Selasa, 27 Oktober 2015

Apa Puisi Itu?



Hak cipta ©Sulaiman Djaya (2007)

Untuk mendefinisikan apa itu puisi, saya mengalami kesulitan dan tak bisa mendefinisikannya, dan itu berbeda dengan kritikus dan analis sastra dan pakar bahasa. Meskipun demikian, saya memiliki pemahaman sendiri tentang apa itu puisi, walau tentu saja akan bersifat subjektif dan sepihak. Dan, sekedar mengutip, saya ingin mengawali esai singkat ini dengan apa yang ditulis Hiedegger tentang Puisi, Pemikiran, dan Dunia:

“To think is to confine yourself to a single thought // that one day stands still like a star in the world’s sky” (Martin Heidegger: Poetry, Language and Thought).

Saya percaya puisi lahir dari keintiman seseorang dengan dunia dan keseharian. Dan sampai saat ini, jika pendapat saya tidak berubah, saya mempercayai puisi yang berhasil adalah puisi yang sanggup menciptakan realitas dalam puisi, yang dengan itu pula pencitraan dan kiasan menjalankan fungsinya, bahkan pada tingkat lebih jauh, pencitraan dan kiasan tersebut sanggup menciptakan fantasi dan transendensi demi menggambarkan sebuah dunia-realitas yang unik dan memang hanya milik puisi itu sendiri.

Karena itulah saya menuliskan saja apa yang tiba-tiba muncul dalam hati saya ketika saya berjumpa atau pun mengalami moment keintiman dengan apa yang saya dekati dengan pancaindra dan bathin saya. Lagi-lagi, saya jadi teringat dengan apa yang dikatakan Heidegger ketika ia berpendapat bahwa puisi bisa dipahami sebagai puncak pemikiran, akan tetapi pemikiran yang dimaksudkan Heidegger itu tak semata hanya kemampuan dan kapasitas salah-satu fakultas tubuh kita yang kita sebut rasio.

Pemikiran yang dimaksudkannya adalah keterlibatan dan keintiman seluruh pancaindera kita termasuk hati.

Heidegger memang berbicara tentang ketersituasian manusia dalam dunia, apa yang ia sendiri menyebutnya sebagai Being in the World alias “berada dalam dunia”, yang juga mengingatkan saya pada eksistensialisme-nya Soren Kierkegaard, mirip seperti ketika jatuh cinta yang dalam bahasa Inggris ditulis dan diucapkan menjadi “Fall In Love” alias Jatuh dalam Cinta atawa “berada dalam cinta”, yang bila kita kembali dalam pengertian Heidegger, puisi bisa juga dimengerti sebagai cara berada manusia dalam dunia.

Dengan keintiman itulah, seni dan puisi sanggup memungkinkan “Sang Ada” berbicara dengan terang dan jernih. Ambillah kasus lukisan sepatu petani-nya Van Gogh, yang dengan lukisan itu kita tak hanya memahami dan memandang sepatu sebagai semata-mata benda mati, tetapi lebih dari itu, kita mengalami arti sepatu yang unik dan kontekstual, papar Heidegger, di mana seni melibatkan perhatian bagi benda-benda dalam konteks dan arti historis mereka.

Sepatu dalam lukisan Van Gogh yang dimaksudkan adalah sejumlah cerita seorang petani, sepatu yang telah mengalami banyak kehidupan atau sejumlah peristiwa keseharian, pengalaman keprihatinan atau pun kemiskinan si pemiliknya, kehidupan dan keseharian si petani yang hendak diceritakan dan digambarkan Van Gogh dengan lukisannya itu.

Juga di sini, kita bisa menyebutkan lukisan Van Gogh lainnya, yaitu the Potato Eaters yang suram dan amat bersahaja itu.

Demikianlah, puisi yang saya pahami mestilah mengandung sekaligus hendak menceritakan realitas keintiman tersebut. Jika pun kita memandang penting retorika dan stilistika sebagai upaya pencapaian bahasa, tentulah dimengerti dalam kerangka modus ujaran dan penyampaiannya.

Pelukis lain yang saya pandang berhasil menampilkan keintiman yang saya maksudkan itu adalah juga Giovanni Segantini, ketika saya mempelajari sebuah lukisan miliknya yang menggambarkan seorang ibu yang tengah mendekap anaknya di sebuah pohon yang tak lagi memiliki daun. Seakan-akan Segantini hendak bercerita tentang kepedihan dan keprihatinan yang sama seperti yang ditampilkan oleh lukisan-lukisannya Van Gogh.

Saya kira, dalam konteks ini, penyair dapat pula belajar dari pelukis ketika hendak menyampaikan dunia yang ingin diceritakan atau pun digambarkan puisinya, seperti juga ia dapat belajar dari komponis untuk tekhnik bahasa dan nada-nada demi memungkinkan puisi yang ditulisnya terasa merayu dan indah.

Untuk saya sendiri, pelajaran pertama tentang keintiman memanglah alam, lalu kemudian membaca karya-karya puisi para penyair sufi yang menurut saya adalah para maestro simbolis, yang telah mengajarkan kepada saya tentang bahasa sederhana yang padat sekaligus kental secara musikal, memiuh dan kaya makna.

Selanjutnya, saya mengasah kepekaan bathin saya dengan berusaha mempelajari dan memahami lukisan-lukisannya para pelukis naturalis dan impresionis yang bagi saya pandai menggambarkan suasana dan perasaan sejauh menyangkut dunia dan keseharian yang mereka jelmakan sebagai sejumlah tubuh, subjek, dan tentu saja keseharian. Singkatnya, selain tentu saja kitab suci, ada tiga khasanah yang berjasa dalam pembelajaran saya untuk menulis: sufisme, musik, dan lukisan.

Dan, suatu ketika, saya jatuh cinta, hanya saja hal itu tak lebih suatu pengalaman puitis, suatu pengalaman yang kemudian mengajarkan saya belajar menulis puisi:

Aku tahu bagaimana rasanya
jatuh cinta. Dan bagaimana ia mengkhianatiku
dengan selembut keindahan

yang membingungkan.
Aku tahu seseorang harus belajar merasa kecewa
sebelum ia menulis lagu

dan sajak cinta.
Di saat-saat kubosan dan ingin tidur
aku cuma berharap masih bisa

mengenang bagaimana derai rambutmu
seakan malam yang dilanda gundah
pada kertas-kertas yang berserakan.

Angin yang terus mendesir pelan
membuatku kembali teringat burung-burung liar
yang berlesatan bersama setiap kata

yang kau ucapkan. Sejak saat itulah
aku memahami keindahan yang kukenal
seumpama sepasukan penjahat

yang riang bermain-main dengan kesedihan
seorang lelaki. Sejak saat itu,
aku ingin terus terbaring saja


dan bermimpi di lelap sajak. 


Sabtu, 24 Oktober 2015

Epos Qasim Bin Hasan



Oleh Farida Gulmohammadi (penulis dari Republik Islam Iran)

Pada malam Asyura, Imam Husain as telah memberitahu para sahabatnya bahwa mereka besok akan syahid. "Kalian semua besok akan terbunuh." Ujar beliau. Saat itu, Qasim bin Hasan bin Ali as, seorang remaja rupawan datang menghadap Imam Husain as. "Paman," ujar putera Imam Hasan as itu, "apakah aku juga akan terbunuh?" Pertanyaan ini membuat sang Imam terharu dan segera memeluk erat kemenakannya itu, lalu bertanya: "Qasim, bagaimanakah engkau memandang kematian?" Anak yang baru beranjak usia remaja itu menjawab: "Kematian bagiku adalah lebih manis daripada madu."[1] Mendengar jawaban ini, Imam segera memberitahu: "Kamu akan terbunuh setelah terjadi bencana besar, dan bahkan Ali Asghar pun juga akan terbunuh."

Pada hari Asyura, saat sudah mempersiapkan diri untuk berperang, Qasim pergi menghadap pamannya untuk mengajukan sebuah permohonan. "Paman, izinkan aku untuk ikut berperang." Namun Imam menjawab: "Kamu bagiku adalah cindera mata dari kakakku,[2] maka bagaimana aku dapat merelakan kematianmu?" Sikap Imam Husain as ini tidak memudarkan semangat Qasim. Dia tetap memohon lagi agar beliau membiarkannya bertempur melawan musuh. Namun Imam tetap menahan kepergian Qasim. Remaja tampan ini bersedih lalu terduduk seorang diri sambil berenung penuh duka cita. Di saat itu tiba-tiba dia teringat pada pesan ayahnya dulu, Imam Hasan as. Saat masih hidup, kepada Qasim, Imam Hasan pernah berpesan: "Jika nanti suatu penderitaan sedang menimpamu, maka bukalah catatan yang kamu ikatkan di lenganmu, lalu bacalah dan amalkanlah."[3]

Qasim kemudian berpikir-pikir lagi tentang musibah sedemikian besar yang belum pernah dia alami sebelumnya. Dari situ dia lantas merasa bahwa sekarang inilah saatnya dia membaca surat wasiat itu. Surat itu dibukanya dan di situ dia mendapatkan pesan ayahnya yang mengatakan: "Hai Qasim, aku berpesan kepadamu bahwa jika kamu mendapati pamanmu Husain di Karbala dalam keadaan terasing dan kerumuni oleh musuh, maka janganlah kamu tinggalkan jihad, dan jangan sampai kamu enggan mengorbankan jiwamu deminya."[4] Qasim lalu membawa pesan tertulis itu kepada Imam Husain as. Imam Husain as terharu dan menangis begitu menyaksikan ciri khas tulisan kangan kakak yang amat dicintainya itu, lalu berkata kepada Qasim: "Jika ayahmu telah berwasiat demikian kepadamu, maka saudaraku Hasan itu juga pernah berwasiat suatu hal kepadaku sehingga akupun sekarang harus menikahkan puteriku Fatimah denganmu."

Imam meraih tangan Qasim dan membawanya ke dalam tenda. Beliau bertanya kepada semua orang dan para pemuda yang ada di sekitarnya: "Adakah pakaian bagus untuk aku kenakan kepada Qasim?" Semua orang menjawab tidak. Imam lalu meminta adiknya, Hazrat Zainab, supaya mengambilkan beberapa potong pakaian peninggalan Imam Hasan as dari sebuah peti. Setelah pakaian itu didatangkan, beliau mengenakan serban dan gamis Imam Hasan itu kepada Qasim lalu meng-akad nikahkan Fatimah dengannya. Begitu selesai, Imam berujar kepada Qasim: "Hai puteraku, adakah sekarang kamu siap melangkah menuju kematian?"[5] Qasim menjawab: "Entahlah paman, bagaimana aku harus pergi meninggalkanmu seorang diri tanpa pelindung dan kawan diantara sekian banyak musuh. Yang pasti, jiwaku siap berkorban untuk jiwamu, diriku siap melindungi dirimu.[6]"

Setelah kembali mengajukan permohonan dengan amat sangat untuk berperang, Imam Husain as akhirnya rela melepaskan Qasim berperang melawan musuh. Beliau menyobek serbannya menjadi dua potong, satu untuk beliau pakai lagi untuk serban, selebihnya beliau kenakan dalam bentuk kain kafan. Setelah menyerahkan sebilah pedang kepada Qasim, Imam pun melepaskan kepergiannya ke arah musuh yang tak sabar menanti korban-korban suci selanjutnya.

Di medan pertempuran, Qasim sang remaja suci itu menyorot tajam mata Umar bin Sa'ad kemudian menumbuknya dengan kata-kata: "Hai Umar, masihkan kamu tidak takut kepada Allah?! Apakah kamu tetap saja mengabaikan hak Rasulullah?! Lantas bagaimana kamu bisa mengaku sebagai seorang muslim sementara kamu memblokir sungai Eufrat agar putera dan Ahlul Bait Rasul yang berteriak-teriak kehausan itu tidak dapat meneguk airnya?!" Dengan angkuhnya Umar bin Sa'ad menjawab: "Aku hanya akan membiarkan kalian meminum airnya jika kalian menanggalkan sikap kalian." "Oh tidak, terima kasih, (kami tidak akan meminumnya)." Sergah Qasim.

Saat menatap wajah-wajah musuh yang berjajar di depannya, putera Imam Hasan as itu sempat mengucapkan sebuah syair tentang jiwanya yang sudah membaja dan tak kenal kata gentar itu. Syair itu berbunyi: "Jika kalian belum mengenalku, maka ketahuilah bahwa akulah putera Al-Hasan, cucu Nabi Al-Mustafa, manusia kepercayaan (Allah). Dan ini adalah Husain yang sedang menderita bagai tawanan yang disandera di tengah orang-orang."[7]

Meski usianya masih belia, Qasim akhirnya mementaskan kehebatan ilmu perang yang dikuasainya di atas gelanggang sejarah heroisme Karbala. Sejumlah musuh jatuh bergelimpangan setelah menikmati kerasnya sabetan pedang Qasim. Syaikh Mufid ra dalam kitabnya, Al-Irsyad, meriwayatkan dari Hamid bin Muslim yang berkata: "Saat itu aku berada di tengah pasukan Ibnu Sa'ad. Aku menyaksikan seorang remaja belia yang wajahnya sangat rupawan dan bersinar bagai purnama. Dia mengenakan pakaian dan izar (semacam sarung). Kakinya mengenakan sepasang sandal yang tali satu diantaranya sudah terputus. Menyaksikan remaja itu, Amr bin Sa'ad Al-Izadi berkata: 'Demi Allah, aku memperlakukannya dengan kasar dan membunuhnya.'[8] "Aku berseru: 'Subhanallah! Kehendak macam apakah yang kamu katakan ini?! Orang sebanyak itu dan kini sedang mengelilinginya itu sudah cukup untuk membantainya. Lantas untuk apa kamu mau ikut-ikutan menghabisinya?!'

"Saat aku masih berpikir demikian, seekor kuda tiba-tiba menerjang kemudian disusul dengan hantaman pedang yang mengena bagian kepala anak yang sedang teraniaya itu. Kepalanya terkoyak sehingga Qasim tersungkur ke tanah dan berteriak: 'Oh paman, aku haus, aku dahaga. Beri aku seteguk air minum!' "Hazrat Husain bin Ali dari jauh mencoba memberinya semangat dan ketabahan hati, sementara pasukan musuh terus mengerubungi sambil menganiayanya secara bertubi-tubi. Saat mereka hendak memenggal kepalanya, remaja belia itu merintih dan meminta diberi kesempatan untuk mengucapkan suatu wasiat kepada seseorang. Namun, saat dia tidak melihat siapapun di dekatnya kecuali kuda tunggangannya. Maka, ditujukan kepada kudanya itu dia berkata: "Katakanlah kepada puteri pamanku, sesungguhnya aku terbunuh dalam keadaan dahaga seorang diri. Maka, jika kamu meminum air, ingatlah aku dan ratapilah aku, dan jika (di sini) kamu hendak mewarnai kukumu dengan sesuatu, maka warnailah dengan darahku."[9]

Dalam keadaan tak berdaya itu, Qasim dipenggal oleh musuh. Kepalanya terpisah dari badan. Menyaksikan pemandangan sedemikian biadab itu, Imam Husain as segera menerjang barisan pasukan musuh. Bagaikan elang yang menukik dari angkasa saat memburu mangsa, Imam Husain as menerobos gerombolan musuh dan mengincar manusia liar yang telah memenggal kepada kepala Qasim. Begitu manusia biadab bernama Amr bin Sa’ad itu terlihat di depan beliau, Imam Husain as segera membabatkan pedangnya ke arah Amr. Amr pun mengerang kesakitan begitu melihat tangannya sudah terpisah dari pangkal lengannya akibat sabetan pedang Imam Husain as. Namun, tanpa ampun lagi, diiringi gelegar suara Imam Husain as yang menggetarkan nyali pasukan musuh yang ada di sekitarnya, Amr bin Sa’ad mendapat serangan kedua kalinya dari pedang Imam. Manusia sadis itu terhempas dari kudanya. Dalam keadaan bermandi darah dia pun sekarat dan mati.

Debu yang beterbangan pun reda. Di saat musuh tercengang, Imam mendekati dan meraih kepala Qasim dan memeluknya jasadnya yang tak bernyawa itu. Imam berucap: “Demi Allah, adalah sesuatu yang tidak mungkin bagi pamanmu untuk tidak memenuhi panggilanmu jika kamu memanggilnya, atau memenuhinya tetapi tidak berguna untukmu.”[10] Hai Puteraku, orang-orang kafir telah membunuhmu. Mereka tidak tahu siapa kamu, ayahmu dan kakekmu.”[11]

Gugurnya Qasim di medan jihad tak urung disambut dengan jerit tangis histeris isteri yang baru saja dinikahinya. Ratapan histeris juga datang dari ibu Qasim. Mereka melumuri wajah mereka dengan darah suci Qasim sambil menangis tanpa henti hingga kemudian dengan hati pilu Imam Husain as meminta mereka untuk tabah di depan cobaan yang amat besar ini. Beliau kemudian membawa jenazah suci Qasim ke dalam tenda yang khusus untuk dibaringkan di sisi jenazah para syuhada sebelum Qasim. Dengan wajah yang tak dapat membendung luapan duka, beliau menatap ke arah langit dan berucap: “Ya Allah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa, Engkau tahu bahwa orang-orang (Kufah) itu telah mengundangku untuk mendukungku. Namun sekarang mereka telah melepaskan tangan dariku, kemudian menjabat tangan musuhku. Mereka membantu musuh dan bangkit memerangiku. Ya Allah Yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana, binasakanlah mereka, ceri beraikan mereka hingga tidak ada lagi satupun diantara mereka yang tersisa.  Laknat Allah atas para pembunuh kalian (para syuhada).”

Di Karbala, saat putera-putera ksatria Ali bin Abi Thalib as tidak tersisa lagi kecuali Imam Husain as dan Abu Fadl Abbas, Abul Fadhl Abbas datang menghampiri kakaknya, Imam Husain as dan berkata:” “Turbunuhya para sahabat dan kerabatku kini telah membuatku tak kuasa lagi menahan rasa sabar. Maka izinkan aku untuk membalas darah mereka.” Saudara-saudara Imam Husain as yang sudah maju ke depan dan membawa bendera perlawanan sebelum Abul Fadhl Abbas ialah Abdullah, Jakfar, dan Ustman. Mereka sudah gugur mendahului Abul Fadhl Abbas hingga akhirnya tibalah giliran Abul Fadhl Abbas sendiri untuk melakukan perlawanan di atas pentas peperangan yang sebenarnya lebih merupakan panggung pembantaian itu.


Catatan: 
[1] Sugand Nameh hal.284
[2] Ibid.
[3] Ibid.
[4] Ramzul Mushibah juz 2 hal.190
[5] Anwar Assyahadah hal.126
[6] Ibid hal 125
[7] Ramzul Mushibah juz 2 hal.191
[8] Anwar Assyahadah hal.126
[9] Ibid hal.127
[10]Biharul Anwar juz 45 hal.35
[11] Anwar Assyahadah hal.182

Jumat, 23 Oktober 2015

Al-Qur’an, Al-Hadits, Nahjul Balaghah, dan Soal Takwil



Oleh Ayatullah Sayid Ali Khamenei (Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran dan Marji’ Syi’ah)

"Fitnah ibarat kuda liar yang menggilas masyarakat, menginjak-injak mereka dengan kukunya, dan menendang mereka dengan ujung kakinya, maka mereka tersesat di sana dan kebingungan, bodoh dan tergila-gila di rumah terbaik dan tetangga terburuk. Tidur mereka di sana adalah keterjagaan dan celak mata mereka adalah air mata … " (Nahjul Balaghah).

Adalah keberuntungan yang luar biasa bagi saya saat menyaksikan terbentuknya lembaga baru di bidang Nahjul Balaghah yang direalisasikan oleh saudara-saudara kita tercinta pada Institut Nahjul Balaghah. Saya selaku warga Iran yang sangat menyukai ajaran Nahjul Balaghah, selaku muslim yang telah meluangkan sebagian masa kehidupan intelektual dan penelitiannya di bidang Nahjul Balaghah, dan juga selaku penanggung jawab negara Republik Islam Iran mengucapkan selamat atas gerakan yang penuh berkah dan berakibat baik ini, dengan harapan semoga tingkatan ini menjadi pijakan pemula untuk mencapai tahapan berikutnya yang lebih sempurna.

Semangat saudara-saudara kita ini layak mendapatkan penghargaan yang besar. Proyek ini tidak boleh berhenti sampai di sini saja, melainkan harus berlanjut seterusnya. Sudah barang tentu, selama jarak setahun antara kongres tahun kemarin sampai sekarang sudah ada beberapa usaha dan pekerjaan di berbagai bidang Nahjul Balaghah yang terlaksana dengan baik dan saya juga ikut terlibat di dalam sebagian aktivitas itu. Namun demikian, saya ingin menekankan kembali bahwa perkumpulan-perkumpulan ini harus menjadi pengantar untuk pekerjaan-pekerjaan berikutnya yang lebih besar. Sudah cukup lama tempo yang kita lalui tanpa menjalin hubungan dengan Nahjul Balaghah. Adapun sekarang, kita harus menggunakan peluang dan kesempatan yang ada secara optimal untuk menutupi kekurangan sebelumnya.

Memang benar mereka yang bekerja keras di bidang Nahjul Balaghah tidak sedikit, baik di Iran sendiri maupun di negara-negara Islam lainnya. Akan tetapi, masih tertinggal banyak pekerjaan utama dan asasi yang bisa digarap untuk menyebar-luaskan sekolah Nahjul Balaghah di segala penjuru dunia, kendati dasar dan pokok-pokoknya sedang dalam pembangunan secara bertahap. Sungguh, Nahjul Balaghah adalah simpanan istimewa nan agung yang keberadaannya saja susah untuk dijangkau atau dimengerti (apalagi lebih dari itu), dan setelah mampu menyentuh keberadaanya, baru memasuki babak berikutnya yang lebih utama, yaitu penggunaan dan pengambilan untung darinya. Adapun sekarang, kita masih belum mengetahui hakikat keberadaan Nahjul Balaghah itu sendiri. Memang iya, seperti halnya referensi-referensi kaya Islam lainnya yang memiliki nasib serupa, hanya saja Nahjul Balaghah adalah pengecualian tersendiri mengingat kelasnya yang sangat tinggi. Oleh karena itu, harus diperhitungkan dan disikapi lebih istimewa layaknya simpanan yang sangat berharga.

Apa yang ingin saya sampaikan sekarang adalah urutan dari sekian harapan dan cita-cita yang sejak dulu sampai saat ini kita miliki, yaitu harapan agar masyarakat kita dekat dan bersahabat dengan Nahjul Balaghah. Untuk masa-masa sekarang tidak bisa berharap banyak dari orang-orang seperti saya, kecuali jika Allah SWT memberi taufik, suatu hari saya dapat kembali ke kamar-kamar talabeh (pelajar agama) dan berpeluang aktif menjalankan tugas-tugas tersebut. Saya ingin berbicara seputar perhatian yang harus kita pusatkan pada Nahjul Balaghah dan sampai saat ini masih minim sekali. Seakan kita tidak tahu betapa agungnya simpanan makrifat tanpa batas yang terjaga dalam kitab ini, atau sampai sekarang masyarakat kita, bahkan para peneliti kita pun belum menyadari secara penuh pentingnya mencapai sumber agung yang tiada tara ini.

Pertama-tama, kitab ini terhitung referensi otentik kelas pertama Islam, dan sumber seperti ini sangatlah penting, khususnya dalam kondisi dan situasi historis masa kini yang berjarak seribu empat ratus tahun dari sejarah munculnya Islam. Urgensi itu juga disebabkan oleh merebaknya takwil dan interpretasi sesuka hati di sepanjang sejarah, dan ini merupakan wabah intelektual religius. Ketika zaman telah berjarak jauh dari sumber pancaran agama, maka benak, kreativitas, inovasi, dan gejolak internal manusia bermental menggiringnya untuk menarik kesimpulan berdasarkan selera pribadi masing-masing, dan secara misterius tak terlihat, telah berhasil menyimpangkan agama-agama yang pernah ada. Alasan kenapa agama-agama terdahulu telah menyimpang, salah satu penyakit utamanya adalah teks-teks otentik dan pertama mereka tidak terjaga secara selamat dan sempurna.

Satu keistimewaan besar yang kita miliki adalah Al-Qur’an yang tidak terjamah oleh tangan jahat perubahan dan penyimpangan. Hal inilah yang menyebabkan tetapnya sebuah poros utama dalam interpretasi atau pemahaman tentang Islam di tengah luasnya keberagaman selera yang ada. Pada akhirnya masih terdapat titik yang menjadi sandaran akhir untuk akidah dan pendapat yang berbeda-beda, yaitu Al-Qur’an. Namun hal itu tidak cukup. Dalam artian, belum dapat menghalangi arus takwil dan kecenderungan pendapat pribadi, selera personal, dan hawa nafsu.

Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) as sendiri suatu saat berkata pada Ibn Abbas,

لاَ تُخَاصِمْهُمْ بِالْقُرْآنِ، فَإِنَّ الْقُرْآنَ حَمَّالٌ ذُوْ وُجُوْهٍ

“Janganlah kamu menghadapi Khawarij dengan Al-Qur’an, karena Al-Qur’an memikul banyak arti dan punya beragam wajah.”[1]

Sungguh, orang-orang yang menerapkan ayat “dan sebagian orang, ada yang menjual dirinya demi keridhaan Allah”—yang sebenarnya turun berkenaan tentang Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as—untuk Ibn Muljam, mereka betul-betul telah menyimpang dari jalan yang benar. Lalu, apa mungkin menghadapi orang seperti ini dengan menggunakan Al-Qur’an?! (Jelas tidak mungkin, karena mereka mengartikannya sesuka hati). Pada zaman sekarang, kita juga menyaksikan hal yang sama. Ada orang-orang yang bersandarkan kepada Al-Qur’an dengan metode takwil! Dalam situasi dan kondisi seperti ini, semakin banyak teks otentik Islam yang sampai kepada kita dari awal sejarah Islam, maka semakin besar pula peluang bagi para peneliti untuk mencapai ajaran Islam yang sebenarnya.

Dulu kita melihat ahli takwil—yang sekarang lebih dikenal dengan iltiqâthî (aliran yang mencampuraduk sana dan sini)—tidak peduli terhadap hadis, sehingga kapan saja kita membawakan hadis, mereka langsung berkata, “Apa kamu tidak menerima dan mengimani Al-Qur’an? Seakan-akan ada pertentangan antara kepercayaan terhadap Al-Qur’an dan keyakinan pada hadis!

Awal-awal kita heran. Tapi tidak begitu sensitif terhadap masalah ini. Sampai akhirnya kita sadar bagaimana mereka memperlakukan Al-Qur’an dan bagaimana mereka menolak hadis yang shahih dan sharih (jelas dan tidak ambigu). Ketika itu kita baru mengerti alasan sesungguhnya kenapa mereka menentang hadis. Di kala itu, Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) as mengingatkan Ibn Abbas seraya berkata, “Berargumentasilah dengan sunnah untuk menghadapi Khawarij, karena sunnah tidak bisa ditakwil lagi.” Jadi jelas, ketika kita hidup dalam situasi dan kondisi dunia Islam kontemporer yang pengikutnya mencapai jumlah yang jauh lebih besar dari sebelumnya dan berhasil menempati bagian terbesar dari geografi dunia, disertai oleh multi-kultur dan beragam pendapat, aliran dan kelompok yang mendominasi jalan pikiran dan kejiwaan mereka, maka apabila kita dapat menghidupkan kembali teks-teks awal Islam, niscaya kita telah memberikan kontribusi besar dalam mewujudkan poros utama untuk berijtihad dan menjelaskan pandangan Islam.

Pandanglah Nahjul Balaghah dari sudut ini. Dengan begitu, Nahjul Balaghah tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan kitab hadis fulan sahabat atau tabi’in yang terbentuk pada tahun lima puluh, enam puluh, seratus, atau seratus empat puluh Hijriah. Nahjul Balaghah adalah ucapan orang yang pertama kali beriman kepada wahyu Tuhan yang disampaikan oleh nabi Muhammad saw. Nahjul Balaghah adalah kata-kata khalifah Nabi, yaitu khalifah yang disepakati oleh semua orang Islam. Yaitu imam yang menurut pengikut Syi’ah dan mayoritas pengikut Ahlusunnah (Sunni) adalah sahabat yang paling baik dan utama. Itu artinya ada ucapan-ucapan yang tersimpan secara utuh dan sampai kepada kita dari orang yang agung dan penting sekali, mulai dari ceramah atau kata-kata beliau yang lain. Maka sudah barang tentu ini adalah teks yang otentik dan agung berkaitan dengan ajaran-ajaran Islam, teks yang menyelesaikan segala permasalahan: tauhid, kenabian, filsafat sejarah, akhlak, irfan, dan lain sebagainya. Sebagaimana Anda perhatikan seksama, kita bisa menemukan dasar-dasar keyakinan yang sempurna dan komprehensif tentang Islam dari Nahjul Balaghah.

Tanpa diragukan lagi, kitab ini adalah pendamping Al-Qur’an dan setingkat di bawahnya. Kita tidak punya kitab lain yang sampai pada derajat nilai pengakuan, komprehensivitas, dan historis seperti ini. Oleh karena itu, menghidupkan kembali Nahjul Balaghah bukan hanya tugas orang-orang Syi’ah semata, melainkan juga tugas bagi semua orang Islam, karena dalam Islam tidak ada satu orang pun yang menolak Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) as. Maka setiap muslim bertugas untuk menghidupkan Nahjul Balaghah sebagai warisan tiada tara Islam. Penghidupan ini tidak berarti memperbanyak cetakan yang—alhamdulillâh—sudah banyak. Melainkan kajian dan penelitian di bidang Nahjul Balaghah, sebagaimana yang pernah dilakukan terhadap Al-Qur’an. Sudah banyak tulisan di bidang tafsir Al-Qur’an dan karya di bidang ilmu-ilmu Al-Qur’an. Upaya yang sama juga harus dilakukan untuk Nahjul Balaghah. Ia harus diajarkan sebagaimana Al-Qur’an diajarkan, karena ia adalah lanjutan dan ekor Al-Qur’an itu sendiri. Sebagaimana muslimin mewajibkan diri mereka untuk mengenal Al-Qur’an dan berteman dengannya, dan sebaliknya adalah aib dan kekurangan bagi mereka, maka terhadap Nahjul Balaghah pun mereka harus bertindak demikian.

Poin luar biasa penting lainnya yang ingin saya sampaikan di sini adalah tugas kita semua untuk mengetahui konteks munculnya kata-kata ini, sekaligus juga kaadaan si pembicara. Pengenalan ini memberikan kita kesembuhan yang cepat bagi berbagai penyakit sosial masa kini. Karena jika kita perhatikan, pembicaranya bukanlah orang biasa, melainkan manusia yang berhasil menyatukan dua keistimewaan sehingga ucapan-ucapannya naik sampai tingkat yang luar biasa. Dua keistimewaan itu adalah hikmah dan kekuasaan. Beliau adalah seorang hakim menurut yang disinyalir Al-Qur’an dengan firman-Nya, “Dia memberi hikmah kepada siapa pun yang dikehendaki.” Beliau mengenal jagat raya, manusia, dan segala ciptaan lainnya secara baik, teliti, dan sempurna. Dan itulah seorang hakim. Dalam terminologi orang yang meyakini beliau sebagai imam suci, hal itu didapat melalui ilham Allah SWT dan dalam terminologi mereka yang tidak mengimani kesuciannya, hal itu diperoleh lewat pelajaran Rasulullah saw. Bagaimanapun juga, yang jelas tak seorang pun meragukan bahwa beliau adalah manusia berbashirah dan berhikmah, sebagaimana para nabi, dan beliau mengetahui segala hakikat penciptaan serta apa yang terdapat dalam simpanan-simpanan Allah SWT.

Adapun keistimewaan kedua pembicara Nahjul Balaghah adalah beliau penguasa dan pemimpin masyarakat Islam pada periode tertentu yang bertanggung jawab mengendalikan pemerintahan Islam pada zamannya. Dua keistimewaan hikmah dan kekuasaan ini terdapat pada sosok Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) as sehingga ucapan-ucapan beliau terkatrol sampai tingkat yang luar biasa tinggi melebihi kata-kata mutiara biasa lainnya mengingat dimensi baru yang diperoleh.

Tapi, sebetulnya apakah sebenarnya kata-kata beliau itu? Apakah yang beliau utarakan dalam ceramah-ceramahnya? Apakah yang dikatakan oleh amîr dan penguasa pemerintahan Islam yang juga hakim ini? Sudah barang tentu apa yang beliau katakan sesuai dengan kebutuhan. Beliau pasti menjelaskan apa yang menjadi kebutuhan utama pada periode sejarah Islam dan zaman, dan tidak mungkin beliau mengutarakan hal-hal lain yang tidak diperlukan, karena tidak mungkin seorang dokter yang teliti dan penyayang memberikan resep dan saran yang tidak dibutuhkan pasien. Oleh karena itu, kita mendapatkan sesuatu yang berbeda dalam resep pemberian Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) as –dan apakah itu? Hal itu adalah situasi dan kondisi masyarakat Islam pada masa hidupnya.

Tidak ada catatan sejarah yang lebih jelas dan lebih teliti daripada Nahjul Balaghah (kata-kata Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as) dalam melaporkan kondisi dan situasi kehidupan masyarakat pada waktu itu. Sekarang ini kita hidup pada masa yang saya cenderung menyerupakannya dengan periode awal Islam. Artinya, kelahiran Islam kembali. Waktu itu adalah kelahiran pertama Islam. Adapun sekarang adalah kelahiran kedua Islam. Pada masa itu hukum-hukum Islam diberlakukan, dan sekarang kita sedang bergerak menuju penerapan hukum-hukum Islam tersebut. Kalau pada waktu itu musuh-musuh Islam yang sebetulnya memusuhi ajaran-ajaran Islam itu sendiri dan menentang masyarakat nabawi, begitu pula sekarang orang-orang yang memusuhi Revolusi kita pada hakikatnya mereka tidak menentang berdirinya Republik Iran, melainkan mereka melawan Islam itu sendiri. Tapi tentunya bukan atas nama hakikat Islam, dan harus disadari secara bersama bahwa ini bukanlah hal yang sederhana. Wajar-wajar saja apabila mereka menentang, bahkan apabila adikuasa, penguasa, penindas, kapitalis, penjajah, pelaku nepotisme, penginjak harkat manusia, terorisme nilai-nilai kemanusiaan dan pemberangus norma-norma Tuhan tidak takut atau tidak gelisah terhadap Islam, maka itu sangat mengherankan, karena itu berseberangan dengan arah tujuan dan target mereka. Hal itu pula yang dulu pernah terjadi pada masa Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) as.

Nah, kita bangsa Iran sebagai orang-orang yang memikul dasar-dasar sistem negara Islam ini di atas pundak bersama, apabila merujuk kepada Nahjul Balaghah, niscaya kita akan mendapatkan hal-hal yang sangat menarik. Kita akan mampu mendeteksi penyakit-penyakit yang mungkin terjangkit dan mengancam situasi seperti ini sekaligus juga mendapatkan penawarnya. Ini sangatlah menarik dan marilah kita sama-sama mencari obat penawar itu. Saya tidak ingin mengatakan bahwa semua yang terjadi pada awal sejarah Islam sekarang pun terjadi secara persis serambut demi serambut. Melainkan arah dan tujuan di masa itu adalah sama seperti yang sekarang terjadi. Hati orang-orang beriman pada waktu itu sama dengan hati mukminin sekarang. Harapan dan cita-cita mereka pun sama. Keraguan orang-orang munafik dan lemah iman pada waktu itu adalah sama seperti yang dialami munafikin dan orang-orang lemah iman masa kini. Rencana teror dan rongrongan musuh pada masa lalu seragam dengan rencana musuh dan terorisme kontemporer. Poros sistem kenegaraan kita adalah sama dengan poros sistem pemerintahan awal Islam. Keberpihakan sistem kita kepada masyarakat adalah sama seperti halnya keberpihakan sistem Islam pada waktu itu. Menerima Al-Qur’an sebagai dokumen yang asli, naskah yang sempurna, dan sebagai pembentuk situasi yang ideal, semua ini adalah arah dan tujuan universal yang seragam antara sistem pemerintahan Islam kita sekarang dengan sistem pemerintahan Islam pada awal kelahirannya. Maka dari itu, wajar saja apabila kita sudah memprediksi datangnya penyakit-penyakit tertentu yang mirip dengan wabah yang menyerang masyarakat Islam pada waktu itu, sehingga dengan mengenali penyakit tersebut jauh-jauh sebelumnya, kita akan dapat mengantisipasi diri untuk melawan dan mengobatinya.

Nahjul Balaghah mengajarkan penyakit-penyakit itu kepada kita. Meskipun tampaknya Nahjul Balaghah bukan catatan sejarah, tapi sebetulnya dia juga melaporkan sejarah pada waktu itu. Dan tentunya, jika saya ingin membawakan bukti-bukti bagaimana Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) as mengungkapkan masyarakat zamannya sekaligus penyakit dan penawar sosial pada waktu itu, jika saya ingin menerangkan bagaimana beliau memberi resep kepada kita yang apabila kita pelajari resep itu kita akan mengerti khasiatnya untuk mengobati penyakit tertentu yang kita temukan sekarang, jika saya ingin menguraikan semua itu, maka tidak cukup hanya dalam tempo dua atau tiga jam. Dan sayangnya, tidak bisa berharap banyak dari orang seperti saya sekarang. Mereka yang berpeluang harus menjalankan tugas mulia ini. Dan satu hal lagi perlu saya katakan, penelitian semacam ini terhadap Nahjul Balaghah bukanlah pekerjaan yang begitu sulit dan melelahkan. Cari dan bukalah selembar demi selembar, niscaya ia pasti menampakkan diri pada Anda.

Berikut ini saya ingin menyebutkan beberapa contoh dari penyakit yang pernah menimpa masyarakat pada masa Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) as sekaligus juga penawar yang beliau berikan.

Salah satu penyakit dan problema sosial pada waktu itu adalah dunia. Anda bisa saksikan betapa banyak ungkapan Nahjul Balaghah yang memperingatkan masyarakat dari dunia, cinta dunia, tipu daya dunia, dan bahaya dunia. Sebaliknya, kezuhudan Nahjul Balaghah merupakan salah satu bagian terpenting kitab ini. Untuk apa kezuhudan ini? Realitas apa pada waktu itu yang ingin ditunjukkan oleh seluruh kata-kata ini? Yaitu periode yang Nabi pernah bersabda tentangnya, “Kemiskinan adalah kebanggaanku.” Periode di mana Rasulullah dan masyarakat Islam pada waktu itu bangga dengan kemiskinannya. Mereka bangga karena tidak tercemar oleh dunia. Sosok seperti Abu Dzar Al-Ghifari, Salman Alfarisi, Abdullah bin Mas’ud, dan para penghuni Shuffah terhitung papan atas umat Islam kala itu. Mereka sama sekali tidak tertarik pada dunia, emas dan perak, dinar dan dirham, perhiasan dan permata, atau kekayaan berharga lainnya. Dan pada dasarnya, kilauan harta tidak bernilai di mata mereka daripada kilauan non-harta.

Rasulullah saw bersabda,

أَشْرَافُ أُمَّتِيْ أَصْحَابُ اللَّيْلِ وَ حَمَلَةُ الْقُرْآنِ

“Orang-orang mulia dari umatku adalah mereka yang menghabiskan malam bersama Allah SWT dan yang mengenal atau menghafal Al-Qur’an.”

Apa sebetulnya yang telah terjadi di tengah masayarakat Islam pada waktu itu sehingga sekitar lima puluh dari seratus ucapan Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) as berhubungan dengan zuhud? Apa yang ingin ditunjukkan oleh Nahjul Balaghah yang penuh dengan tuntunan zuhud dan anjuran kepadanya?

Iya, semua itu menunjukkan adanya penyakit tertentu pada masyarakat waktu itu. Resep Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) as yang bergejolak dan penuh dengan peringatan tentang dunia menunjukkan kepada kita betapa masyarakat pada waktu itu terjangkit parah oleh penyakit dunia. Dua puluh tiga tahun setelah kepergian Rasulullah saw mereka telah terjerat dan terjarah oleh dunia, dan Amirul Mukminin as berupaya untuk membuka perangkap tali yang mengikat kaki dan tangan mereka.

Ketika kita membaca tanggapan Nahjul Balaghah seputar dunia, kita diantar ke puncak tersendiri dan kata-kata Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) as di sini terasa memiliki ritme dan warna yang berbeda. Dari sekian ratus contoh kalimat beliau tentang dunia sulit bagi saya untuk melewatkan berapa baris berikut ini untuk tidak disampaikan pada kesempatan yang berharga ini, mengingat begitu indahnya kata-kata beliau:

فَإِنَّ الدُّنْيَا رَنِقٌ مَشْرَبُهَا رَدِعٌ مَشْرَعُهَا، يُوْنِقُ مَنْظَرُهَا وَ يُوْبِقُ مَخْبَرُهَا، غَرُوْرٌ حَائِلٌ وَ ضَوْءٌ آفِلٌ وَ ظِلٌّ زَائِلٌ وَ سَنَادٌ مَائِلٌ، حَتَّی إِذَا أَنِسَ نَافِرُهَا وَ اطْمَأَنَّ نَاکِرُهَا قَمَصَتْ بِأَرْجُلِهَا وَ قَنَصَتْ بِأَحْبُلِهَا وَ أَقْصَدَتْ بِأَسْهُمِهَا وَ أَعْلَقَتْ الْمَرْءَ أَوْهَاقَ الْمَنِيَّةِ قَائِدَةً لَهُ إِلَی ضَنْکِ الْمَضْجَعِ وَ وَحْشَةِ الْمَرْجَعِ

Perhatikan betapa indahnya kata-kata ini, dan tentunya tidak bisa diterjemahkan begitu saja. Para sastrawan dan pujangga harus duduk bersama untuk mencari kata padanan yang tepat kemudian menerjemahkannya. Apa yang menarik perhatian saya adalah ketika beliau mengomentari dunia seraya mengatakan, “Penipu yang berubah-rubah, cahaya yang memadam, bayangan yang menghilang, dan sandaran yang nyaris tumbang.” Kemudian beliau melanjutkan diskripsinya dengan berkata, “Sampai suatu saat orang yang lari dari dunia akan bergantung padanya.” Dunia tampil begitu indah dan menawan dengan segala tipu daya yang tersimpan sehingga orang yang sebelumnya lari ketakutan terpaksa harus menyerah dan bersahabat dengannya.

Beliau melanjutkan, “Orang yang mengingkari akan tenang bersamanya.” Artinya orang yang sebelumnya membenci dan tidak bersedia untuk bergandeng tangan dengan dunia, mau tidak mau dia merasakan ketenangan berada di sisinya.

Ini adalah penyakit. Sahabat-sahabat Nabi saw yang pada masa hidup beliau meninggalkan rumah, kehidupan, kebun-kebun rindang Mekkah, harta kekayaan, perdagangan, bahkan anak dan istri, mereka tinggalkan untuk ikut datang bersama Rasulullah saw ke Madinah demi Islam, mereka tahan lapar dan tabah terhadap segala kesulitan, tapi orang-orang itu pulalah yang dua puluh tiga tahun kemudian setelah kepergian Rasulullah saw begitu serakah terhadap dunia sehingga ketika mereka meninggal dunia, emas yang mereka wariskan terpaksa harus dibagi dan dipecah dengan menggunakan kampak karena terlalu besar. “Sampai suatu saat orang yang lari darinya akan bergantung padanya, dan orang yang membenci akan merasa tenang bersamanya.” Ini adalah puncak kata-kata Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) as, dan ini adalah satu contoh dari sekian banyak kalimat beliau tentang dunia.

Tema lain yang berkali-kali terulang dalam Nahjul Balaghah adalah sifat sombong, seperti inti ceramah beliau yang bernama al-Qâshi’ah. Tentunya tidak terbatas pada ceramah ini saja, melainkan di berbagai tempat lain juga berulang kali beliau membahas kesombongan.

Masalah sombong yang berarti menganggap diri sendiri lebih tinggi dan angkuh daripada orang lain adalah penyakit yang menyelewengkan Islam dan sistem politik Islam, merubah kekhalifahan menjadi kerajaan. Itu artinya sama dengan memberhangus semua hasil dan jerih payah Rasulullah saw—minimalnya—dalam selang berapa waktu. Karena itulah kenapa Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) as begitu perhatian dengan masalah ini.

Satu contoh dalam ceramah al-Qâshi’ah [2] yang makruf dan terkenal ini betapa indah, berbobot, dan kerasnya beliau berceramah. Berikut ini saya ingin mengutip sebagian dari ceramah tersebut:

فَاللهَ اللهَ في كِبْرِ الْحَمِيَّةِ، وَفَخْرِ الْجَاهلِيَّةِ! فَإِنَّهُ مَلاَقِحُ الشَّنَآنِ، وَمَنَافِخُ الشَّيْطانِ، اللاَِّتي خَدَعَ بِهَا الْاُْمَمَ الْمَاضِيَةَ، والْقُرُوْنَ الْخَالِيَةَ، حَتّى أَعْنَقُوا فِيْ حَنَادِسِ جَهَالَتِهِ، وَمهَاوِيْ ضَلاَلَتِهِ، ذُلُلاً عَنْ سِيَاقِهِ، سُلُساً فِي قِيَادِهِ،ألاَ فَالْحَذَرَ الْحَذَرَ مِنْ طَاعَةِ سَادَاتِكُمْ وَكُبَرَائِكُمْ! الَّذِينَ تَكَبَّرُوا عَنْ حَسَبِهِمْ، وَتَرَفَّعُوا فَوْقَ نَسَبِهِمْ

Ini adalah peringatan keras Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) as. Secara serius beliau mengingatkan masyarakat untuk menghindari dua hal berikut: (1) adalah sombong dan keangkuhan atau menganggap diri sendiri lebih unggul daripada yang lain, dan (2) sikap menerima kesombongan, keangkuhan, dan anggapan orang lain bahwa dirinya lebih tinggi atau unggul daripada selainnya. Artinya jangan pernah Anda angkuh dan menganggap diri kalian lebih unggul daripada orang lain dan juga jangan pasrah atau menerima sikap orang lain yang sombong dan punya anggapan seperti itu. Dua hal ini adalah jaminan terlaksananya etika Islam antara masyarakat dan penanggung jawab masayarakat Islam. Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) as menegaskan, masyarakat agar tidak angkuh terhadap orang lain sebagaimana beliau sendiri tidak sombong dan juga tidak pernah menerima perlakuan sombong orang lain.

Semua ini menunjukkan bahwa masyarakat pada waktu itu terjangkit penyakit sombong dan angkuh. Kedua penyakit tersebut di atas ada pada mereka; kesombongan sekaligus juga pasrah dan menerima keangkuhan orang lain. Untuk meyakinkan diri, silakan Anda merujuk pada buku sejarah tentang masyarakat pada waktu itu. Mereka yang mengenal sejarah periode itu mengetahui persis bahwa penyakit utama masyarakat pada waktu itu adalah dua hal tersebut: sebagian dari mereka angkuh, congkak, sombong, dan menganggap dirinya lebih tinggi daripada orang lain, seperti Quraisy lebih tinggi dari selain Quraisy, famili dari suku Arab tertentu lebih unggul dari keluarga suku lain. Dan sayangnya, penyakit ini begitu cepat merebak di tengah masyarakat dan orang-orang sombong segera bermunculan di berbagai penjuru setelah kepergian Rasulullah saw. Akibatnya, seperti disebutkan oleh Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) as, “Fainnahû malâqihusy syana’ân …”, Yaitu tempat kelahiran dan menjamurnya perbedaan dan perpecahan. Ketika seseorang menganggap dirinya lebih unggul daripada yang lain, ketika golongan tertentu beranggapan mereka lebih tinggi daripada golongan yang lain, maka saat itu adalah hari pertama perpecahan dan awal pertengkaran. Ketika kita memperhatikan poin-poin teliti dari ucapan Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) as, ternyata beliau telah menyebutkan semua karakter yang bersangkutan.

Penyakit kedua yang dialami masayarakat beliau adalah menerima dan menyerah terhadap keangkuhan orang lain. Yaitu, orang yang tertindas pasrah dengan ketertindasannya dan menerima bahwa mereka memang harus tertindas. Cobalah kita membaca sejarah masa itu, niscaya kita akan mendapatkan banyak bukti kepasrahan mereka terhadap kezaliman atas diri mereka, pasrah pada kesombongan orang lain dan pasrah pada kehidupan marginal atau selalu di bawah. Anda akan terenyuh menyaksikan realitas masyarakat pada waktu itu. Setiap orang yang hendak mengangkat kepalanya dan unjuk rasa senantiasa diserang habis-habisan, dan ini (unjuk rasa) adalah salah satu karakter masyarakat Irak sepanjang sejarah. Namun demikian, sebagaimana tercatat juga oleh sejarah, orang-orang Kufah bukan tipe masyarakat yang setia dan tepat janji, dan ini karakter yang melahirkan berbagai karakter buruk lainnya. Tetapi secara umum masyarakat Irak pada waktu itu adalah masyarakat yang punya watak tinggi dan tidak pernah menerima penguasa-penguasa Syam. Menurut saya, sepertinya salah satu sebabnya adalah kehadiran Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) as di tengah mereka untuk selang waktu yang cukup lama sehingga mereka mempelajari etika Islam yang mulia ini dari beliau.

Bagaimanapun juga kita menyaksikan sepanjang sejarah pemerintahan Bani Umayah dan Bani Abbas selama sekitar enam ratus tahun, satu-satunya sasaran empuk dan titik utama kelemahan masyarakat Islam pada periode itu adalah hal tersebut di atas, yaitu kepasrahan terhadap keangkuhan atau kezaliman. Kerusakan pun bersumber dari sini. Oleh karena itu, Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) as sering kali menentang masalah nepotisme dan sikap masyarakat yang menerima nepotisme penguasa serta kesombongan mereka. Ini adalah salah satu hal yang disebutkan Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) as dalam Nahjul Balaghah.

Masalah berikutnya adalah fitnah. Banyak sekali kata-kata beliau yang menakjubkan seputar fitnah. Sebagiannya multi-bobot, indah, dan komprehensif sangat mengherankan perhatian setiap orang yang memikirkannya! Apakah fitnah itu? Fitnah adalah ketercampuradukan dan kacaunya barisan, serta berbaurnya hak dan batil. [3]

وَ لَكِنْ يُؤْخَذُ مِنْ هذَا ضِغْثٌ، وَمِنْ هذَا ضِغْثٌ، فَيُمْزَجَانِ! فَهُنَالِكَ يَسْتَوْلي الشَّيْطَانُ عَلَى أَوْلِيَائِهِ

Masalah mencampuradukkan hak dan batil, penggunaan slogan hak untuk kepentingan batil, penggunaan simbol-simbol hak untuk mengokohkan fondasi kebatilan, semua ini adalah penyakit yang terdapat pada masa Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) as dan beliau tuangkan dalam kata-kata.

Ada dua macam ucapan Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) as tentang fitnah. Salah satu dari dua macam itu membicarakan fitnah secara universal. Saya ingin membaca dua ucapan beliau yang sudah saya catat sebelumnya.

Pada ceramah ke-2 Nahjul Balaghah, ketika beliau berbicara tentang kemunculan Rasulullah saw, beliau juga mengisyaratkan keadaan masyarakat seraya berkata:

في فِتَنٍ دَاسَتْهُمْ بِأَخْفَافِهَا، وَوَطِئَتْهُمْ بأَظْلاَفِهَا، وَقَامَتْ عَلَى سَنَابِكِهَا، فَهُمْ فِيهَا تَائِهُونَ حَائِرونَ جَاهِلُونَ مَفْتُونُونَ، في خَيْرِ دَار، وَشَرِّ جِيرَان، نَوْمُهُمْ سُهُودٌ، وَكُحْلُهُمْ دُمُوعٌ

Sungguh ini juga salah satu kalimat yang tidak bisa diterjemahkan begitu saja. Lagi-lagi para penyair dan sastrawan harus duduk bersama mengerahkan semua kemampuannya untuk menemukan padanan kata dan susunan kalimat yang tepat. Beliau berbicara tentang fitnah sebagai berikut:

Fitnah ibarat kuda liar yang menggilas masyarakat, menginjak-injak mereka dengan kukunya, dan menendang mereka dengan ujung kakinya, maka mereka tersesat di sana dan kebingungan, bodoh dan tergila-gila di rumah terbaik dan tetangga terburuk. Tidur mereka di sana adalah keterjagaan dan celak mata mereka adalah air mata….

Pembicaraan ini berkisar tentang fitnah pra pengutusan para nabi. Beliau menjelaskan kaadaan masyarakat di mana para nabi diutus dan pada hakikatnya menjelaskan pula kaadaan masyarakat pada zaman beliau seraya memperingatkan mereka agar menghindari fitnah.

Ini satu bentuk dari pembicaraan beliau seputar fitnah. Adapun bentuk lain dari penjelasan beliau tentang fitnah adalah spesifik tertuju pada person atau komunitas terbatas, seperti kata-kata beliau mengenai musuh-musuh yang telah menyulut api peperangan, yaitu Muawwiyah bin Abu Sufyan, Thalhah dan Zubair, ‘Aisyah, Khawarij dan lain sebagainya yang semua itu menurut kaca mata beliau terhitung fitnah.

Sebetulnya, bentuk kedua ini semacam pengungkapan atau penyingkapan. Beliau hendak melumpuhkan dan membasmi fitnah ini dengan cara membongkar wajah-wajah mereka, dan ini adalah sebaik-baik cara membasmi fitnah. Apakah fitnah? Ketika dua kubu sedang bertikai, maka debu bertebaran sehingga wajah-wajah mereka susah untuk dikenal sampai terkadang manusia membunuh saudaranya atau termakan senjata kawannya sendiri. Kadang-kadang dia berjalan bersama musuhnya dan saling percaya. Inilah yang disebut dengan fitnah.

Apa obat penawar fitnah? Penyingkapan. Tak satu hal pun lebih manjur daripada penyingkapan dalam membasmi fitnah. Oleh karena itu, Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) as melakukan penyingkapan wajah masing-masing, dan penyingkapan ini berarti ada penyakit yang sedang menimpa masyarakat pada waktu itu.

Dengan demikian, kira-kira saya sudah menjelaskan tiga tema, yaitu dunia, kesombongan, dan fitnah, dan masih ada ratusan lain seperti ini dalam Nahjul Balaghah yang bisa Anda temukan apabila Anda mencarinya. Saya sendiri belum menghitungnya sehingga bisa saya pastikan ada seratus masalah lain seperti ini, tapi saya melihatnya demikian. Bahkan lebih dari seratus tema besar yang bisa didapatkan melalui penelitian. Setiap Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) as berbicara tentang sebuah penawar, maka itu menunjukkan adanya penyakit tertentu, karena apabila penyakit itu tidak ada, pasti Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) as selaku hakim yang bertanggung jawab ganda terhadap masyarakat pada zamannya tidak akan berbicara demikian, melainkan dia akan membicarakan hal lain yang lebih berguna. Oleh karena itu, membicarakan hal-hal seperti itu berarti masyarakat pada waktu itu terjangkit oleh penyakit-penyakit tertentu dan penawarnya adalah anjuran-anjuran yang beliau berikan.

Seribu tiga ratus sekian puluh tahun telah berlalu, dan kita sekarang membutuhkan resep obat tersebut, baik untuk pengobatan dan juga untuk mengenali penyakit apa yang mengancam. Kondisi kita sekarang persis seperti dahulu kala. Kita terancam oleh cinta dunia, wabah kesombongan, cinta diri sendiri, nepotisme, dan bahaya fitnah-fitnah sosial yang mampu merobohkan semua bangunan kita. Maka dari itu, kita juga memerlukan penwawar-penawar tersebut, dan senantiasa kita akan merasa butuh kepada Nahjul Balaghah selama-lamanya, terlebih lagi apabila kita memandangnya dengan perspektif ini. Saya tidak melihat seseorang yang mengkaji Nahjul Balaghah dari sisi ini. Memang benar sudah banyak usaha yang dilakukan, tapi ini adalah perspektif baru dalam memandang Nahjul Balaghah. Bercerminlah pada Nahjul Balaghah dan apa yang Anda lihat pada diri Anda dalam kondisi sekarang? Apa penyakit yang Anda idap? Bahaya apa yang mengancam Anda? Dan peringatan apa yang tertuju pada Anda? Ketahuilah penawarnya ada pada Nahjul Balaghah, dan merupakan keharusan kontemporer bagi para peneliti untuk menggali Nahjul Balaghah dari sisi-sisi ini.

Bagaimanapun juga, di penghujung pembicaraan ini, pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih kepada saudara-saudara terhormat yang telah memberi warna baru pada kajian Nahjul Balaghah, dan memberi perhatian yang lebih ekstra terhadap kajian-kajian seperti ini, serta membersihkannya dari debu-debu kealpaan. Berikutnya, saya juga menghaturkan ucapan terima kasih kepada para peneliti yang menulis di bidang Nahjul Balaghah, mulai dari karya tafsir Nahjul Balaghah dan syarah, terjemah, kamus kata-kata Nahjul Balaghah dan lain sebagainya. Sekali lagi, saya tekankan untuk lebih serius lagi dalam masalah Nahjul Balaghah.

Sekarang ini, Nahjul Balaghah bagi kita lebih sensitif dari berbagai sisi. Di pembahasan tadi saya mengingatkan pada dua sisinya, dan masih banyak lagi sisi-sisi yang lain. Saya tekankan kembali bahwa kitab ini adalah simpanan agung yang tiada tara dan tidak akan pernah berakhir, dan pada zaman sekarang, kita lebih membutuhkannya, masayarakat kita dan masyarakat Islam lebih memerlukannya. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Catatan: [1] Nahjul Balaghah, surat ke-77. [2]Ceramah al-Qâshi’ah ke-192. [3] Ceramah ke-50.