Senin, 01 Agustus 2016

Candu Ingatan Paul Celan


oleh Sulaiman Djaya (Pikiran Rakyat, 31 Mei 2009)

“Sang kata, pada siapa kau pamit, menyambutmu di gerbang.
Dan yang telah menyentuhmu di sini –tangkai, kalbu, bunga –
di sana telah lama jadi tamu dan tak bakal lagi menyentuhmu”.


(Paul Celan, Die Feste Burg).

Look not upon me, because I am black,
my mother children were angry with me;
they made me the keeper of the vineyards;
but mine own vineyard have I not kept.
Tell me, O, thou my soul loveth, where thou feedest,
where thou makest thy flock to rest at noon;
For why should I be as one that turneth aside
by thy flocks of thy companions? /
I have compared thee, O, my love,
to a company of horses in Pharao’s chariots


(Song of Songs).

Adalah Jacques Derrida dalam eseinya yang berjudul Schibboleth pour Paul Celan memandang Paul Celan sebagai penyair dengan bahasa yang tercabik-cabik, bahasa yang berkubang di antara luka dan ingatan, yang tidak menjahit sobekan lama, luka dan ingatan yang hanya bisa diam di hadapan sejarah dan perjanjian, tentang identitas yang menorehkan kepedihan dan mendatangkan malapetaka pada tubuh.

Sementara itu bagi saya sendiri, sajak-sajak Celan adalah tangis bisu melankoli. Campuran antara dendam, rasa bersalah, dan penyesalan diri yang tak berkesudahan. Kenangan dan ingatan sebagai hantu yang terus-menerus hadir, kenangan dan ingatan yang memabukkan dan menyakitkan layaknya candu, seperti kenangan dan ingatan Celan tentang ibunya dalam sajak Espenbaum:


Pintu jati, siapa mencabutmu dari engsel?
Bunda lembutku tak kuasa datang”.


Celan sendiri adalah korban, ketika identitas dilekatkan pada tubuh, tubuh yang didefinisikan secara politis dan rasis, tubuh yang telah ditandai “cap bakar” (Brandmal):

Tak lagi kita tidur, sebab terbaring di detik kemurungan,
dan kita rentang jarum jam seolah ranting,
dan ia melenting kembali, mencambuk sang waktu
hingga berdarah”.


Sajak tersebut sepenuhnya surealistis, meski Celan sendiri menolak penyebutan “surealis” untuk sajak-sajaknya, sebab metafor yang dibangun dan teknik pengalihan yang dilakukan Celan untuk menggambarkan sebuah pengalaman atau pun peristiwa demikian “sureal”, ketika sajak-sajak yang ditulisnya lebih mengedepankan fantasi dan pelukisan suasana bathin, mirip upaya transendensi, yang dengan itu pula kita bisa menilai keunikan dan kelebihan sajak-sajak Celan dari penyair-penyair Jerman yang lainnya, semisal Goethe dan Brecht, yang relatif lebih cepat untuk dipahami.

Tangis bisu sajak-sajak Celan pada dasarnya adalah sejumlah pertanyaan dan gugatan, pertanyaan dan gugatan terhadap perjanjian yang telah dijanjikan Tuhan, Tuhan yang telah mengorbankan manusia, Tuhan yang tak ada ketika tubuh manusia dijadikan korban: “Berdirilah dalam badam Sang Ketiadaan”. Tuhan yang tidak menjawab: “Tergenggam sudah, Gusti, berjalin berkelindan, seolah tubuh-tubuh kami adalah Tubuh-Mu. Berdoalah pada kami, kami dekat”.


Dua kutipan yang diambil dari dua sajak yang berjudul Mandorla dan Tenebrae tersebut adalah ekspresi kemarahan dan gugatan, ateisme religius. Dalam konteks inilah, Celan adalah Ayub abad dua puluhan.

Tetapi Derrida punya pendapat lain, sajak-sajak Celan adalah ingatan tentang ingatan itu sendiri, sebentuk penghapusan diri, sejenis tujuan yang lahir dan lenyap, diri sebagai setitik jejak samar dalam sejarah. Karena bagi Derrida, ingatan itu sendiri adalah kekaburan, seperti candu yang membuat seseorang mabuk dan limbung. Ingatan adalah tanda yang tidak dapat dibaca dan dijelaskan, karena ingatan didasarkan pada kehilangan, ingatan adalah candu yang memabukkan itu sendiri.


Ingatan dan kenangan yang memabukkan seperti candu tersebut adalah juga ingatan yang muram. Yang bila meminjam istilahnya Agus R. Sarjono seperti ketika seseorang “berada di tengah gelap musim dingin” yang indah dan menggigil.


Kemuraman sajak-sajak Celan yang mengental sekaligus indah tersebut setidak-tidaknya terasa juga dalam salah-satu sajaknya yang berjudul Die Feste Burg:

Kutahu rumah paling malam dari segala rumah:
suatu mata yang jauh lebih dalam dari matamu
mengintai di situ. Di atapnya berkibar benderaderita
yang lebar: bahan hijaunya –tak kau tahu kau lah
yang menenunnya, juga terbang demikian tinggi,
seolah bukan kau tenun sendiri. Sang kata,
pada siapa kau pamit, menyambutmu di gerbang.
Dan yang telah menyentuhmu di sini –tangkai,
kalbu, bunga –di sana telah lama jadi tamu
dan tak bakal lagi menyentuhmu. Namun,
bila kau melangkah ke cermin di rumah itu,
maka ketiganya –bunga, kalbu, tangkai –memandangmu.
Dan mata lebih dalam itu, meminum matamu yang dalam”.

Dalam pembacaan saya, tema dan cerita yang ingin digambarkan dan disampaikan Die Feste Burg sesungguhnya tidak berbeda dengan Espenbaum, sajak di atas masih bercerita tentang kenangan dan ingatan seseorang yang telah tiada. Seseorang yang juga telah menjadi korban “cap bakar” (Brandmal). Begitu juga di sisi lain, seperti yang telah dipaparkan dengan baik oleh Berthold Damshauser, tema-tema yang ingin disampaikan, diceritakan, dan diungkapkan sajak-sajak Celan sebenarnya tidak jauh dari tema-tema dan cerita-cerita yang ada dalam sajak-sajak Brandmal, Tenebrae, Mandorla, Todesfuge, dan Corona.


Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa sajak-sajak Celan adalah partita elegi dan nyanyian penghiburan diri tentang kematian dan ingatan atau pun kenangan tentang kematian itu sendiri. Tentang orang-orang yang dikorbankan. Lima sajak tersebut menurut saya cukup mewakili semua sajak yang ada dalam buku kumpulan sajak Candu Dan Ingatan hasil terjemahan dari Bahasa Jerman ke Bahasa Indonesia yang dikerjakan oleh Berthold Damshauser dan Agus R. Sarjono, bila pembaca ingin menemukan “apa yang ingin diceritakan” dan “dunia apa yang ingin digambarkan” oleh sajak-sajak Celan.


Dan dari itu semua, apa yang ingin disampaikan secara tersirat oleh sajak-sajak Celan tak lain adalah sejarah, pengorbanan, perjanjian, dan penebusan, yang adalah juga tema-tema penting dalam Judaisme. Dan Celan sendiri sebagai penyairnya berkubang dalam tema-tema tersebut.

Sebisu dan semuram apa pun, sajak-sajak Celan adalah bahasa yang menyembunyikan api dan amarah, amarah seorang Yahudi Jerman (Deutschjudentum), ketika ia kembali terusir dari pengusiran sebelumnya: “Sang kata, pada siapa kau pamit, menyambutmu di gerbang. Dan yang telah menyentuhmu di sini –tangkai, kalbu, bunga –di sana telah lama jadi tamu dan tak bakal lagi menyentuhmu (Die Feste Burg)”.


Bait-bait tersebut, dalam pembacaan saya, adalah sebuah gambaran tentang “keterusiran”, seperti terusirnya orang-orang Yahudi dari Mesir di jaman Musa yang digambarkan dan diceritakan oleh bait-bait Song of Songs yang telah saya kutip dalam pembukaan tulisan. Di sini dapatlah dikatakan bahwa tema dan gambaran tambahan cukup dominan yang ingin disiratkan oleh sajak-sajak Celan adalah sejarah Yahudi dan Yahudi dalam sejarah itu sendiri. Sejarah yang dimaknai sebagai perjanjian, pengusiran, dan penebusan.

Tapi Celan bukan hanya korban dari politik-rasisme dan rasisme politik dalam sejarah kelam totalitarianisme modern, ia adalah korban “trauma” yang tak mendapatkan obatnya. Sajak-sajak yang ditulisnya merupakan usaha tanpa henti untuk melakukan “penyembuhan luka bathin” akibat terlampau tenggelam dalam “candu-ingatan” , yang kadung menjelma “kegilaan melankolik” dan paranoia amat parah. Wajar saja bila ia pun terjebak pada rasisme lainnya, kerinduannya pada Jerusalem sebagai negeri spiritual yang telah dijanjikan Tuhan dalam Kitab Suci, karena ia sendiri tak pernah sanggup untuk memaafkan, seperti penggambaran hubungan cintanya sebagai tak ubahnya sebuah pengkhianatan atas ras dan bangsanya sendiri antara Celan yang Yahudi dan Ingeborg Bachmann yang Jerman dalam sajaknya yang berjudul In Agypten:


Mesti kau rias perempuan asing
di ranjangmu seelok-eloknya.
Mesti kau rias dia dengan dukalara
atas Ruth dan Mirjam dan Noemi.
Mesti kau katakan
kepada perempuan asing: Lihat,
aku telah tidur dengan mereka!”.


Dalam konteks ini, dapatlah dikatakan bahwa sajak In Agypten sebenarnya merupakan romantisisme sejarah Yahudi dan Yahudi dalam sejarah, ketika ia mengidentikkan dirinya dengan figur-figur penderitaan dan penindasan atas Yahudi di masa lalu seperti Ruth, Naomi, dan Miryam. Ada aroma rasisme dan romantisisme dalam sajak tersebut, yang bisa jadi tak lain merupakan sikap Celan untuk membalas dendam dalam ketakberdayaannya di hadapan sejarah.


Di kesempatan lain, dalam sajaknya yang berjudul Todesfuge, dendam dan amarah tersebut menjelma kehendak untuk membuka sisi barbar sebuah politik dan kekuasaan yang telah menjadi “mesin kepatuhan” dan “pelayan” kesemena-menaan Hitler sang diktator yang oleh Celan disebut sebagai “Sang Maut”, yang tak lain adalah “Maestro dari Jerman”. Sang Maestro yang memerintahkan orang-orang Yahudi untuk menggali kuburannya sendiri setelah menari dan meneguk “susu hitam”:

Susu hitam dinihari kami reguk saat senja,
kami reguk siang dan pagi, kami reguk malam,
kami reguk dan reguk, kami gali kuburan di udara,
di sana orang berbaring tak berdesakan.
Seseorang lelaki tinggal di rumah, ia bermain
dengan ular, ia menulis, ia menulis ke Jerman
kala senja tiba rambutmu kencana Margarete,
ia menulisnya dan berjalan keluar,
dan bintang berkerlip ia bersuit memanggil
herdernya, ia bersuit memanggil Yahudinya,
dan menyuruhnya menggali kuburan di tanah,
ia perintah kami ayo mainkan irama dansa”.

Sementara itu, dari sisi biografis, kehidupan Celan merupakan ikhtiar pelarian tanpa henti, yang bila meminjam frasenya Berthold Damshauser, sebagai seorang “yatim piatu abadi”, selalu merasa diri sebagai orang asing yang tak punya negara, mirip nasib yang juga dialami oleh penyair Yahudi Jerman lainnya, Heinrich Heine.


Celan adalah “seseorang yang terpenjara dalam spiral ingatan akan masa silam yang memabukkan”, usahanya untuk menghilangkan trauma dengan menulis sajak justru semakin menguatkan ingatan akan peristiwa dan pengalamannya di masa silam.


Celan, yang bila kita kembali mengafirmasi jalan pikirnya Derrida, adalah kasus ekstrem sebuah korban dari trauma dan kekerasan yang jatuh dalam kekerasan lainnya, penghancuran diri dan penghapusan diri. Dengan bunuh diri, Celan melakukan “holocaust” terhadap dirinya sendiri. Karena ia percaya, hanya kematian dan pelenyapan diri yang akan mengakhiri penderitaan bathin dan kegilaannya akibat candu-ingatan.


Penderitaan bathin dan kegilaan yang telah mewariskan partita indah sebuah elegi dan nyanyian,

“Sia-sia kau gambar hati pada jendela:
Sang Adipati Kesunyian
Menggalang tentara di halaman istana.
Dikibarkannya panji di pohon
Sehelai daun yang bakal biru baginya saat musim gugur tiba;
Ia bagikan tangkai-tangkai kemuraman pada tentara,
Juga bunga sang waktu;
Dengan burung di rambut ia menjauh
Untuk menenggelamkan pedang-pedang.


Sia-sia kau gambar hati pada jendela:
Seorang dewa ada di kerumunan tentara,
Diselubungi jubah yang di tangga dulu tanggal dari bahumu,
Di kala malam, saat istana diamuk kobaran api,
Saat kau bicara layaknya manusia: kekasih….
Jubah itu tak dikenalinya, dan ia tak menghiba sang bintang,
Dan pada daun yang melayang di depan, ia tambatkan jalan.
‘O tangkai’, serasa didengarnya suara, O bunga sang waktu”.



(Paul Celan, Umsonst malst du Herzen).