Kamis, 28 Mei 2015

Kisah Siswi Karina Ke-17


Hak cipta ©Sulaiman Djaya

Pertempuran antara para pemuda kota Ramad yang dikomadani oleh Ghasim dengan pasukan Siis yang terkenal bengis dan brutal itu terus berlangsung dengan gigih dan seru, bagai tak kenal lelah satu sama lainnya hingga tak menyempatkan diri mereka untuk melakukan jeda barang sejenak saja. Di saat para pemuda kota Ramad yang dipimpin Ghasim itu terus menghujani pasukan Siis dengan batu, panah, dan apa saja yang dapat mereka lemparkan ke arah lawan-lawan mereka, pasukan Siis yang sebagian menunggangi gajah-gajah raksasa itu terus merangsek dan berusaha memadamkan benteng api yang menghalangi mereka untuk memasuki kota Ramad yang dipertahankan oleh para penduduknya dengan gigih tersebut.

Sungguh pertempuran itu adalah pertempuran yang dapat dibilang sebagai perang kesumat antara dua kubu, di mana kubu yang satu berusaha menyerang tak ubahnya satu tim atau kesebelasan sepakbola yang sangat agressif berusaha memasukkan bola ke gawang lawannya, sementara kubu yang lainnya berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan dirinya, yang juga tak ubahnya satu tim atau satu kesebelasan sepak-bola yang merasa kewalahan menahan laju pergerakan tim yang menjadi lawannya, yang terus menyerang mereka itu.

Pada saat itu, sebagian pasukan pemanah di kubu pasukan Siis mulai menghujani para pemuda kota Ramad yang dipimpin Ghasim itu dengan anak-anak panah mereka, dan kala itu pulalah sejumlah pemuda Ramad mulai tersungkur, dan nyala api benteng api pertahanan mereka tak lagi menyala dengan besar. Benteng api yang menghalangi pasukan Siis itu tampak akan segera padam, dan memang tak berapa lama setelah pasukan Siis itu meluncurkan anak-anak panah mereka, benteng api yang dibuat para pemuda Ramad itu pun mulai padam, dan sejumlah pasukan Siis mulai berhasil menembus benteng api tersebut.

Namun, persis pada saat itulah, sejumlah pasukan burung-burung besar tiba-tiba telah berada di atas pasukan Siis sehingga seakan-akan tempat alias medan pertempuran tersebut menjadi gelap, dan burung-burung besar tersebut menghujani batu-batu yang dipegang cakar mereka ke arah pasukan Siis, sementara para penunggangnya menghujani pasukaan Siis dengan panah-panah mereka.

Bukan kepalang gembiranya Ghasim dan para pemuda di kota Ramad yang masih tersisa dengan datangnya bantuan yang tak mereka duga itu. Dengan kedatangan pasukan khusus dari negeri Farsa dan Lubnan yang dipimpin dan dikomandoi oleh Ilias itu, pasukan Siis pun kalang-kabut, berguguran, gajah-gajah mereka yang besar itu tersungkur hingga membuat para penunggangnya tewas, dan yang masih tersisa dari mereka pun melarikan diri agar dapat menyelamatkan nyawa dan tubuh mereka.

Setelah berhasil membuat kalang-kabut garnisun alias rombongan pertama pasukan Siis itu, burung-burung besar itu mendaratkan dirinya di bumi, dan pada saat itu pula para penunggangnya menginjakkan kakinya di tanah, di mana pada saat itu, mereka turut membantu para korban, memperbaiki yang rusak, mengobati yang terluka, dan melakukan apa saja yang dapat mereka lakukan saat itu.

Mereka tak berusaha mengejar pasukan Siis yang melarikan diri, karena mereka mematuhi perintah Ilias, agar pasukan Siis yang kabur dan melarikan diri itu dapat mengabarkan nasib kawan-kawannya kepada pasukan Siis lainnya di negeri Najdor, bahwa upaya untuk menaklukkan dan menguasai negeri Suryan tak semudah yang mereka bayangkan dan tak segampang yang mereka harapkan. Dengan strategi membiarkan mereka yang melarikan diri itu pula Ilias sebenarnya berusaha menanamkan rasa takut dan gentar kepada para musuh yang berusaha melakukan kejahatan dan mereka yang berusaha menjajah negeri lain tanpa hak.

Tentu saja, Ilias juga sadar bahwa garniusn lainnya dari pasukan Siis yang jauh lebih kuat dan dengan persenjataan yang lebih canggih akan kembali menyerang negeri Suryan, mengingat ia juga tahu bahwa pasukan Siis itu hanyalah pion sejumlah negeri yang membiayai dan mempersenjatai mereka, yaitu negeri Amarik, negeri Asrail, negeri Angland, negeri Najdan dan sejumlah negeri dan pemimpin yang menjadi koalisi mereka. Dan karena itulah Ilias berusaha meyakinkan para pemuda Ramad agar mempersiapkan diri bagi kemungkinan datangnya serangan yang lebih hebat dibanding yang terjadi pada hari itu.

Kepada para pemuda di kota Ramad itu Ilias juga mengatakan bahwa mulai saat itu ia dan sejumlah pasukannya akan melatih mereka sejumlah kecakapan, keterampilan, dan kemampuan militer, yang nantinya akan dipilihlah yang terbaik diantara mereka sebagai pemimpin dan komandan mereka, sehingga di masa depan mereka dapat mempertahankan diri mereka tanpa bantuan orang lain, dengan kekuatan mereka sendiri, meski tentu saja Ilias dan pasukannya tetap akan membantu mereka jika memang pada kenyataannya masih dibutuhkan dan diperlukan. (Bersambung


Rabu, 27 Mei 2015

Kisah Siswi Karina Ke-16 (Misi Jenderal Ilias)


Hak cipta ©Sulaiman Djaya

Pasukan khusus dari negeri Farsa dan Lubnan itu akhirnya sampai di kota Damas, sejumlah pasukan yang memiliki ragam keahlian dan keterampilan bertempur yang ternyata dipimpin Ilias, yang kini telah menjadi seorang jenderal tampan dan gagah dengan pangkat tertinggi. Jenderal Roshtam sendiri yang memberikan pangkat tertinggi tersebut atas restu langsung Raja Nazad dari negeri Farsa.

Kedatangan Jenderal Ilias dan pasukan khususnya itu disambut langsung oleh Raja Rashab dan panglima perang tertinggi negeri Suryan, yaitu Jenderal Runi Kalimi yang terkenal cerdik dan berkepala dingin, hingga seringkali hitungan dan strategi perangnya berhasil membuat kalang-kabut lawan-lawannya.

Sementara itu, ribuan pasukan Siis yang terus bergerak atas instruksi Rakab itu telah mencapai separuh jarak perjalanan mereka menuju kota Ramad, di saat Ghasim sang prajurit negeri Suryan didikan Jenderal Saada yang telah gugur itu telah berhasil menghimpun dan menyiagakan para pemuda di kota Ramad untuk menjadi prajurit dadakan dan telah berhasil menungungsikan anak-anak, para lansia, kaum ibu serta kaum perempuan untuk hijrah ke kota Daraa, sebuah kota yang cukup jauh dari kota mereka, kota Ramad yang tengah menanti ajang pertarungan melawan pasukan Siis yang terkenal bengis, keji, dan brutal itu.

Setelah mengadakan pembicaraan singkat di kota Damas itu, Ilias, Raja Rashab, dan Jenderal Runi Kalimi sepakat bahwa Ilias yang kini telah menjadi jenderal itu akan memberi kesempatan kepada para pemuda di kota Ramad untuk berjuang mempertahankan kota mereka dari gempuran pasukan Siis yang dipimpin Rakab tersebut, sebelum ia dan pasukan khususnya akan turun tangan langsung demi menumpas garnisun pertama pasukan Siis yang menuju kota Ramad itu, sebelum garnisun lainnya datang, dan karena itu ia harus menghemat tenaga dan strategi tempurnya agar tidak habis dalam waktu singkat.

Dalam kesepakatan itu juga ditetapkan bahwa Jenderal Runi Kalimi dipercayakan untuk menyiagakan seluruh komandan, para jenderal, dan tentara negeri Suryan untuk menghadapi garnisun atau pasukan Siis lainnya yang diperkirakan akan datang ke negeri Suryan dengan jumlah yang lebih besar dan persenjataan perang yang lebih canggih.

Sebelum berangkat ke kota Damas bersama pasukan khususnya itu, Ilias telah meminta kedua adiknya, yaitu Hagar dan Sophia, untuk memberitahu Misyaila tentang apa yang sedang terjadi dengan menggunakan kemampuan ilmu magis mereka.

Kala itu, Hagar dan Sophia memutuskan untuk mengirim seekor burung Rukh menuju negeri Nun yang misterius, negerinya Misyaila.

Burung Rukh yang dikirim Hagar dan Sophia ke negeri Nun itu pun membutuhkan waktu perjalanan selama sehari semalam, sebelum akhirnya sampai di hadapan Misyaila, dan segera menyampaikan apa yang dikatakan Hagar dan Sophia untuknya kepada Misyaila dengan menggunakan gerak-gerak isyarat sayap dan kepalanya, dan Misyaila pun langsung mengerti apa yang ingin disampaikan si burung Rukh itu kepadanya.

Kini pasukan Siis yang bengis dan brutal itu telah sampai di kota Ramad, dan saat itu mereka terkejut kala mereka hendak memasuki gerbang kota tersebut, seketika itu benteng api yang telah disiapkan Ghasim dan para pemuda di kota Ramad menyemburkan api yang cukup tinggi setelah sejumlah pemuda kota itu menyulutkan nyala apa di ujung obor mereka pada tumpukan kayu yang telah dicampur minyak yang dijadikan sebagai benteng perlindungan tersebut.

Tepat pada saat itulah, dengan perintah dan kepemimpian Ghasim, para pemuda kota Ramad menghujani pasukan Siis yang terkenal keji, brutal, dan bengis itu dengan batu-batu panas dan mortir-mortir api yang menyala.

Serangan yang dilancarkan para pemuda di kota Ramad terhadap pasukan Siis itu langsung membuat barisan depan pasukan Siis kalang-kabut dan sebagian dari mereka tewas terinjak gajah-gajah mereka yang panik karena hawa panas dan nyala api di sekeliling mereka, di saat sebagian yang lainnya hangus terbakar. (Bersambung



Selasa, 26 Mei 2015

Kisah Siswi Karina Ke-15 (Tragedi Negeri Suryan)



Hak cipta ©Sulaiman Djaya

Beberapa bulan kemudian setelah diselenggarakannya pertemuan rahasia yang digagas Mayar Rother dan Jarjus Bushan dan dihadiri Ziva Kamarin dari negeri Asrail, Pangeran Wilad Nibtalal dari negeri Najdan dan Perdana Menteri Vidad Kamarun dari negeri Angland di sebuah kota rahasia bernama kota Ramsad di negeri Amarik itu, ribuan prajurit yang dipimpin oleh Rakab berangkat menuju negeri Suryan dari markas mereka di negeri Najdor.

Kedatangan ribuan pasukan yang dipimpin Rakab ke negeri Suryan itu pun diketahui oleh mata-mata negeri Suryan yang menyamar sebagai seorang petani dan nelayan, yang segera melaporkannya kepada Raja Rashab di kota Damas dengan jalan mengendarai seekor kuda ajaib super cepat yang memiliki tanduk mirip Unicorn.

Mengetahui hal itu, Raja Rashab pun segera meminta para jenderalnya untuk menyiagakan dan menyiapkan pasukan dan para tentara negeri Suryan sesuai dengan cara dan strategi para jenderalnya. Pada saat itu pula, ia mengirimkan utusan ke negeri Farsa sebagai antisipasi jika ia pada akhirnya memerlukan bantuan negeri Farsa.

Ketika para tentara dan para jenderal negeri Suryan tengah bersiap-siap dan menyiagakan diri itu, sebagian pasukan Siis yang bergerak atas instruksi langsung pimpinan mereka, yaitu Rakab, telah sampai di gerbang kota Alepp setelah mereka turun dari kapal-kapal yang mengangkut mereka yang menempuh jalur perjalanan laut dari negeri Najdor yang menjadi markas mereka.

Dengan keji dan brutal, mereka pun membantai dan membunuh para penduduk kota Alepp dari kaum laki-lakinya serta memperkosa kaum perempuan kota tersebut sebelum akhirnya mereka membunuhnya dengan tanpa belas kasihan.

Kabar telah diduduki dan ditaklukkannya kota Alepp oleh pasukan bengis Siis yang brutal itu telah diketahui oleh Raja Rashab dan para jenderalnya yang berada di kota Damas. Maka diputuskanlah untuk mencegah dan mencegat para pasukan Siis tersebut agar tidak memasuki kota berikutnya, yaitu kota Ramad, dengan mengirim sepasukan berkuda yang dipimpin oleh Jenderal Saada.

Pasukan berkuda yang dipimpin Jenderal Saada itu pun berangkat dari kota Damas menuju Desa Palma, yang merupakan desa penghubung satu-satunya yang paling strategis antara kota Alepp dan kota Ramad, dan dari desa itulah para tentara yang dipimpin Jenderal Saada akan mencegat dan menghadang pasukan Siis yang dibiayai langsung oleh Mayar Rother dan Jarjus Bushan itu, agar tidak memasuki kota Ramad.

Jenderal Saada juga memerintahkan kepada salah seorang prajuritnya untuk memberitahukan kepada para penduduk kota Ramad agar mereka mempersiapkan diri dengan senjata apa saja yang mereka miliki dan yang dapat digunakan untuk mempertahankan diri mereka dari kemungkinan adanya serangan dan pembantaian yang akan dilakukan oleh pasukan Siis pimpinan Rakab yang bengis dan brutal itu.

Dengan kudanya yang tangguh, gesit, dan tangkas itu, sang prajurit itu pun melesat menuju kota Ramad, sementara Jenderal Saada dan pasukannya di Desa Palma itu bersiap-siap dan bersiaga di gerbang Desa Palma demi menanti kedatangan pasukan Siis pimpinan Rakab yang terkenal bengis dan tak mengenal kasihan ketika berperang.

Setelah menunggu dan bersiaga selama beberapa jam, Jenderal Saada dan para tentaranya akhirnya dapat melihat iring-iringan pasukan Siis pimpinan Rakab sejauh kemampuan dan jangkauan pandangan mata mereka, di mana sebagian pasukan Siis pimpinan Rakab itu mengendarai gajah-gajah raksasa.

Kala itu, dengan segera, Jenderal Saada memberi aba-aba kepada sebagian pasukannya yang merupakan para pemanah itu agar menyiapkan busur dan anak panah mereka yang siap dilesatkan sesuai aba-aba sang jenderal. Dan ketika jarak jangkauan telah tepat menurut Jenderal Saada, sang jenderal itu pun segera memerintahkan para pasukan pemanahnya untuk menghujani pasukan Siis dengan anak-anak panah mereka.

Perkiraan Jenderal Saada ternyata tidak meleset, dan sebagian besar anak-anak panah yang dilesatkan pasukan pemanahnya mengenai sasaran mereka dengan tepat, hingga banyak tentara Siis yang tersungkur akibat hantaman dan terjangan anak-anak panah pasukan Jenderal Saada yang telah membunuh sepuluh persen pasukan dari keseluruhan pasukan Siis pimpinan Rakab yang ternyata sangat banyak itu, jumlah pasukan Siis yang membuat Jenderal Saada sendiri sempat terkesima.

Mengetahui hal itu, ia pun segera memerintahkan salah seorang prajuritnya untuk kembali ke kota Damas demi memberikan laporan keadaan medan perang yang sesungguhnya kepada Raja Rashab dan para jenderal yang ada di kota Damas.

Saat itu, meski kalah jauh secara jumlah, Jenderal Saada dan pasukannya bertempur dan berjuang dengan gigih dan bersemangat, hingga berhasil mengalahkan dua-puluh persen jumlah pasukan Siis dari jumlah keseluruhan pasukan Siis pimpinan Rakab tersebut, sebelum Jenderal Saada sendiri dan seluruh pasukannya gugur tanpa tersisa.

Dengan gugurnya Jenderal Saada dan pasukannya tersebut tanpa sisa, pasukan Siis pimpinan Rakab pun meneruskan misi dan perjalanan mereka untuk menaklukkan dan menguasai kota Ramad, dan untuk menghabisi para penduduknya. Sementara, di kota Damas, Raja Rashab dan para jenderal negeri Suryan mendapatkan kabar bahwa bantuan bala-tentara dari negeri Farsa dan dari negeri Lubnan sedang dalam perjalanan menuju kota Damas dengan menggunakan alias mengendarai burung-burung besar. (Bersambung)

Sabtu, 16 Mei 2015

Pelajaran dari Kecelakaan Pesawat Antariksa Challenger


(Sumber: Gleick, Genius, Richard Feynman and Modern Physics, 1993)

Dalam  cuaca yang dingin dan langit tak berawan, pada tanggal 28 Januari 1986, dari Tanjung Canaveral, Florida, Amerika Serikat, diluncurkan sebuah pesawat ulang-alik. Diantara tujuh awak pesawat tersebut, salah satu yang ikut mengangkasa adalah Christa McAuliffe, seorang guru sekolah dasar dari daerah New England yang terpilih untuk menjadi “Guru di Ruang Angkasa”, suatu program khusus dari NASA untuk mendorong daya tarik siswa sekolah tentang sains dan teknologi. Challenger space shuttle menghidupkan dua roket pendorong untuk mulai mengangkasa, meninggalkan asap gelap di tempat peluncuran, bergerak ke arah timur di atas Samudera Atlantik dengan suara yang menggelegar. Suatu peluncuran yang sempat tertunda empat kali karena rendahnya suhu musim dingin.

Namun, tujuh puluh dua detik kemudian dua roket pendorong terlihat bergerak ke arah yang berbeda. Pada detik ke tujuh puluh tiga tangki bahan bakar yang ternyata bocor melepaskan hidrogen cair ke udara, yang dengan seketika meledakkan seluruh bagian pesawat ulang alik. Awan ledakan dan asap kebakaran terbentuk di angkasa. Beberapa detik kemudian berbagai serpihan Challenger berhamburan, dan semua awak pesawat dinyatakan meninggal dunia seketika. Peristiwa yang disiarkan langsung oleh televisi ini dan juga disiarkan berulang kali, menjadikan hal ini salah satu bencana teknologi yang disaksikan oleh banyak orang dalam sejarah manusia.

Komisi penyelidik yang terdiri dari para pakar dan ilmuwan yang dianggap netral dibentuk untuk meneliti kejadian tersebut oleh Presiden Reagan. Salah satu anggotanya adalah Richard P. Feynman, doctor fisika peraih hadiah nobel yang juga dosen di California Institute of Technology (Caltech). Setelah ditunjuk, Feynman mengumpulkan berbagai data dan informasi tentang peluncuran pesawat ulang alit, mesinnya, serta roket pendorong; salah satu yang terungkap adalah bahwa pada setiap peluncuran selalu terdapat resiko yang menyertainya. Kecurigaan akhirnya di arahkan pada bagian roket pendorong pesawat ulang alik. Roket pendorong dibuat secara bersusun karena sangat panjang, yang tiap bagian susunannya dihubungkan dengan pin yang terkunci rapat untuk mencegah timbulnya kebocoran bahan bakar keluar dari kedua roket pendorong. Sepasang ring berbentuk seperti hurup O yang bahan dasarnya dari karet, dengan ketebalan setengah sentimeter, mengelilingi roket sepanjang 12 meter (diameter roket) dipasang di sekitar pin untuk membuat tidak lepas dan terus melekat pada pin.

Percobaan sederhana Feynman
Untuk menjelaskan dugaannya, pada suatu konferensi press Komisi Penyelidik Challenger, Feynman menyiapkan air es yang suhunya sekitar OoC sesuai dengan suhu kondisi cuaca saat peluncuran Challenger, satu contoh ring terbuat dari karet dan klem, alat penjepit yang digunakan untuk memberikan tekanan. Di hadapan kamera televisi, dia memperagakan satu percobaan fisika sederhana: mencelupkan ring karet ke dalam air es beberapa saat, kemudian mengangkatnya dan memasangnya pada klem untuk diberi tekanan. Feynman kemudian berkata “Setelah saya mencelupkan ring ini ke dalam air es, saya menemukan bahwa ketika diberikan tekanan sebentar saja pada ring karet itu, kemudian melepaskannya lagi, ring karet ternyata tidak kembali ke bentuk semula. Saya percaya hal ini mempunyai sumbangan penting terhadap masalah kita”. Penelitian lanjutan membenarkan percobaan sederhana Feynman, ke-tidak-elastis-an ring karet memang menjadi penyebab bocornya hidrogen cair dari roket pendorong yang akhirnya meledakkan Challenger. Komentar atas demonstrasi Feynman tersebut pun bermunculan, salah satunya: “Masyarakat melihat dengan sendirinya bagaimana sains telah sukses, bagaimana seorang ilmuwan berpikir dan memperagakan hipotesa dengan tangannya; bagaimana alam akan memberikan jawaban yang jelas ketika seorang ilmuwan bertanya dengan pertanyaan yang tepat” kata Freeman Dyson.

Peristiwa di atas selain menggambarkan salah satu produk mutakhir pencapaian sains dan teknologi, yaitu pesawat ulang alik Challenger, juga jelas menunjukkan kekuatan sains sebagai metoda pemecahan masalah atas musibah yang dialaminya.

Ruang Lingkup Sains
Apa yang dimaksud dengan sains? Jawaban untuk pertanyaan ini akan sangat beragam, termasuk jawaban dari para ilmuwan sendiri. Namun, bagi seorang guru sains jawabannya akan sangat berarti, karena selain menunjukkan apa yang dia pahami juga akan mempunyai pengaruh yang menentukan terhadap apa yang dia ajarkan pada siswa, bagaimana cara dia mengajarkannya di kelas serta apa yang dia harapkan dari siswa melalui evaluasi/penilaian. Sebagai ilustrasi rangkuman riset tentang pengajaran sains yang dilakukan oleh Hodson (1993) menunjukkan hal yang menarik. Temuan riset tentang pemahaman siswa akan sains dalam satu kelas biasanya selalu konsisten, sedangkan pada siswa lain kelas sangat jauh berbeda, yang jelas menunjukkan bahwa pemahaman siswa tentang sains sangat dipengaruhi oleh pengalaman belajar yang ditentukan oleh pandangan guru tentang sains. Pada riset lain ditemukan, siswa-siswa dari tiga sekolah yang berbeda walaupun diajari materi pelajaran yang sama namun diberikan oleh guru yang berbeda menghasilkan pemahaman siswa yang beragam, hal ini terjadi karena pemahaman, cara mengajar dan perbedaan pandangan dari guru-guru sains yang juga berbeda-beda. Singkatnya hal ini menyimpulkan bahwa konsepsi siswa tentang sains sangat dipengaruhi oleh pandangan guru tentang sains.

Secara sederhana sains dapat berarti sebagai tubuh pengetahuan (body of knowledge) yang muncul dari pengelompokkan secara sistematis dari berbagai penemuan ilmiah sejak jaman dahulu, atau biasa disebut sains sebagai produk. Produk yang dimaksud adalah fakta-fakta, prinsip-prinsip, model-model, hukum-hukum alam, dan berbagai teori yang membentuk semesta pengetahuan ilmiah yang biasa diibaratkan sebagai bangunan dimana berbagai hasil kegiatan sains tersusun dari berbagai penemuan sebelumnya. Sains juga bisa berarti suatu metoda khusus untuk memecahkan masalah, atau biasa disebut sains sebagai proses. Metoda ilmiah merupakan hal yang sangat menentukan, sains sebagai proses ini sudah terbukti ampuh memecahkan masalah ilmiah yang juga membuat sains terus berkembang dan merevisi berbagai pengetahuan yang sudah ada.

Selain itu sains juga bisa berarti suatu penemuan baru atau hal baru yang dapat digunakan setelah kita menyelesaikan permasalahan teknisnya, yang tidak lain biasa disebut sebagai teknologi. Teknologi merupakan suatu sifat nyata dari aplikasi sains, suatu konsekwensi logis dari sains yang mempunyai kekuatan untuk melakukan sesuatu. Sehingga biasanya salah satu definisi popular tentang sains termasuk juga teknologi di dalamnya. Aspek-aspek lain dari sains dari kemungkinan lainnya pada jawaban pertanyaan di atas adalah: dampak sains melalui teknologi terhadap masyarakat, sifat sains yang terus berkembang, tujuan akhir dari sains, karakteristik seorang ilmuwan dan lainnya.

Sejarah perkembangan sains menunjukkan bahwa sains berasal dari penggabungan dua tradisi tua, yaitu tradisi pemikiran filsafat yang dimulai oleh bangsa Yunani kuno serta tradisi keahlian atau ketrampilan tangan yang berkembang di awal peradaban manusia yang telah ada jauh sebelum tradisi pertama lahir. Filsafat memberikan sumbangan berbagai konsep dan ide terhadap sains sedangkan keahlian tangan memberinya berbagai alat untuk pengamatan alam. Selanjutnya, sains modern bisa dikatakan lahir dari perumusan metoda ilmiah yang disumbangkan Rene Descartes yang menyodorkan logika rasional dan deduksi serta oleh Francis Bacon yang menekankan pentingnya eksperimen dan observasi.

Sumbangan konsep dan ide dalam sains terbukti telah banyak mengubah pandangan manusia terhadap alam sekitarnya. Contoh yang paling terkenal adalah teori relativitas dari Albert Einstein. Teori relativitas umum ini misalnya telah mengubah pandangan orang secara drastis akan sifat kepastian waktu serta sifat massa yang dianggap tetap. Disamping kekuatan konsep dan ide, melalui keampuhan alat dan telitinya pengamatan, kegiatan sains juga terbukti menjadi pemicu berbagai revolusi ilmiah. Pengamatan bintang-bintang oleh Edwin Hubble melalui teleskop di Gunung Wilson pada tahun 1920-an misalnya, membawa beberapa implikasi seperti adanya galaksi lain selain Bimasakti dan adanya penciptaan alam semesta secara ilmiah dengan makin populernya teori ledakan besar (Big Bang).

Teori-teori dalam sains terus berkembang dengan pesatnya, menggantikan berbagai teori yang ternyata terbukti salah setelah melalui konfirmasi percobaan ataupun memperbaiki dan melengkapi teori yang telah ada sebelumnya. Suatu teori adalah suatu konstruksi yang biasanya dibuat secara logis dan matematis yang bertujuan untuk menjelaskan fakta ilmiah tentang alam sebagai mana adanya. Suatu teori yang baik harus mempunyai syarat lain selain dapat menjelaskan, yaitu dapat memberikan adanya prediksi; contohnya dengan pertanyaan: Bila saya melakukan hal ini apa yang terjadi? Sebagai contoh, teori kuno yang menyatakan alam ini terdiri dari empat unsur yaitu tanah, udara, api dan air memenuhi syarat dapat menjelaskan komposisi alam, namun gagal bila mencoba memperkirakan dari mana semua unsur itu berasal dan bagaimana interaksinya dalam mahluk hidup misalnya. Sedangkan teori relativitas umum dari Einstein selain bisa menjelaskan bagaimana gaya gravitasi bekerja dan pergerakan benda langit secara tepat dibanding hukum gravitasi Newton, ternyata juga bisa memprediksikan adanya pembelokan cahaya bintang oleh matahari karena kuatnya gaya gravitasi dan hal itupun telah sukses dibuktikan.

Namun terkadang teori juga tidak bisa berbuat banyak karena konsekuensinya terlalu rumit bahkan untuk sekedar diramalkan. Untuk mengatasi hal ini para ilmuwan mengembangkan apa yang disebut dengan model. Model merupakan penyederhanaan dari suatu teori yang menjelaskan alam semesta misalnya secara lebih mudah akan satu aspek tertentu, namun menghilangkan aspek lainnya. Model berguna karena perilakunya yang cukup sederhana untuk dipahami dan diramalkan, walaupun terkadang model bisa menjadi tidak terlalu berguna karena banyak hal tidak berhubungan langsung dengan kenyataannya. Model atom merupakan salah satu contoh keterbatasan model yang terjadi dalam sejarah ilmu pengetahuan modern yang biasa disampaikan pada siswa pada pelajaran kimia dan fisika. Dimulai dengan model atom seperti bola yang dikemukakan oleh John Dalton. Model bola pada abad ke-19 direvisi oleh J.J. Thomson dari penelitiannya tentang sinar katoda, dia mengusulkan model atom berbentuk seperti roti kismis dimana bola bermuatan positif (roti) yang ditempeli oleh electron (kismis) yang bermuatan negatif. Awal abad ke-20, Rutherford mengusulkan model bahwa atom hampir mirip ruang kosong dengan inti yang merupakan pusat masa berisi proton dengan elektron berada pada orbit (tidak menempel seperti kismis seperti pada model Thomson) berdasarkan percobaannya yang menembakkan sinal alfa pada lempeng emas; lalu dikembangkan lagi oleh Bohr dengan model atom mekanika gelombang dimana orbit menjadi orbital dan kemudian hilangnya sifat partikel dari elektron dan lebih bersifat gelombang.

Perkembangan teori atom memberikan kita contoh nyata tentang tentatifnya suatu teori dalam ilmu pengetahuan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini disebabkan karena teori-teori atau hukum-hukum alam dalam sains adalah suatu generalisasi atau ekstrapolasi dari pengamatan, dan bukan pengamatan itu sendiri. Sedangkan pengamatan itu sendiri selalu tidak akurat atau tidak menjelaskan semua aspek yang seharusnya diamati. Apa yang dijelaskan dengan model atom Thomson contohnya, hanya berdasar pengamatan dari percobaan sinar katoda saja; model ini direvisi oleh Rutherford setelah dia membuktikan keberadaan inti. Sehingga unsur ketidakpastian dan kerelatifan menjadi hal yang penting dalam ilmu pengetahuan modern yang membuatnya terus berkembang.