Selasa, 22 Desember 2015

Tiongkok & Iran dalam Kancah Politik Global

(Foto: Pilot tempur China keturunan Uyghur)

Dalam wawancaranya dengan Southern Metropolitan Daily (SMD), Noam Chomsky menyatakan: “Iran dan Tiongkok tak pelak lagi membuat Amerika sakit kepala”. Memang, untuk konteks saat ini, selain Rusia, dua Negara yang paling diwaspadai perkembangannya oleh Amerika dkk adalah Iran dan Tiongkok, apalagi di era Rusia di bawah kepemimpinan Vladimir Putin, Iran dan Tiongkok dapat dikatakan tiga kekuatan dalam satu sekoci. Dan berikut wawancara lengkap antara Noam Chomsky dengan Southern Metropolitan Daily (SMD):

SOUTHERN METROPOLITAN DAILY (selanjutnya hanya disebut SMD): Sebagian terbesar orang Tiongkok telah menerima globalisasi. Selama tigapuluh tahun belakangan ini, terutama setelah Tiongkok masuk WTO, banyak orangTiongkok telah banyak memanfaatkannya. Tetapi tampaknya Anda melihat globalisasi dalam sorotan suram.

CHOMSKY: Hasil-hasil ekonomi yang telah dicapai Tiongkok sedikit sangkut pautnya dengan globalisasi. Kaitannya adalah dengan perdagangan dan ekspor. Tiongkok berangsur-angsur menjadi negeri yang berorientasi ekspor. Tak seorangpun, termasuk saya, menentang ekspor. Tetapi ini bukan globalisasi. Kenyataannya Tiongkok telah menjadi pabrik di dalam sistem produksi Asia Timur Laut. Bila dilihat seluruh region tersebut, kita akan menemukan sistem tersebut sangat dinamis. Volume ekspor Tiongkok luar biasa. Tetapi ada sesuatu yang luput dari pandangan kita. Ekspor Tiongkok berat bersandar pada ekspor Jepang, Korea dan AS. Negeri-negeri ini memberikan Tiongkok komponen-komponen teknik-tinggi (high-tech) dan teknologi. Tiongkok hanya melakukan perakitan, kemudian memberikan cap 'Made in China'.

“Tiongkok berkembang pesat sekali dengan mengikuti politik-politik yang bijaksana. Di satu pihak jutaan diangkat dari kemiskinan, tetapi, di lain pihak, ongkos-ongkos seperti perusakan lingkungan adalah sangat tinggi. Dan itu hanya ditransfer pada generasi berikutnya. Para ekonom tak mempedulikannya, tetapi itu adalah ongkos-ongkos yang akhirnya harus ada yang melunasinya. Mungkin itu adalah anak-anak kalian atau cucu-cucu kalian. Itu semua tak ada sangkut-pautnya dengan globalisasi dan WTO.

SMD: Apakah Anda berpendapat bahwa bangkitnya Tiongkok akan mengubah orde dunia. Apakah Tiongkok akan memainkan peranan seperti yang dimainkan Amerika sekarang?

NOAM CHOMSKY: “Saya kira tidak, saya juga tidak berharap demikian. Apakah Anda benar-benar berharap melihat Tiongkok dengan 800 pangkalan militer di seberang lautan, menginvasi dan menggulingkan pemerintah-pemerintah lain, atau melakukan tindakan teror?

Ini apa yang dilakukan oleh Amerika sekarang. Saya kira hal ini tidak akan dan tidak mungkin dilakukan Tiongkok. Saya juga tidak menginginkan hal ini terjadi. Tiongkok sudah mengubah dunia. Tiongkok dan bersama India meliputi jumlah lebih separuh penduduk dunia. Mereka sedang tumbuh dan berkembang. Tapi secara relatif, kemakmuran mereka hanyalah merupakan sebagian kecil saja dari kekayaan dunia. Kedua negeri tersebut masih akan menempuh jalan panjang dan akan menghadapi banyak masalah serius dalam negeri, yang saya harap akan dipecahkan berangsur-angsur. Tak ada gunanya untuk membanding-bandingkan pengaruh global mereka, dengan pengaruh negeri-negeri kaya. Harapan saya ialah, bahwa mereka akan memberikan pengaruh positif terhadap dunia, tetapi itu harus dicermati dengan hati-hati.

“Tiongkok harus bertanya pada diri sendiri, peranan apa yang (hendak) dimainkannya di dunia ini. Untung, Tiongkok tidak memainkan peranan sebagai agresor dengan anggaran militer yang besar, dan sebagainya.

Tetapi Tiongkok punya peranan yang harus dimainkannya. Ia merupakan sumber konsumer besar, dan terdapat yang pro dan yang menentangnya. Misalnya, Brazilia akan menarik keuntungan ekonomi bila ia mengekspor ke Tiongkok. Di segi lain, ekonominya juga akan mengalami kerusakan. Untuk negeri-negeri dengan sumber luar biasa seperti Brazilia dan Peru, ada satu masalah, ialah, bahwa mereka bersandar pada ekspor sumber-sumber utama. Hal mana bukan merupakan model perkembangan yang baik. Untuk mengubah cara perkembangan mereka, pertama-tama mereka harus memecahkan masalah domestik mereka. Mengubah diri mereka menjadi produsen-produsen, tidak hanya mengekspor bahan-bahan ekspor utama kepada negeri-negeri lain.

SMD: Apakah sukses yang dicapai Tiongkok itu meruapakan ancaman bagi demokrasi Barat?

CHOMSKY: Baiklah kita bikin perbandingan historis. Apakah bangkitnya Amerika Serikat merupakan ancaman terhadap Inggris yang demokratik? Amerika Serikat didirikan dengan membantai penduduk bumiputera (suku Indian) dan dengan sistem perbudakan. Apakah model ini cocok untuk negeri-negeri lain? Apakah Anda ingin Tiongkok belajar dari model ini? Benar, bahwa Amerika Serikat berkembang menjadi negeri demokrasi yang kuat di banyak segi, tetapi demokrasi AS itu tidak dikembangkan dari model ini, yang setiap manusia rasionil tidak ingin menirunya.

“Tiongkok berkembang, tetapi tak ada bukti yang menunjukkan bahwa perkembangan intern-nya menyebabkan suatu ancaman bagi Barat. Apa yang menantang Amerika Serikat bukanlah perkembangan Tiongkok, tetapi kebebasannya. Itulah yang merupakan ancaman riil.

Anda bisa melihat dari setiap berita utama bahwa fokus politik luar negeri AS sekarang ini adalah Iran". Tahun 2010 dikatakan 'Tahun Iran'. Iran digambarkan sebagai ancaman terhadap politik luar negeri Amerika Serikat dan orde dunia. Amerika Serikat telah memaksakan sanksi unilateral yang keras, tetapi Tiongkok tidak mengikuti Amerika Serikat. Tiongkok tidak pernah mengekor Amerika Serikat. Sebaliknya, Tiongkok mendukung sanksi PBB, yang sangat lemah, dan tak ada arti samasekali. Beberapa hari sebelum saya berangkat ke Tiongkok, Kementerian Luar Negeri Amerika memperingatkan Tiongkok dengan cara yang menarik. Dikatakan oleh Amerika Serikat bahwa Tiongkok harus memikul tanggungjawab internasional, yaitu, mematuhi perintah Amerika Serikat. Ini adalah tanggungjawab internasional Tiongkok.

Ini adalah imperialisme tulen. Bahwa negeri lain harus bertindak menurut keinginan kita. Bila tidak, maka mereka tidak bertanggungjawab.

Saya kira pejabat-pejabat Kementerian Luar Negeri Tiongkok akan tertawa bila mereka dengar hal itu. Tetapi itu adalah logika standar imperialisme.

Kenyataannya, “Iran menjadi ancaman karena ia tidak mau mematuhi perintah Amerika Serikat”. Tiongkok merupakan ancaman yang lebih besar, karena, adalah problem besar bila sebuah negara besar menolak melakukan perintah-perintah. Iran dan Tiongkok tak pelak lagi membuat Amerika sakit kepala

(Xi Jinping di Rusia) 
(Marinir China) 
(Parade Militer Republik Islam Iran)

Selasa, 15 Desember 2015

Ksatria Qasim di Gurun Niniveh

Di keganasan Nainawa –dan dalam kehausan yang menimpa keluarga al Mustafa itu, Imam Husain bertanya kepada putra kakak-nya yang masih remaja: “Qasim, bagaimana engkau memandang kematian?

Di antara ksatria-ksatria yang berjuang bersama Imam Husain ‘alayhis-salam yang tetap dikenang namanya di sepanjang sejarah adalah putra dari Imam Hasan ‘alayhis-salam –yakni Qasim bin Hasan. Menurut banyak riwayat usia Qasim bin Hasan ketika Tragedi Karbala terjadi –belum genap dewasa. Sebagian besar riwayat menyatakan bahwa Qasim bin Hasan ketika itu berusia tiga belas tahun.

Qasim bin Hasan yang gagah perkasa adalah cinderamata Islam dari ayah beliau –Imam Hasan Al-Mujtaba as. Dia turut serta ke Padang Karbala (Gurun Nainawa) bersama pamannya –Imam Husain as.

Pada hari Asyura –yakni Hari kesepuluh bulan Muharram 61 Hijriah, Qasim melihat para pemuda Bani Hasyim yang masih hidup membawa sisa-sisa tubuh Ali Akbar bin Husain dari medan perang ke perkemahan Imam Husain dan menjaganya ke dekat tenda-tenda mereka.

Saat itulah Qasim bin Hasan kehilangan nafsunya akan kehidupan duniawi. Dia pun melihat dengan jelas bahwa tragedi yang menimpa Ali Akbar telah mengubah raut wajah Imam Husain. Qasim bin Hasan pun tak sanggup lagi untuk berdiam diri.

Qasim bin Hasan sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW, Fatimah Azzahra as, dan Imam Ali bin Abi Thalib as –mewarisi segala keberanian, kecerdasan, pemahaman, pemikiran dan kemampuan dari Rasulullah SAW dan Imam Ali. Dia memutuskan untuk tidak lagi peduli dengan kehidupan dunia dan memohon izin kepada pamannya ke medan perang memerangi musuh-musuh laknat.

Imam Husain sangat menyayangi Qasim bin Hasan –keponakan beliau yang telah yatim saat Imam Hasan al Mujtaba syahid karena diracun Muawwiyah bin Abu Sufyan. Karenanya, Imam Husain tak ingin melepaskan keponakan tersayangnya untuk maju ke medan laga melawan ribuan pasukan musuh yang sadis dan keji. Namun karena Qasim bin Hasan sangat teguh pendiriannya untuk berperang melawan pasukan zalim dan rela syahid di medan perang, Imam Husain pun mengizinkannya.

Menyadari detik-detik perpisahannya dengan putra kakaknya, Imam Husain memeluk kasih seakan enggan untuk berpisah. Mereka berdua menangis dan seolah tak sanggup menanggung beban perpisahan dan merelakannya menjadi korban manusia-manusia laknat pendukung Yazid bin Muawwiyah bin Abu Sufyan.

Orang-orang pendukung Yazid adalah para pemuja berhala harta dan nafsu duniawi. Mereka memilih mengkhianati keluarga Rasulullah SAW untuk menjilat kerajaan Yazid bin Muawwiyah. Mereka lebih memilih hidup tanpa moral, daripada mati terhormat menyongsong agama Muhammad SAW.

Setelah mendapat izin dari pamannya untuk maju ke medan perang, Qasim segera melesat menerjang lawan sambil memacu kudanya –dia bersyair, “Mungkin kalian tak mengenalku. Akulah putra Hasan cucu Rasulullah SAW. Pamanku Husain dikepung bak tawanan. Semoga beliau tak memberikan karunianya kepada kalian semua.”

Pasukan Yazid sempat porak-poranda dihalaunya. Banyak musuh yang tumbang akibat tebasan pedang Qasim bin Hasan. Hamid bin Muslim –yang ditunjuk Yazid sebagai pencatat peristiwa-peristiwa peperangan Karbala berkata:



“Aku melihat seorang anak remaja yang wajahnya bersinar seperti bulan purnama. Dia mengenakan pakaian dan celana serta sandal yang salah satu talinya terputus. Anak muda itu berlari ke arahku. Jika aku tak salah, tali sandal sebelah kirinyalah yang putus. Sa’ad Asdi berkata kepadaku, Biar aku serang dia. Aku berkata, Kemenangan atas Tuhan. Apa yang engkau inginkan dengan melakukan itu? Tinggalkan dia. Satu saja keluarga Husain mati, itu sudah cukup untuk dijadikan alasan balas dendam kepadamu atas kematiannya. Tapi dia memaksa, Biarkan aku menyerangnya. Maka dia menyerang anak muda itu dan tak kembali hingga menghantam kepala anak muda itu dengan pedangnya dan membelahnya menjadi dua. Sebelum terjatuh dari kudanya, anak itu berseru, oh pamanku.”

Melihat tragedi meremukkan hati itu, Imam Husain secepat kilat menyambar bak elang, menyerang bak singa garang dan menyabet Umar bin Sa’ad dengan pedang beliau. Umar bin Sa’ad mencoba untuk menangkis sambaran pedang Imam Husain dengan tangannya –tapi tangan Umar bin Sa’ad malah tertebas oleh pedang imam Husain.

Lalu Imam Husain, yang bak sang singa yang marah itu, membawa jasad-jasad Qasim ke perkemahan dan membaringkannya di samping jenazah Ali Akbar dan para syuhada lainnya. Kesetiaan dan pengorbanan Qasim telah membuka lembaran baru sejarah Islam.

“Salam sejahtera atasmu, wahai Qasim Ibn Hasan. Salam sejahtera ketika engkau dilahirkan –dan ketika engkau syahid menghadap Rabb-mu” 

 Imam Hasan Al-Mujtabas as.
Imam Husain as. 

Minggu, 13 Desember 2015

Kurban Agung



Setelah para pemuda dan para pengikutnya menjadi para syuhada, Imam Husain as akhirnya mempersiapkan diri untuk mengorbankan jiwa dan raganya. Demi penuntasan hujjah untuk terakhir kalinya, beliau berkali-kali meneriakkan pertanyaan: “Adakah seseorang yang akan melindungi kehormatan Rasulullah dari bencana ini? “Adakah orang bertauhid yang takut kepada Allah berkenaan dengan kami? Adakah orang yang akan menolong permohonan kami demi keridhaan Allah?” [1] Teriakan Imam Husain as ini mengundang jerit tangis kaum wanita yang masih harus beliau lindungi.

Beliau berteriak lagi: “Adakah orang yang menyisakan rasa belas kasih? Adakah seorang penolong?” Ali Zainal Abidin as Sajjad as, putera beliau satu-satunya yang sedang sakit keras dan tak berdaya untuk maju ke medan laga berusaha bangkit dari pembaringannya dan berteriak: “Aku siap. Aku akan mengorbankan jiwa.”

Dengan tubuhnya yang lemas Ali as Sajjad itu berusaha meraih pedang, namun lempengan besi tajam itu masih sangat berat untuk tubuhnya yang nyaris tanpa tenaga itu. Pemuda ini lantas meraih tombak, satu-satunya senjata yang baginya justru lebih menyerupai untuk menyanggah tubuhnya yang lunglai itu. Dengan sisa-sisa tenaga ia mencoba beranjak menuju gerombolan musuh. Namun Imam Husain as tidak membiarkannya berperang dalam kondisi seperti itu. Beliau memerintahkan Ummu Kaltsum untuk mencegahnya, namun Assajjad menolak. “Biarkan aku yang akan menolongnya.” Pinta As-Sajjad.

Imam Husain as akhirnya turun tangan sendiri untuk mencegah dan membawanya kembali ke pembaringan lalu berkata: “Tenanglah puteraku. Tetaplah kamu di sini. Biarkan aku sendiri yang akan menghadapi pedang, sedangkan kamu cukuplah menanti belenggu. Puteraku, kamu harus kembali ke kampung halaman di Madinah. Sampaikan salamku untuk pusara kakekku, ibuku, dan saudaraku. Sampaikan salamku kepada saudarimu, Fatimah. Sampaikan salamku kepada para pengikut kita dan katakan kepada mereka, ayahku berkata; ‘Aku berharap kepada kalian untuk mengingat bibirku yang kering kehausan jika kalian hendak meneguk air, dan menangislah kalian dan jangan kalian lupakan keterasingan dan syahadahku saat kalian bicara tentang keterasingan seorang syahid.”

Di saat-saat terakhir itu, Imam Husain as mendatangi tenda-tenda satu per-satu. Beliau panggil satu per-satu anak-anak beliau. Beliau meminta mereka untuk tabah dan sabar. “Hai para pelipur hatiku sekalian,” tutur Imam Husain as penuh harap, “Allah tidak akan berpisah dengan kalian di dunia dan akhirat. Ketahuilah dunia ini tidaklah abadi. Akhirat-lah tempat pesinggahan yang abadi.” Imam Husain as kemudian menumpahkan segala rahasia kepemimpinan (imamah) kepada putera yang kelak mewarisi kepemimpinannya, Ali Zainal Abidin Assajjad as.

Imam Husain as antara lain berkata: “Pusaka-pusaka para nabi, washi, dan kitab suci aku serahkan kepada Ummu Salamah, dan semuanya akan diserahkan (kepadamu) sepulangmu dari Karbala.”

Imam Husain as lalu mendekati adiknya, Zainab al Kubra as dan meminta supaya diambilkan gamisnya yang sudah lama dan usang. Dengan wajahnya yang dipenuhi sketsa penderitaan dan duka cita itu, Hazrat Zainab mencarikannya kemudian menyerahkannya kepada Imam. Beliau mengenakannya setelah sebagian beliau sobek kemudian diikatkan kuat-kuat sebagai tali yang mengikat gamis itu dengan tubuhnya agar tak mudah lepas atau dibuka oleh orang lain. Gerakan Sang Imam yang diiringi oleh ratapan dan tangisan anggota kerabat yang ada di sekitarnya, seiring dengan jerit tangis bayi mungil Ali Asghar, putera beliau yang masih berusia enam bulan. Bayi itu menjerit-jerit menahan dahaga setelah sekian lama tidak mendapatkan tetesan air susu dari ibunya yang juga sudah lama tercekik kehausan.

Tak tega mendengar tangisan itu, Imam meminta puteranya yang masih bayi itu supaya diberikan kepada beliau. Bayi itu diserahkan kepada beliau oleh seorang wanita bernama Qandaqah. Beliau meraih bayi itu lalu menciuminya sambil berucap: “Alangkah celakanya kaum ini sejak mereka dimusuhi oleh kakekmu.” Bayi bernama Ali Asghar itu beliau bawa ke depan barisan pasukan musuh dan memperlihatkannya kepada mereka untuk menguji adakah mereka masih menyisakan jiwa dan perasaan mereka sebagai manusia. Beliau berucap kepada Allah: “Ya Allah, hanya inilah yang tertinggal dariku, dan jiwanyapun rela aku korbankan di jalan-Mu”

Beliau lalu menatap ke wajah-wajah manusia durjana di depannya itu. Bayi berusia enam bulan beliau junjung sambil berseru: “Hai para pengikut keluarga Abu Sufyan, jika kalian menganggapku sebagai pendosa, lantas dosa apakah yang diperbuat oleh bayi ini sehingga setetes air pun tidak kalian berikan untuknya yang sedang mengerang kehausan.”

Sungguh biadab, tak seorangpun di antara manusia durjana itu yang tersentuh oleh kata-kata beliau. Yang terjadi justru keganasan yang tak mengenal sama sekali rasa kasih sayang dan norma insaniah. Seorang berhati serigala bernama Harmalah bin Kahil Al-Asadi diam-diam mencantumkan pangkal anak panahnya ke tali busur lalu menariknya kuat-kuat. Tanpa ada komando, benda yang ujungnya runcing melesat ke arah bayi Ali Asghar. Sepecahan detik kemudian bayi malang itu menggelepar di atas telapak Imam Husain as yang tak menduga akan mendapat serangan sesadis itu sehingga tak sempat berkelit atau melindunginya dengan cara apapun. Beliau tak dapat berbuat sesuatu hingga bayi itu diam tak berkutik setelah anak panah itu menembus lehernya.

Ali Akbar telah menemui ajalnya dalam kondisi yang mengenaskan. Darah segar mengucur dari lehernya hingga menggenangi telapak tangan ayahnya. Dengan demikian, lengkaplah penderitaan Imam Husain as.

Dengan hati yang tersayat-sayat, beliau melangkah kembali ke arah perkemahan. Beliau menggali lubang kecil untuk tempat persemayaman jasad suci Ali Asghar. Dari langit beliau mendengar suara bergema: “Biarkanlah dia gugur, wahai Husain, sesungguhnya di surga sudah menanti orang yang akan menyusuinya.”[2] Imam menghampiri perkemahannya untuk mengucapkan kalimat perpisahan terakhir. Dalam hal ini kepada puteranya yang sedang sakit, As-Sajjad as, beliau bertutur: “Puteraku, sampaikan salamku kepada para pengikutku. Katakanlah kepada mereka sesungguhnya ayahku telah gugur seorang diri, maka ratapilah dia.”[3]

CATATAN
[1] Qiyam Salar-e Syahidaan halaman 225

[2] Anwar Assyahadah halaman 165
[3] Ma’aali Asshibthain juz 2 halaman 22-23 


Jumat, 11 Desember 2015

Yang Sakral & Yang Profan*



Oleh Sulaiman Djaya (1999), untuk tugas Mata Kuliah Sosiologi Agama pada Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin IAIN (kini UIN) Syarif Hidayatullah

Dalam The Sacred and the Profane (1967), Mircea Eliade menjelaskan bahwa seorang sejarahwan harus keluar dari lanskap peradaban modern-nya ketika mereka hendak mencari penjelasan suatu kelompok kecil manusia dan ketika mereka hendak “memasuki” suatu lanskap manusia arkhaik (purba).

Sementara itu, terkait dengan studi agama secara umum, Eliade menyatakan bahwa suatu fenomena agama hanya akan dianggap demikian jika ia “dipegang” menurut tingkatannya sendiri.

Dalam hal ini, sesungguhnya, suatu ikhtiar untuk menangkap esensi dari fenomena agama dengan sejumlah instrumen, semisal fisiologis, psikologis, sosiologi, ekonomi, bahasa, atau bahkan seni, acapkali malah jatuh dalam reduksi dan kekerasan perspektif itu sendiri.

Dengan pandangannya itu, Eliade tentu saja bertolak-belakang dengan Emile Durkheim (sosiolog yang menulis pandangan dan penelitian agamanya dalam The Elementary Forms of Religious Life), contohnya, terkait mana yang sakral dan mana yang profan.

Bagi Durkheim, yang sakral adalah yang sosial, yang memiliki arti bagi klan atau suatu komunitas masyarakat (purba), sedangkan yang profan adalah yang sebaliknya, yaitu yang hanya memiliki arti bagi individu.

Lebih lanjut Durkheim pun memandang bahwa simbol dan ritual yang sakral tampak berbicara tentang yang supernatural, namun baginya itu hanya penampakan luar. Tujuan simbol, demikian menurut Durkheim, adalah sekadar untuk membuat sadar orang akan “tugas sosial” mereka, misalnya dengan menyimbolkan klan sebagai dewa atau totem mereka.

Sebaliknya, menurut Eliade, perhatian pada studi agama adalah dengan yang supernatural –yang jelas dan yang sederhana, yang berpusat pada yang sakral (di dalam dan pada diri yang sakral itu sendiri), dan bukan tentang yang sakral yang hanya sebagai cara untuk menggambarkan atau pun merepresentasikan yang sosial.

Maka teranglah bagi kita, pandangan Eliade lebih dekat kepada Taylor, Rudolf Otto, dan Frazer, yang etnologis dan antropologis, yang menggambarkan agama pertama-tama dan terutama sebagai kepercayaan kepada wilayah dari yang supernatural, dan bertabrakan dengan pandangan Durkheim yang sosiologis yang mereduksi agama hanya sebagai fungsi sosial semata.

*Tulisan ini merupakan ringkasan dari paper yang lebih panjang. 


Jaman & Manusia Modern Menurut Filsuf & Ilmuwan



 Hak Cipta @Sulaiman Djaya (2001)

Para filsuf dan analis di abad-19 telah menawarkan perspektif baru dalam melihat manusia (setidak-tidaknya dalam kadar jaman mereka).

Soren Kierkegaard, contohnya, memandang manusia di jamannya digerakkan oleh materialisme dan kolektivisme atas dasar rasionalitas instrumental. Sedangkan Sigmund Freud menyatakan bahwa warisan tradisi sebagai sublimasi dan gejala neurotik, seks sebagai fakta yang diingkari telah menimbulkan gangguan kejiwaan manusia dan hipokrisi, dan neurosis adalah buahnya yang tak teringkari.

Tak jauh berbeda dengan Soren Kierkegaard dan Sigmund Freud, sosiolog Max Weber menyesali rasionalisme instrumental sebagai the iron cage dan disenchantment of the world.

Para filsuf, sosiolog, dan para ilmuwan di abad ke-19 itu telah memberikan sumbangan bagi khazanah teoritik dan wawasan kebudayaan, setidak-tidaknya pada jaman mereka.

Namun berbeda dengan para filsuf, sosiolog dan ilmuwan yang telah disebutkan itu, Friedrich Nietzsche lebih menyelam ke dalam saat melihat persoalan tantangan dan gejala yang dihadapi manusia modern, ketika ia menyatakan bahwa peradaban modern mengidap kesadaran buruk, filsafatnya telah menjadi mummy yang menghisap darah kehidupan manusia, dan asketisme kristiani-nya menurutnya justru telah melakukan pembunuhan karakteristik atas manusia modern.

Dalam skala itu, meski berbeda dalam hal fokus dan perspektifnya, tilikan dan pandangan Friedrich Nietzsche dekat sekali dengan apa yang juga disuarakan Soren Kierkegaard, yaitu menyadari krisis manusia modern. Hegelianisme-Kristen, contohnya, dipandang oleh Kierkegaard sebagai rongrongan atas eksistensi manusia sebagai subjek-subjek yang individual dan mandiri. Di sini, Kierkegaard menegaskan bahwa apa yang dipilih seseorang akan menentukan siapa dirinya dalam konteks dunia modern.

Di sisi lain, sains dan rasionalitas modern telah menjadi suatu pabrik, yang pada akhirnya akan menggiring manusia modern kepada nihilisme. Jalan keluarnya, demikian menurut Friedrich Nietzsche, adalah revaluasi dan transvaluasi nilai-nilai yang dianut manusia modern.

Singkatnya, berbeda dengan para filsuf, sosiolog, dan atau para ilmuwan lainnya, Friedrich Nietzsche telah menyingkap lorong-lorong gelap manusia modern.

Singkat kata, kita juga dapat memahami kembali konteks Friedrich Nietzsche dan Soren Kierkegaard dalam hal kritik kebudayaan dan analisis sosial ketika membaca tulisan-tulisannya Erich Fromm, Martin Heidegger, Rollo May, Allan Bloom, dan tentu saja, para filsuf dan analis yang lazim dikenal sebagai Mazhab Frankfurt.




Rabu, 09 Desember 2015

Kebun Rosella Ibuku




Hak cipta ©Sulaiman Djaya (2010)

Di tahun 80-an itu, sebagai petani, secara kebetulan keluarga saya memiliki tanah yang cukup untuk menanam Rosella, atau tanaman apa saja yang dapat dijadikan komoditas untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Bila panen tiba, ibu saya akan menggoreng biji-biji Rosella tersebut dan anak-anaknya (termasuk saya) akan membantu menumbuknya hingga menjadi bubuk kopi yang kami kemas dalam plastik-plastik mungil yang kami beli dari pasar. Bila kami selesai mengemas bubuk Rosella tersebut, ibu saya lah yang akan menjajakannya alias menjualnya, kadangkala ada saja orang-orang yang datang sendiri ke rumah untuk membelinya.

Seingat saya, selain menanam Rosella, keluarga kami juga menanam kacang panjang. Dari hasil penjualan bubuk kopi Rosella dan kacang panjang itulah keluarga kami memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari kami dan membiayai sekolah kami. Saya, misalnya, bisa membeli buku tulis atau buku-buku yang diwajibkan di sekolah. Singkatnya, kami hidup dari hasil mengolah tanah dan menjual komoditas yang dihidupkan oleh tanah dan alam, sebab ketika itu belum ada sejumlah pabrik seperti sekarang.

Saya juga masih ingat ketika ibu saya membuat sambal dari kulit buah Rosella yang berwarna merah itu agar sambil yang dibuatnya cukup untuk semua anggota keluarga, sebab cabe rawit yang kami tanam tidak sebanyak seperti kami menanam singkong, ubi jalar, kacang panjang, dan Rosella.

Di saat saya sudah kuat memegang cangkul, kalau tak salah ketika saya telah duduk di sekolah menengah pertama, sesekali saya lah yang mengolah tanah dan membuat gundukan batang-batang pematang di mana kami menanam kacang dan Rosella. Tak jarang saya juga yang menyiraminya di waktu sorehari.

Itu adalah masa-masa di tahun 80-an ketika kami menggunakan batang-batang kayu kering untuk menyalakan dapur dan memasak. Sebab kami hanya mampu membeli minyak tanah cuma untuk bahan bakar lampu-lampu damar kami.

Selepas magrib, saya akan membawa salah-satu lampu damar tersebut ke langgar atau ke rumah seorang ustadz kami untuk belajar Al-Qur’an. Itu saya lakukan setelah ibu saya sendiri yang mengajari saya tentang beberapa doa penting dan mengenalkan huruf-huruf hijaiyyah dan mengajarkan saya Al-Qur’an sebelum saya duduk di sekolah dasar yang kebetulan ada di depan rumah. Selain itu, ibu saya juga mengajarkan saya beberapa sholawat-sholawat pendek.

Aktivitas lain yang saya lakukan adalah menunggui padi-padi dari serbuan para burung di sorehari selepas sekolah, di saat biji-biji padi itu mulai menguning. Seingat saya, saya suka sekali duduk (mungkin dari situlah saya terbiasa merenung dalam kesendirian) di dekat serimbun pohon bambu yang tumbuh rindang dan asri di dekat sawah. Saya juga menarik ujung tali yang saya pegang, beberapa meter tali yang ujung lainnya yang terikat ke orang-orangan sawah yang dibuat oleh ibu saya. Kami menyebut orang-orangan sawah dari jerami, bilahan-bilahan bambu, dan kain-kain bekas itu, dengan nama jejodog. 


Selasa, 08 Desember 2015

Politik Firqoh dalam Sejarah Islam



Ada orang beragama “karena menerima agamanya” sebab warisan keluarga & tradisi. Ada orang beragama ‘yang menganut agamanya’ karena pergulatan intelektual & penjelajahan, dan ada yang karena keduanya.

Saya beragama karena warisan keluarga & tradisi, tapi kemudian ‘menetapkan’ keyakinan saya berdasarkan pergulatan intelektual & pembacaan yang mandiri dan memilih berdasarkan kajian rasional dan tradisi warisan. Dan salah-satu yang membuka pikiran saya adalah sejarah. Salah-satu contohnya masalah Syi’ah & Sunni.

Ikhtiar pembacaan dan pergulatan intelektual tersebut akan menciptakan mental orang dewasa dan bersikap ilmiah. Di sini, saya ingin bercerita tentang masalah hadits dan politik firqoh, contohnya.

Pada masa khalifah Al-Mutawakkil sedang memuncak periwayatan hadis, tetapi sangat sulit dikenali mana yang asli dan mana yang palsu. Tatkala Al-Mutawakil (847-864) berkuasa, ia melihat bahwa posisinya sebagai khalifah perlu mendapatkan dukungan mayoritas.

Sementara itu, setelah peristiwa mihnah terjadi, mayoritas masyarakat adalah pendukung dan simpatisan Ibn Hanbal, dan karenanya Al-Mutawakil membatalkan paham Mu’tazilah sebagai paham negara dan menggantinya dengan paham Asy’ariyah (Sunni).

Pada saat itulah teologi Asy’ariyah (Sunni) mulai merumuskan ajaran-ajarannya. Pertanyaannya adalah: “Kenapa Syi’ah menerima sebagian hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari (yang notabene tidak sesuai dengan keyakinan mereka) dan menolak sebagian lainnya?” Dalam hal demikian, secara umum, meski pahit harus dikatakan bahwa pemikiran kelompok Asy’ariyah (Sunni) menekankan pada ketaatan (kompromi) terhadap khalifah yang sedang berkuasa.

Dalam proses pembentukannya, ideologi-teologis Asy’ariyah (Sunni) ternyata tidak dapat dilepaskan dari pemikiran keagamaan mereka dan adanya ketegangan-ketegangan dengan golongan lain untuk memperoleh pengakuan dari penguasa. Dalam masa formal ideologi Sunni tersebut, misalnya, telah terjadi polemik intelektual antara As-Syafi’i dengan ulama-ulama Khawarij dan Mu’tazilah, dan perebutan mencari pengaruh politik dari para khalifah yang sedang berkuasa.

Dalam hal ini, diperlukan waktu hampir beberapa abad untuk sampai pada proses terbentuknya pemikiran politik Ahlus Sunnah Wal Jamaah tersebut, terhitung sejak mulai diperkenalkannya pada masa awal Islam, sahabat, tabi’in sampai pada pengukuhannya dalam Risalah Al-Qadiriyyah.

Singkat kata, Istilah ini (Ahl al Sunnah wa al Jama’ah) awalnya merupakan nama bagi aliran teologis Asy’ariyah dan Maturidiah yang timbul karena reaksi terhadap paham Mu’tazilah yang pertama kali disebarkan oleh Wasil bin Atha’ pada tahun 100 H/ 718 M dan mencapai puncaknya pada masa khalifah ‘Abbasiyah, yaitu Al-Ma’mun (813-833 M), Al-Mu’tasim (833-842 M) dan Al-Wasiq (842-847 M). Pengaruh ini semakin kuat ketika paham Mu’tazilah dijadikan sebagai madzab resmi yang dianut negara pada masa Al-Ma’mun.

Sayangnya (untuk tidak dikatakan sebagai terjadinya kontaminasi-politis yang buruk), pada masa khalifah Al-Mutawakkil negara berakidah Ahlul Hadits. Paham ini didukung negara sehingga hadits-hadits Sunni kemudian menjadi mudah diintervensi dengan penambahan-penambahan yang dilakukan ulama-ulama pelayan keinginan selera penguasa kerajaan. Yang menjadi ironi adalah bahwa Ahlul Hadits hanya memakai hadits tanpa rasio (tanpa hujjah ‘aqliyyah), padahal hadits-hadits yang ada tidak ada jaminan 100% akurat dari Nabi SAW.

Tapi apa mau dikata, karena fanatisme mazhab, orang-orang pada masa tersebut mengarang-ngarang hadits agar mazhab-nya tetap tegak. Top of Form