Selasa, 15 November 2016

Lanskap Kragilan, Serang, Banten

Kp. Benggalih, Desa Tegal Maja. Fotografer: Sulaiman Djaya. 
Kp. Cikopyah, Desa Jeruk Tipis. Fotografer: Sulaiman Djaya. 
Kp. Cikopyah, Desa Jeruk Tipis. Fotografer: Sulaiman Djaya. 
Kp. Petung, Desa Sentul. Fotografer: Sulaiman Djaya. 
Kp. Cikopyah, Desa Jeruk Tipis. Fotografer: Sulaiman Djaya. 
Kp. Petung, Desa Sentul. Fotografer: Sulaiman Djaya. 
Kp. Benggalih, Desa Tegal Maja. Fotografer: Sulaiman Djaya.
Kp. Cikopyah, Desa Jeruk Tipis. Fotografer: Sulaiman Djaya.
Lanskap langit di atas Sungai Ciujung (Kp. Pinggir Kali, Desa Tegal Maja). Fotografer: Sulaiman Djaya.
Kp. Cikopyah, Ds. Jeruk Tipis, Kragilan, Serang, Banten 16 November 2016. Fotografer: Sulaiman Djaya.


Senin, 01 Agustus 2016

Candu Ingatan Paul Celan


oleh Sulaiman Djaya (Pikiran Rakyat, 31 Mei 2009)

“Sang kata, pada siapa kau pamit, menyambutmu di gerbang.
Dan yang telah menyentuhmu di sini –tangkai, kalbu, bunga –
di sana telah lama jadi tamu dan tak bakal lagi menyentuhmu”.


(Paul Celan, Die Feste Burg).

Look not upon me, because I am black,
my mother children were angry with me;
they made me the keeper of the vineyards;
but mine own vineyard have I not kept.
Tell me, O, thou my soul loveth, where thou feedest,
where thou makest thy flock to rest at noon;
For why should I be as one that turneth aside
by thy flocks of thy companions? /
I have compared thee, O, my love,
to a company of horses in Pharao’s chariots


(Song of Songs).

Adalah Jacques Derrida dalam eseinya yang berjudul Schibboleth pour Paul Celan memandang Paul Celan sebagai penyair dengan bahasa yang tercabik-cabik, bahasa yang berkubang di antara luka dan ingatan, yang tidak menjahit sobekan lama, luka dan ingatan yang hanya bisa diam di hadapan sejarah dan perjanjian, tentang identitas yang menorehkan kepedihan dan mendatangkan malapetaka pada tubuh.

Sementara itu bagi saya sendiri, sajak-sajak Celan adalah tangis bisu melankoli. Campuran antara dendam, rasa bersalah, dan penyesalan diri yang tak berkesudahan. Kenangan dan ingatan sebagai hantu yang terus-menerus hadir, kenangan dan ingatan yang memabukkan dan menyakitkan layaknya candu, seperti kenangan dan ingatan Celan tentang ibunya dalam sajak Espenbaum:


Pintu jati, siapa mencabutmu dari engsel?
Bunda lembutku tak kuasa datang”.


Celan sendiri adalah korban, ketika identitas dilekatkan pada tubuh, tubuh yang didefinisikan secara politis dan rasis, tubuh yang telah ditandai “cap bakar” (Brandmal):

Tak lagi kita tidur, sebab terbaring di detik kemurungan,
dan kita rentang jarum jam seolah ranting,
dan ia melenting kembali, mencambuk sang waktu
hingga berdarah”.


Sajak tersebut sepenuhnya surealistis, meski Celan sendiri menolak penyebutan “surealis” untuk sajak-sajaknya, sebab metafor yang dibangun dan teknik pengalihan yang dilakukan Celan untuk menggambarkan sebuah pengalaman atau pun peristiwa demikian “sureal”, ketika sajak-sajak yang ditulisnya lebih mengedepankan fantasi dan pelukisan suasana bathin, mirip upaya transendensi, yang dengan itu pula kita bisa menilai keunikan dan kelebihan sajak-sajak Celan dari penyair-penyair Jerman yang lainnya, semisal Goethe dan Brecht, yang relatif lebih cepat untuk dipahami.

Tangis bisu sajak-sajak Celan pada dasarnya adalah sejumlah pertanyaan dan gugatan, pertanyaan dan gugatan terhadap perjanjian yang telah dijanjikan Tuhan, Tuhan yang telah mengorbankan manusia, Tuhan yang tak ada ketika tubuh manusia dijadikan korban: “Berdirilah dalam badam Sang Ketiadaan”. Tuhan yang tidak menjawab: “Tergenggam sudah, Gusti, berjalin berkelindan, seolah tubuh-tubuh kami adalah Tubuh-Mu. Berdoalah pada kami, kami dekat”.


Dua kutipan yang diambil dari dua sajak yang berjudul Mandorla dan Tenebrae tersebut adalah ekspresi kemarahan dan gugatan, ateisme religius. Dalam konteks inilah, Celan adalah Ayub abad dua puluhan.

Tetapi Derrida punya pendapat lain, sajak-sajak Celan adalah ingatan tentang ingatan itu sendiri, sebentuk penghapusan diri, sejenis tujuan yang lahir dan lenyap, diri sebagai setitik jejak samar dalam sejarah. Karena bagi Derrida, ingatan itu sendiri adalah kekaburan, seperti candu yang membuat seseorang mabuk dan limbung. Ingatan adalah tanda yang tidak dapat dibaca dan dijelaskan, karena ingatan didasarkan pada kehilangan, ingatan adalah candu yang memabukkan itu sendiri.


Ingatan dan kenangan yang memabukkan seperti candu tersebut adalah juga ingatan yang muram. Yang bila meminjam istilahnya Agus R. Sarjono seperti ketika seseorang “berada di tengah gelap musim dingin” yang indah dan menggigil.


Kemuraman sajak-sajak Celan yang mengental sekaligus indah tersebut setidak-tidaknya terasa juga dalam salah-satu sajaknya yang berjudul Die Feste Burg:

Kutahu rumah paling malam dari segala rumah:
suatu mata yang jauh lebih dalam dari matamu
mengintai di situ. Di atapnya berkibar benderaderita
yang lebar: bahan hijaunya –tak kau tahu kau lah
yang menenunnya, juga terbang demikian tinggi,
seolah bukan kau tenun sendiri. Sang kata,
pada siapa kau pamit, menyambutmu di gerbang.
Dan yang telah menyentuhmu di sini –tangkai,
kalbu, bunga –di sana telah lama jadi tamu
dan tak bakal lagi menyentuhmu. Namun,
bila kau melangkah ke cermin di rumah itu,
maka ketiganya –bunga, kalbu, tangkai –memandangmu.
Dan mata lebih dalam itu, meminum matamu yang dalam”.

Dalam pembacaan saya, tema dan cerita yang ingin digambarkan dan disampaikan Die Feste Burg sesungguhnya tidak berbeda dengan Espenbaum, sajak di atas masih bercerita tentang kenangan dan ingatan seseorang yang telah tiada. Seseorang yang juga telah menjadi korban “cap bakar” (Brandmal). Begitu juga di sisi lain, seperti yang telah dipaparkan dengan baik oleh Berthold Damshauser, tema-tema yang ingin disampaikan, diceritakan, dan diungkapkan sajak-sajak Celan sebenarnya tidak jauh dari tema-tema dan cerita-cerita yang ada dalam sajak-sajak Brandmal, Tenebrae, Mandorla, Todesfuge, dan Corona.


Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa sajak-sajak Celan adalah partita elegi dan nyanyian penghiburan diri tentang kematian dan ingatan atau pun kenangan tentang kematian itu sendiri. Tentang orang-orang yang dikorbankan. Lima sajak tersebut menurut saya cukup mewakili semua sajak yang ada dalam buku kumpulan sajak Candu Dan Ingatan hasil terjemahan dari Bahasa Jerman ke Bahasa Indonesia yang dikerjakan oleh Berthold Damshauser dan Agus R. Sarjono, bila pembaca ingin menemukan “apa yang ingin diceritakan” dan “dunia apa yang ingin digambarkan” oleh sajak-sajak Celan.


Dan dari itu semua, apa yang ingin disampaikan secara tersirat oleh sajak-sajak Celan tak lain adalah sejarah, pengorbanan, perjanjian, dan penebusan, yang adalah juga tema-tema penting dalam Judaisme. Dan Celan sendiri sebagai penyairnya berkubang dalam tema-tema tersebut.

Sebisu dan semuram apa pun, sajak-sajak Celan adalah bahasa yang menyembunyikan api dan amarah, amarah seorang Yahudi Jerman (Deutschjudentum), ketika ia kembali terusir dari pengusiran sebelumnya: “Sang kata, pada siapa kau pamit, menyambutmu di gerbang. Dan yang telah menyentuhmu di sini –tangkai, kalbu, bunga –di sana telah lama jadi tamu dan tak bakal lagi menyentuhmu (Die Feste Burg)”.


Bait-bait tersebut, dalam pembacaan saya, adalah sebuah gambaran tentang “keterusiran”, seperti terusirnya orang-orang Yahudi dari Mesir di jaman Musa yang digambarkan dan diceritakan oleh bait-bait Song of Songs yang telah saya kutip dalam pembukaan tulisan. Di sini dapatlah dikatakan bahwa tema dan gambaran tambahan cukup dominan yang ingin disiratkan oleh sajak-sajak Celan adalah sejarah Yahudi dan Yahudi dalam sejarah itu sendiri. Sejarah yang dimaknai sebagai perjanjian, pengusiran, dan penebusan.

Tapi Celan bukan hanya korban dari politik-rasisme dan rasisme politik dalam sejarah kelam totalitarianisme modern, ia adalah korban “trauma” yang tak mendapatkan obatnya. Sajak-sajak yang ditulisnya merupakan usaha tanpa henti untuk melakukan “penyembuhan luka bathin” akibat terlampau tenggelam dalam “candu-ingatan” , yang kadung menjelma “kegilaan melankolik” dan paranoia amat parah. Wajar saja bila ia pun terjebak pada rasisme lainnya, kerinduannya pada Jerusalem sebagai negeri spiritual yang telah dijanjikan Tuhan dalam Kitab Suci, karena ia sendiri tak pernah sanggup untuk memaafkan, seperti penggambaran hubungan cintanya sebagai tak ubahnya sebuah pengkhianatan atas ras dan bangsanya sendiri antara Celan yang Yahudi dan Ingeborg Bachmann yang Jerman dalam sajaknya yang berjudul In Agypten:


Mesti kau rias perempuan asing
di ranjangmu seelok-eloknya.
Mesti kau rias dia dengan dukalara
atas Ruth dan Mirjam dan Noemi.
Mesti kau katakan
kepada perempuan asing: Lihat,
aku telah tidur dengan mereka!”.


Dalam konteks ini, dapatlah dikatakan bahwa sajak In Agypten sebenarnya merupakan romantisisme sejarah Yahudi dan Yahudi dalam sejarah, ketika ia mengidentikkan dirinya dengan figur-figur penderitaan dan penindasan atas Yahudi di masa lalu seperti Ruth, Naomi, dan Miryam. Ada aroma rasisme dan romantisisme dalam sajak tersebut, yang bisa jadi tak lain merupakan sikap Celan untuk membalas dendam dalam ketakberdayaannya di hadapan sejarah.


Di kesempatan lain, dalam sajaknya yang berjudul Todesfuge, dendam dan amarah tersebut menjelma kehendak untuk membuka sisi barbar sebuah politik dan kekuasaan yang telah menjadi “mesin kepatuhan” dan “pelayan” kesemena-menaan Hitler sang diktator yang oleh Celan disebut sebagai “Sang Maut”, yang tak lain adalah “Maestro dari Jerman”. Sang Maestro yang memerintahkan orang-orang Yahudi untuk menggali kuburannya sendiri setelah menari dan meneguk “susu hitam”:

Susu hitam dinihari kami reguk saat senja,
kami reguk siang dan pagi, kami reguk malam,
kami reguk dan reguk, kami gali kuburan di udara,
di sana orang berbaring tak berdesakan.
Seseorang lelaki tinggal di rumah, ia bermain
dengan ular, ia menulis, ia menulis ke Jerman
kala senja tiba rambutmu kencana Margarete,
ia menulisnya dan berjalan keluar,
dan bintang berkerlip ia bersuit memanggil
herdernya, ia bersuit memanggil Yahudinya,
dan menyuruhnya menggali kuburan di tanah,
ia perintah kami ayo mainkan irama dansa”.

Sementara itu, dari sisi biografis, kehidupan Celan merupakan ikhtiar pelarian tanpa henti, yang bila meminjam frasenya Berthold Damshauser, sebagai seorang “yatim piatu abadi”, selalu merasa diri sebagai orang asing yang tak punya negara, mirip nasib yang juga dialami oleh penyair Yahudi Jerman lainnya, Heinrich Heine.


Celan adalah “seseorang yang terpenjara dalam spiral ingatan akan masa silam yang memabukkan”, usahanya untuk menghilangkan trauma dengan menulis sajak justru semakin menguatkan ingatan akan peristiwa dan pengalamannya di masa silam.


Celan, yang bila kita kembali mengafirmasi jalan pikirnya Derrida, adalah kasus ekstrem sebuah korban dari trauma dan kekerasan yang jatuh dalam kekerasan lainnya, penghancuran diri dan penghapusan diri. Dengan bunuh diri, Celan melakukan “holocaust” terhadap dirinya sendiri. Karena ia percaya, hanya kematian dan pelenyapan diri yang akan mengakhiri penderitaan bathin dan kegilaannya akibat candu-ingatan.


Penderitaan bathin dan kegilaan yang telah mewariskan partita indah sebuah elegi dan nyanyian,

“Sia-sia kau gambar hati pada jendela:
Sang Adipati Kesunyian
Menggalang tentara di halaman istana.
Dikibarkannya panji di pohon
Sehelai daun yang bakal biru baginya saat musim gugur tiba;
Ia bagikan tangkai-tangkai kemuraman pada tentara,
Juga bunga sang waktu;
Dengan burung di rambut ia menjauh
Untuk menenggelamkan pedang-pedang.


Sia-sia kau gambar hati pada jendela:
Seorang dewa ada di kerumunan tentara,
Diselubungi jubah yang di tangga dulu tanggal dari bahumu,
Di kala malam, saat istana diamuk kobaran api,
Saat kau bicara layaknya manusia: kekasih….
Jubah itu tak dikenalinya, dan ia tak menghiba sang bintang,
Dan pada daun yang melayang di depan, ia tambatkan jalan.
‘O tangkai’, serasa didengarnya suara, O bunga sang waktu”.



(Paul Celan, Umsonst malst du Herzen).

Sabtu, 02 Juli 2016

Diari Ahmad Hasan


"Kebahagiaan muncul dari hidup yang bermakna, dari pembuatan keputusan yang benar, dan dari mencintai seseorang" (Victor Frankl). “Hidup tanpa musik dan nada-nada, pastilah sebuah kesalahan” (Friedrich Wilhelm Nietzsche).

Setiap orang, yah engkau dan aku, memiliki kesunyian masing-masing, yang kita tak sanggup saling menerka kesunyian kita masing-masing itu, karena ia merupakan sebuah rahasia personal kita yang tak terselami oleh orang lain selain oleh kita sendiri yang mengalami dan merasakannya, yang hanya dapat diterka jika dituliskan menjadi sajak dan nada-nada. Harapan dan keinginan kita seperti fajar dan mekar kembang, ada karena kecintaan kita pada hidup yang kita jalani.

Aku percaya setiap orang memiliki hasrat untuk mencari atau pun berusaha untuk menemukan apa saja yang dapat membuatnya merasa utuh dan berarti, entah apa pun itu, sesuatu yang mungkin membuatnya merasa lengkap, katakanlah sebagai contohnya menjadi seorang suami bila ia seorang lelaki atau pun menjadi seorang istri bila ia perempuan, yang dapat menemukan sendiri arti kebahagiaannya, yang mampu mengatasi kekeliruan atau pun ketaksepahaman yang acapkali berujung pada pertengkaran.

Atau katakanlah menjadi seorang jutawan yang dapat menggunakan waktu seenaknya untuk membaca buku-buku yang disukainya atau melakukan apa saja yang diinginkannya. Artinya, yang tengah ingin kubicarakan ini adalah hasrat setiap orang untuk menjadi apa pun yang dapat membuatnya merasakan hidup yang sesungguhnya dan menjadi seseorang, menjadi seseorang yang mampu mendapatkan kebahagiaannya sendiri dengan segala apa yang dilakukan dan dijalaninya.

Tetapi acapkali kebahagiaan adalah kesadaran dan keintiman kita pada segala yang hadir, ketika kita mensyukuri dan mengakrabinya dengan ikhlas, bukan mengabaikannya, dan lalu mengangankan sejumlah utopia atau harapan-harapan palsu yang hanya akan membuat kita lari dari kenyataan hidup itu sendiri.

Tetapi apakah aku sendiri telah mendapatkan dan menemukan apa yang kubicarakan itu? Hingga aku merasa berhak untuk berceloteh tentangnya, yang memang barangkali mirip khutbah solipsistik. Sejujurnya aku sendiri tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa aku selalu mencoba dan berusaha untuk mendapatkan dan menemukannya, terlebih sebagai seorang yang senantiasa dirundung gelisah dalam kesendirianku.

Aku, seorang lelaki yang bernama Ahmad Hasan, seorang lelaki yang tengah dan terus mencoba untuk menjadi penulis di saat tak memiliki kesibukan lain. Meskipun demikian, ada satu hal yang setidak-tidaknya dapat meredakan kegelisahanku untuk waktu-waktu sementara, seperti ketika aku memandangi pohon-pohon yang kutanam terlihat segar dan rindang.

Itu semua karena ketika aku berpikir dan merenunginya, ada kesadaran yang hadir dalam diriku bahwa kesegaran dan keindahan pohon-pohon yang telah kutanam itu haruslah kuumpamakan sebagai keriangan dan kegembiraan hidup itu sendiri dalam kondisi apa pun, apa pun yang kini tengah kujalani dan kualami.

Mungkin saja itu semua pun lebih merupakan upaya-upayaku untuk menciptakan penghiburan dan harapan dalam kesepian dan kesunyianku sebagai penulis –yang acapkali dilanda kebuntuan epistemologis dan mengalami ketersendatan sintagmatik yang kadangkala membuatku harus mengurungkan niatku untuk menulis puisi atau cerita –meski awalnya aku merasa telah memiliki ide, tamsil, dan gagasan yang akan memberiku sebuah puisi indah yang kuinginkan, sebuah puisi romantis, sebagaimana alunan gesekan cello yang dimainkan seorang cellist perempuan yang memainkan komposisi sensual dan membuatku memiliki imajinasi untuk mengembara ke dalam dunia angan-angan, yang berkenala sebagaimana nada-nada komposisi musik yang kudengarkan dan lalu kurenungi.

Dan jika itu semua benar adanya, aku takkan mengingkarinya, karena sebenarnya mestilah kuakui, keseharianku di pedesaan ini merupakan pelarian diri, meskipun di sisi lain haruslah kuakui juga, keseharianku di pedesaan ini telah berjasa bagi kehidupan bathinku karena ketenangan dan kesunyiannya yang telah memberikan banyak puisi dan tamsil keindahan. Begitu juga malam-malamnya yang telah memberiku keheningan dan kedamaian di saat-saat aku menulis atau pun membaca dalam kesepian dan kesendirian.

Sementara itu, di saat aku menulis catatan harianku ini, hari tampak mendung dan terasa lembab karena cuaca basah selepas hujan menjelang asar tadi, tapi justru hal itulah yang membuatku merasa nyaman, merasakan ketenangan setelah di waktu malam sebelumnya kegelisahan dan kegundahan menguasaiku selama berjam-jam –hingga membuatku larut dalam diam dan lamunan, sementara rasa bosan dan kegundahan yang samar hampir menenggelamkan pikiranku.

Haruslah kuakui, bulan Juli kali ini terasa berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya. Dalam perasaanku bulan Juli kali ini lebih mirip bulan Januari dan Februari, November dan Desember, ketika malam dan senjanya yang sendu dan petangnya yang bagaikan sang perawan yang dirundung rindu dan dendam, terasa hening dan senyap –kesenyapan dan keheningan yang dapat saja memabukkan seseorang yang putus-asa.

Barangkali perlu juga kau ketahui, itu pun jika kau ikhlas membaca catatan harianku ini, sebelum hatiku terbangun dan terjaga di senja ini setelah terendam dalam lamunan karena rasa bosan yang menghunjam kalbu, selama berjam-jam tadi malam aku hanya terdiam di kursiku, seperti yang telah kukatakan dan harus kukatakan lagi, agar ingat dan menandainya dengan sepenuh hati, sembari mendengarkan alunan-alunan violin dan denting-denting piano dari beberapa komposisi yang kusuka –dari Debussy hingga Chopin, dari Mozart hingga Beethoven, dari Haydn hingga Paganini, dari Shostakovich hingga Vivaldi.

Hal itu kulakukan setiap kali aku ingin mendapatkan tamsil dan suasana untuk puisi yang akan kutulis di waktu-waktu malam atau pun di pagihari dan sorehari bila aku terbangun dalam keadaan segar, dan pikiranku merasa tercerahkan karena cuaca fajar dan kedamaian senja yang seperti perempuan yang mempesona.

Demikianlah aku menjelmakan kesunyianku sendiri dalam komposisi kata-kata dan paragraf atau dalam parafrase dan nada-nada musik yang kususun dari kata-kata, menyalinnya dan meminjamnya untuk sementara, sebelum aku menemukan suasana-suasana yang lainnya, sebelum aku menemukan alibi-alibi, kebohongan-kebohongan yang berbeda, yang mungkin juga sama saja, melakukan pengulangan-pengulangan, sebab betapa rentan dan rapuh seorang lelaki yang kadang merasa diri sabar dan tegar menjalani kesepian dan kesendirian.

Yah, aku tengah mengenakan topeng ketika aku terus menulis, terus-menerus mengenakan topeng demi memenuhi apa yang tak bisa kudapatkan dalam kehidupan yang sebenarnya, dalam keseharian yang biasa seperti yang dijalani dan dilakukan kebanyakan orang yang terbebas dari pretensi dan tendensi estetis dan kesombongan artistik. Dengan ini aku hanya ingin mengatakan bahwa hasrat pada keindahan adalah upaya untuk mengobati diri sendiri. Sejumlah ikhtiar untuk mengatasi atau pun mengalihkan kesepianku sendiri menjadi seni.

Hak cipta (C)Sulaiman Djaya (2007). Ilustrasi: Alisa Weilerstein.

Rabu, 22 Juni 2016

Kisahku Menjadi Muslimah


oleh Alexandra Chernov (Australia). Foto: Pemanah Iran, Shiva Mafakheri

Aku adalah anak perempuan ketiga dari empat bersaudara. Aku dilahirkan di Melbourne, Australia, pada tahun 1971. Ayahku seorang Kristen Ortodoks yang lahir di Polandia. Keluarganya campuran Rusia dan Jerman. Sementara ibuku lahir di Australia. Nenekku dari ibu berdarah Rusia dan Yahudi. Ibu dibesarkan dalam lingkungan Anglikan, tetapi tidak begitu rajin menjalankan agamanya.

Ketika aku kecil, seperti juga teman-teman kecilku, setiap minggu aku pergi ke gereja dan ikut sekolah minggu. Sejak kecil hingga dewasa aku selalu sekolah di sekolah Kristen. Namun ketika aku menjelang dewasa dan suka membaca Bibel, aku mulai suka bertanya-tanya dan ragu tentang banyak hal. Diantaranya adalah konsep trinitas, pengampunan dosa oleh pendeta dan lain-lain.

Meski aku sering bertanya namun jawabannya tak pernah memuaskanku. Aku amat percaya pada Tuhan karena banyak kenalanku mengatakan bila aku percaya pada Tuhan aku akan menjadi orang yang baik. Namun aku tidak pernah paham bahwa Yesus adalah anak Tuhan. Karenanya bila berdoa aku selalu meminta kepada Tuhan bapak bukan Tuhan anak.

Namun demikian aku tetap tidak puas. Akhirnya akupun melirik agama lain. Sayang ketika itu beberapa kenalan Islamku tidak menjalankan ajarannya dengan baik. Akibatnya aku baru mengenal ajaran ini setelah lama terombang-ambing mempelajari agama-agama lain.

Mulanya adalah ibuku yang telah bercerai dari ayah. Ketertarikannya dalam studi Perbandingan Agama telah membuatnya lebih dulu memeluk Islam daripada aku. Namun demikian ia tidak pernah membicarakan ajaran barunya itu kepadaku. Tapi aku pikir kalaupun ia mengajarkannya mungkin aku justru tidak tertarik.

Suatu hari aku menemukan Al-Quran yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Muhammad Marmaduke Pickthall. Aku segera membelinya dengan maksud akan kuberikan kepada ibu. Aku sempat membuka-buka sedikit. Akan tetapi baru beberapa bulan kemudian aku mulai serius mempelajarinya. Namun demikian aku jadi suka membela ajaran Islam ketika ada orang yang mengkritik ajaran ini. Aku begitu bergairah mempertahankan Islam seolah aku adalah seorang Muslim.

Akhirnya di pagi hari raya Idul Fitri di tahun 1992, setelah shalat Ied, aku mengikrarkan syahadat di Islamic Council of Victoria, Melbourne. Sulit aku mengatakan bagaimana perasaanku waktu itu. Yang jelas aku merasa terlahir kembali dan dalam keadaan bersih tanpa dosa sedikitpun pula. Ibuku tentu saja sangat bahagia mengetahui kabar tersebut.

Karena aku mempelajari Islam terlebih dahulu sebelum bersyahadat maka akupun langsung memahami apa yang menjadi kewajibanku. Aku segera meninggalkan pekerjaanku sebagai pelayan yang menghidangkan minuman keras dan mencari pekerjaan yang halal. Aku juga segera menutup auratku dengan berjilbab.

Sayang ayah menentang keislamanku. Padahal ketika ibu dulu masuk Islam ia tidak memprotes. Ia hanya menganggapnya gila dan hilang akal saja! Mungkin karena mereka sudah bercerai jadi ayah tidak peduli. Belakangan aku menyadari bahwa ayah menentangku bukan semata-mata karena ia membenci Islam. Karena ternyata selama ini ia berpikir bahwa perempuan Islam diperlakukan buruk dan tidak mempunyai hak apa-apa.

Di luar itu, aku bersyukur bahwa aku tidak mengalami hambatan yang berarti. Walaupun dengan berjilbab ternyata aku tetap dapat bekerja bahkan sebagai baby sitter di keluarga non muslim. ”Kamu orang yang sama dengan yang telah kami kenal selama ini. Anak-anak masih menyukaimu. Demikian juga kami”, begitu komentarnya. Alhamdulillah….Sebelumnya aku memang telah mengenal keluarga ini.

Aku juga aktif di berbagai kegiatan keislaman. Aku pernah bekerja sebagai tenaga sukarela di sebuah sekolah Islam, membantu ibu-ibu mengajar di sana. Aku ikut pengajian di beberapa kelompok pengajian yang berbeda dan shalat di masjid-masjid yang berbeda. Aku memang tidak ingin terikat pada satu kelompok pengajian saja.

Sebaliknya aku juga tidak mau hanya membangun kontak dengan sesama Muslim. Aku justru berpikir sebagai Muslimah aku harus berdakwah kepada teman-teman non muslimku. Teman-teman dekatku aku rasa tidak kaget dengan penampilan baruku. Karena mereka memang mengetahui prosesku berislam. Terkadang aku bahkan berdiskusi dengan mereka. Namun teman-temanku yang tidak begitu akrab tampaknya agak terkejut juga mengetahui kepindahanku. Tapi apa peduliku?

Sementara itu ayah dan keluarga besarnya tetap memandangku dengan perasaan aneh dan asing. Kadang-kadang mereka bahkan mengambil gambarku seolah aku ini mahluk ajaib. Tapi aku tidak tersinggung. Aku malah sengaja berpose secantik mungkin. ”Biarkan mereka tahu penampilan perempuan Islam”, pikirku senang.

Kini aku begitu optimis akan masa depanku. Aku berharap semoga aku dapat menjadi muslimah sekaligus ibu yang baik. Saat ini aku ingin menuntaskan studiku di Monash University untuk belajar ilmu lingkungan yang menurut pengamatanku belum banyak ditangani Muslim. Padahal bukankah kepedulian terhadap lingkungan adalah bagian dari Islam yang sangat penting?

Pendek kata, aku ingin berdakwah dengan caraku sendiri. Aku juga terobsesi suatu hari kelak akan memiliki ladang, tinggal di sana dan dapat mengendarai kuda kesayanganku sepanjang hari seperti juga Rasulullah saw dulu. Aku memang sangat menyukai kuda. Di tempat inilah secara berkala aku akan menyelenggarakan acara perkemahan khusus untuk anak-anak Muslim.

Pau-France, 24 Agustus 2009. 



Senin, 20 Juni 2016

Kupu-Kupu Senja Ibundaku


Dari mana aku harus mulai? Sungguh sulit sekali untukku menemukan simpul pertama dari ceceran dan serakan ingatan yang telah tercerai-berai –yang sebagian besar telah terlupakan. Meski demikian, rasanya aku akan merasa bersalah bila mencampakkan yang masih tersisa sebagai kenangan. Aku ingin memulainya dari kupu-kupu di pagihari dan senja yang sesekali kulihat di barisan pohon Rosella yang ditanam Ibuku, ketika hari bersimbah cuaca dingin atau di kala iklim berubah cerah selepas hujan menjelang siang.

Apakah kau akan membaca kisah pribadi yang kutulis ini? Aku berharap demikian. Keikhlasanmu untuk meluangkan waktu demi membaca kisahku ini akan menjadi penghargaan yang sangat berarti bagiku.

Kala itu adalah masa-masa di tahun 1980-an, ketika Ibuku memetik buah Rosella, sementara aku asik memperhatikan kupu-kupu yang hinggap di salah-satu pohon Rosella itu, yang warna sepasang sayapnya seperti susunan ragam tamsil karena cahaya matahari senja. Ia sesekali terbang, lalu hinggap lagi, kadangkala berpindah atau pindah kembali ke pohon Rosella yang sama, lalu terbang lagi, sebelum akhirnya pergi ke tempat yang ingin ia ziarahi.

Keesokan harinya Ibuku akan menjemur biji-biji Rosella itu dengan tikar yang ia sulam dari sejumlah karung bekas, dan akan mengangkatnya selepas asar, sebelum kami akan menggoreng dan menumbuknya bersama menjadi bubuk kopi yang akan kami bungkus dengan plastik-plastik kecil yang ia beli dari warung. Kakak perempuanku yang akan memasukkan bubuk kopi Rosella itu, sedangkan aku yang menjahit ujung plastik itu dengan cara mendekatkannya ke semungil nyala lampu minyak.

Aku membeli buku-buku tulis sekolahku dari menjual bubuk kopi Rosella yang ditanam Ibuku itu, pohon-pohon Rosella yang acapkali disinggahi sejumlah kupu-kupu, selain dihinggapi dan diziarahi para kumbang.

Kami terbiasa hidup bersahaja dan memperoleh rizki kami dari Tuhan dengan perantaraan pohon-pohon ciptaan Tuhan yang ditanam Ibundaku: Rosella, kacang panjang, tomat, labuh, dan lain-lain yang kemudian dijual Ibuku setelah ia mengunduh dan memanennya. Aku hanya bisa membantu Ibuku sepulang sekolah atau ketika hari libur sekolah, meski kadangkala aku absen untuk membantunya dan lebih memilih untuk bermain dan menerbangkan layang-layang, berburu jangkerik, atau berburu para belalang yang kesulitan untuk terbang karena air yang melekat di sayap-sayap mereka dan yang tergenang di hamparan sawah-sawah di kala hujan atau selepas hujan bersama teman-temanku.

Hidup kami memang seperti kupu-kupu di senjakala yang mengimani kesabaran dan ketabahan sebagai keharusan yang tak terelakkan. Tahukah kau kenapa aku mengumpamakannya dengan kupu-kupu? Aku akan menjawabnya. Kupu-kupu, juga para kumbang, adalah makhluk-makhluk Tuhan yang ikhlas bekerja dan dengan takdir mereka sebagai para pengurai dan penyerbuk kembang dan bunga.

Kehadiran mereka merupakan berkah bagi kami yang mengais rizki dari hidup bertani dan menanam sejumlah tanaman yang buah-buahnya dapat dijual Ibuku. Keberadaan mereka adalah siklus alam dan kelahiran bagi kami, para petani.

Mereka, para kupu-kupu dengan sayap-sayap ragam warna di kedua sisi lengan mereka itu, akan datang tanpa kami undang bila tanaman-tanaman yang kami tanam telah berbunga, entah mereka datang di pagihari atau di senjahari. Memang aku baru menyadarinya di saat aku tak lagi hidup seperti di masa-masa itu –sebuah pemahaman yang memang terlambat. Tetapi bukankah lebih baik terlambat daripada tidak menyadarinya sama-sekali? [Sulaiman Djaya