnya Perang Dunia II?

Tidak. Masa perang adalah pengalaman yang sulit bagi saya, tetapi itu tak bisa dibandingkan dengan apa yang dialami orang-orang Yahudi di Eropa. Ada anti-Semitisme yang sangat buruk di Aljazair, tapi di sana tak ada Jerman, tak ada kamp konsentrasi, tak ada deportasi Yahudi besar-besaran. Tetapi trauma itu tetap ada. Ketika Anda dikeluarkan dari sekolah tanpa tahu kenapa, itu menandai Anda.

Dalam buku Ron Rosenbaum yang terbit 1998, Explaining Hitler, ia menyatakan bahwa korban terbesar Hitler adalah pemaknaan atas Holocaust itu sendiri, karena makna koheren tak dapat ditemukan pada Holocaust. Anda setuju?

Saya akan sangat hati-hati di sini. Saya tahu ada beberapa filsuf yang berpikir bahwa hal yang benar-benar baru dalam pembantaian Holocaust adalah bahwa di sana tak ada struktur pengorbanan (sacrificial structure). Ia sangat dingin, rasional, industrial, dan tak diberi makna pengorbanan (sacrificial meaning). Saya tak yakin bahwa itu benar. Saya tak siap menjawab pertanyaan itu tanpa memikirkannya dengan lebih mendalam.

Apa pertanyaan pokok filsafat yang mesti dijawab?

Pertama-tama, bagaimana menangani hidup manusia dan bagaimana hidup bersama secara baik—ini juga soal politik. Soal inilah yang dibahas dalam filasafat Yunani, dan sejak awal filsafat dan politik sangat berkaitan satu sama lain. Kita adalah mahluk hidup yang punya kemampuan untuk mengubah hidup, dan kita menempatkan diri kita di atas binatang-binatang lainnya. Saya bersikap kritis terhadap pertanyaan tentang binatang dan bagaimana ia dibicarakan dalam filsafat, tapi itu soal lain. Hingga kini kita berpikir bahwa kita bukan hewan dan kita punya kemampuan untuk mengatur kehidupan kita. Filsafat mengajukan pertanyaan: Apa yang harus kita lakukan untuk memperoleh kehidupan terbaik yang paling mungkin? Saya khawatir bahwa kita tak membuat banyak kemajuan dalam menjawab pertanyaan itu.

Apa perbedaan antara pengetahuan dan kebijaksanaan?

Pengetahuan dan kebijaksanaan tidak sejajar. Anda bisa tahu banyak hal dan tak punya kebijaksanaan sama sekali. Diantara pengetahuan dan tindakan terdapat sebuah jurang, tetapi jurang itu tak seharusnya menghalangi kita untuk berusaha tahu sebanyak mungkin yang kita bisa sebelum kita mengambil keputusan. Filsafat adalah cinta akan kebijaksanaan. Philia itu cinta, dan Sophia itu kebijaksanaan. Jadi tugas menuju kebijaksaan, itulah filsafat. Meski begitu, keputusan tidak hanya tergantung pada pengetahuan. Saya berusaha tahu sebanyak mungkin yang saya bisa sebelum mengambil sebuah keputusan, tetapi saya tahu pada momen mengambil keputusan itu saya melakukan sebuah lompatan melampau pengetahuan.

Apakah mencapai sebuah pemahaman, seperti yang Anda jelaskan pada buku Anda yang terbit pada 1976, membawa Anda kepada kebahagiaan yang lebih besar?

Saya tak akan bilang itu membuat saya lebih bahagia, tetapi ia memberi saya kekuatan untuk berjalan terus. Saya menjalani suatu hidup yang sangat aktif dan melelahkan, dan jika seseorang mengatakan kepada saya, ketika saya berumur 20 tahun, bahwa saya akan mengerjakan apa yang saya kerjakan sekarang pada usia 72 tahun, saya tak akan mempercayainya. Secara fisik saya pasti lebih rentan, dan saya akan ambruk oleh banyaknya pekerjaan saya sekarang. Manakala karya-karya saya dibaca, itulah yang memberi saya kekuatan seperti sekarang ini. Orang-orang begitu baik dengan saya dan karya-karya saya, dan saya yakin, tanpa kebaikan itu, saya akan ambruk.

Kenapa tak ada filsuf perempuan?

Karena wacana filsafat diatur dengan cara meminggirkan, menekan, dan membungkam perempuan, anak-anak, binatang, dan budak. Begitulah strukturnya—bodoh sekali jika kita mengabaikannya—dan konsekuensi dari hal itu adalah tidak ada fillsuf besar perempuan. Ada pemikir besar perempuan, tetapi filsafat adalah salah satu langgam khusus pemikiran diantara langgam pemikiran lainnya. Tetapi kita tengah berada pada tahap sejarah di mana hal-hal semacam ini berubah.

Apakah Anda akan menyebut diri Anda seorang feminis?

Ini satu masalah besar, tapi, ya. Banyak karya saya berkaitan dengan dekonstruksi falosentrisme, dan jika saya mesti mengatakan tentang diri saya, saya adalah salah satu orang yang pertama membawa pertanyaan ini ke pokok wacana filsafat. Tentu saja saya ingin penindasan atas perempuan berakhir, khususnya yang diabadikan dalam dasar-dasar filsafat falosentrisme, jadi dari sisi itu saya adalah sekutu kebudayaan feminin. Tetapi hal itu tidak mencegah saya untuk meragukan sebagian manifestasi feminisme. Sekedar menantang hirarki, atau bagi perempuan berarti sekedar mencocokkan diri dengan aspek-aspek paling negatif dari apa yang secara konvensional dipandang sebagai perilaku maskulin, tidak akan bermanfaat bagi siapapun.

Kesalahpahaman apa yang paling sering terjadi menyangkut Anda dan karya-karya Anda?

Bahwa saya disebut sebagai seorang nihilis yang tak percaya pada apapun, yang berpikir bahwa tak ada apapun yang bermakna. Itu tolol dan sepenuhnya keliru, dan hanya orang-orang yang tak pernah membaca karya saya yang berkata begitu. Ini adalah pembacaan keliru atas karya saya yang bermula 35 tahun lalu, dan sulit untuk menghancurkannya. Saya tak pernah mengatakan bahwa segala sesuatu merupakan persoalan bahasa dan kita hanya hidup dalam bahasa. Sesungguhnya, saya berkata sebaliknya, dan dekonstruksi logosentrisme disusun tepat untuk membongkar filsafat yang mengatakan bahwa segala sesuatu adalah bahasa. Siapapun yang membaca karya saya dengan hati-hati, memahami bahwa saya menuntut afirmasi dan keyakinan, dan bahwa saya selalu menghormati teks-teks yang saya baca.

Dengan pemahaman yang memadai tentang Yang Lain (the Other), bisakah dorongan membunuh dihapuskan?

Dorongan untuk membunuh tak akan pernah bisa dihapus, karena ia merupakan bagian dari insting manusia. Manusia punya kemampuan untuk menjadi buas, dan membuat penderitaan bagi Yang Lain (the Other) bisa merupakan satu sumber kesenangan. Bahwa ia tak bisa dihilangkan, itu tidak berarti bahwa kita punya hak untuk membunuh—dan ini merupakan salah satu fungsi penting filsafat dan berpikir, yaitu menangani dorongan besar ini. Kebuasan dan agresi selalu ada, tetapi ia bisa diubah menjadi sesuatu yang indah dan sublim. Ketika saya menulis, di sana terdapat unsur agresi, tetapi saya berusaha mengubahnya menjadi sesuatu yang berguna. Agresi bisa diubah menjadi sesuatu yang lebih menarik ketimbang membunuh—dan tentu saja, Anda bisa membunuh tanpa membunuh. Saya bisa membunuh Yang Lain (the Other) tanpa mengakhiri hidupnya, dan saya bisa menjadi agresif dengan cara tak tercela.

Konsep wilayah (territory) dan kepemilikan (ownership) tampaknya merupakan akar dari banyak konflik manusia; darimana gagasan ini berasal, dan mengapa kita terikat kepadanya?

Selama berabad-abad kota merupakan pusat perdagangan yang penting, tetapi ketika teknologi baru sudah bukan lagi masalah dan kota telah dikuasai politik, maka ini jadi berbeda. Tetapi tempat itu tetap penting. Teman saya baru-baru ini bilang bahwa ada dua hal sekarang ini yang tak akan bisa di-deteritorialisasi-kan atau divirtualkan, yaitu Yerusalem—tak ada yang mau Yerusalem virtual, mereka ingin tanah sungguhan—dan minyak. Negara kapitalistis hidup dengan minyak, dan meskipun ini bisa berubah, seluruh masyarakat akan hancur jika itu terjadi. Ini lebih merupakan masalah di Amerika ketimbang Eropa, tetapi kita berbagi keprihatinan yang sama. Segala sesuatu selalu lebih di Amerika, dengan alasan-alasan yang nyata.

Apakah masa lalu merupakan sumber penderitaan dan kesenangan bagi manusia?

Ini berbeda dari satu orang ke yang lain, tetapi saya beruntung bahwa saya punya hubungan yang menyenangkan dengan masa lalu—saya bahkan menyimpan kenangan indah akan bagian sulit dari hidup saya, yang saya tahu sangatlah buruk. Saya ingin mengulang hidup saya, dan akan menerima semuanya berulang tanpa akhir, persis sama seperti ketika itu dulu terjadi. Sebuah pengulangan abadi.

Apa yang penting untuk Anda sekarang?

Bagaimana saya bisa menjawab pertanyaan macam itu? Banyak hal pribadi, publik dan politis penting buat saya, tetapi saya memikirkan semua hal itu dengan sebuah keasadaran terus-menerus bahwa saya bertambah tua, saya akan mati, dan hidup itu pendek. Saya terus-menerus memperhatikan waktu yang tersisa untuk saya, dan walau saya telah berpikir begini sejak muda, ini menjadi hal yang lebih serius ketika Anda berumur 72 tahun. Sejauh ini saya belum berdamai dengan kematian yang terelakkan, dan saya ragu apakah saya akan berdamai, dan kesadaran ini menyebar kepada segala hal yang saya pikirkan. Apa yang terjadi di dunia sekarang ini sungguh-sunguh buruk, dan semua ini ada dalam pikiran saya, tetapi mereka eksis berdampingan dengan teror akan kematian saya sendiri.

Kapan Anda menjadi seorang dewasa?

Ini pertanyaan menjebak. Saya selalu percaya bahwa setiap orang punya lebih dari satu usia, dan saya menyandang tiga usia di dalam diri saya. Ketika saya berumur 20 tahun saya merasa tua dan bijaksana, tapi sekarang saya merasa seperti anak-anak. Ada sebuah unsur kesedihan tentang hal ini, karena meski dalam hati saya merasa muda, saya tahu secara objektif bahwa saya tidak muda. Usia kedua yang saya sandang adalah usia saya yang nyata, 72 tahun, dan setiap hari saya dihadapkan pada tanda-tanda yang mengingatkan saya akan hal itu. Usia ketiga yang saya sandang—dan ini adalah sesuatu yang hanya saya rasakan di Prancis—adalah usia ketika saya mulai menerbitkan tulisan saya, yaitu 35 tahun. Seolah saya berhenti pada usia 35 tahun di dunia kultural di mana saya bekerja. Tentu saja itu tidak benar, karena di banyak tempat saya dianggap tua, profesor terkenal yang menerbitkan banyak tulisan. Meski begitu, saya merasa seolah saya seorang penulis muda yang baru mulai menerbitkan tulisan, dan orang-orang bilang, “Dia menjanjikan”.

JACQUES DERRIDA meninggal di Paris, 8 Oktober 2004. Wawancara KRISTINE MCKENNA ini dimuat LA Weekly, 9 April 2003. Diterjemahkan oleh ANTARIKSA