Jumat, 20 Mei 2016

Tugas Ganda Filsuf


Bagi siapa pun yang ingin berkenalan dengan filsafat, biasanya pertanyaan yang mungkin paling pertama muncul dalam pikiran adalah: apakah filsafat? Dan justru memang pertanyaan filsafat yang paling mendasar inilah yang diajukan oleh Bryan Magee kepada filsuf Inggris, Sir Isaiah Berlin dari Oxford, penulis biografi Karl Marx itu.

Diskusi dengan Sir Isaiah Berlin yang diberi judul 'Pengantar ke Dalam Filsafat' ini berkisar pada berbagai permasalahan yang mendasar dalam filsafat. Landasan titik tolak yang diambil oleh filsafat sebagaimana secara panjang lebar dibentangkan oleh Isaiah Berlin, kurang lebih dapat kita simpulkan dengan mengatakan bahwa di tengah perjuangan mencari pengetahuan tentang manusia, mereka pada umumnya mengajukan dua jenis pertanyaan.

PERTAMA, berbagai pertanyaan mengenai dunia semesta. Manusia sepanjang masa mencoba menemukan serta menguasai lingkungannya, atau menaklukkan lingkungannya. Pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut alam semesta ini, menurut Isaiah Berlin, hanya bisa terjawab pada akhirnya dengan meninjau pertanyaan-pertanyaan itu sendiri, menyelidiki, mengamati, menguji, melakukan percobaan terhadap semesta dan seterusnya. Pertanyaan-pertanyaan itu bersifat faktual, atau sebagaimana yang dikatakan oleh para filsuf: bersifat empiris. Atau jelasnya, pertanyaan pertanyaan yang berpaut dengan pengalaman.

Pertanyaan yang Kedua bersifat lebih abstrak dan formal. Misalnya pertanyaan-pertanyaan dalam bidang matematika atau logika. Pertanyaan jenis ini berkaitan dengan hubungan timbal-balik antara berbagai kesatuan dengan sistem formal, dan oleh karena itu tidak dapat dijawab hanya dengan meninjau alam semesta. Dengan mengatakan hal ini, menurut Isaiah Berlin lagi, tidaklah dimaksudkan bahwa pertanyaan itu berada pada jarak yang jauh dari perhatian kita sehari-hari.

Satu sistem formal yang sudah sangat biasa kita pakai dalam kehidupan sehari-hari adalah aritmatik. Sistem itu kita pergunakan setiap hari untuk menghitung sesuatu, menentukan waktu, membilang uang dan sebagainya. Suatu sistem niskala memang bisa sangat berguna dan penting dalam kehidupan praktis kita sehari-hari. Dengan demikian, terdapat dua golongan besar pertanyaan: berbagai pertanyaan empiris yang melibatkan ikhtiar meninjau berbagai fakta dan pertanyaan-petanyaan formal yang melibatkan upaya menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain.

Hampir seluruh pertanyaan, dan karena itu seluruh pengetahuan, termasuk ke dalam salah satu dari golongan pertanyaan tadi. Namun tidaklah demikian halnya dengan pertanyaan pertanyaan yang bersifat filosofis. Hampir seluruh pertanyaan yang menunjukkan tanda-tanda pertanyaan filosofis tidak termasuk ke dalam dua golongan pertanyaan tadi.

Pertanyaan seperti apakah yang dimaksudkan dengan hak, keindahan, dan keadilan, tidak dapat sekadar dijawab hanya dengan meneliti ikatan suatu sistem formal atau meninjau fakta-fakta. Oleh sebab itu kita tidak mengetahui apa yang harus diperbuat untuk menemukan jawabannya. Timbulnya pertanyaan yang menuntut jawaban tanpa suatu pengertian yang jelas tentang bagaimana menemukan jawabannya adalah awal dari langkah filsafat.

Anggapan keliru yang terlanjur meluas di tengah masyarakat adalah perkiraan bahwa filsafat dapat memberikan petunjuk-petunjuk moral tentang bagaimana semestinya kehidupan ini harus dijalani, atau berharap bahwa filsafat dapat menyodorkan penjelasan tantang manusia dan alam semesta, tentang rahasia kehidupan. Atau, dengan lain perkataan, orang mencoba menghampiri filsafat untuk menemukan jawaban-jawaban yang serba pasti.

Seorang filsuf memang bisa bicara tentang moral, tapi dalam hal ini kedudukannya hanya sebagai penasehat filosofis. Bukanlah tugasnya untuk berkhotbah, mengutuk atau memuji, atau memberi berbagai petunjuk tentang bagaimana orang harus hidup. Tugas seorang filsuf, menurut Isaiah Berlin, hanyalah menempatkan arah dari satu tindakan dalam hubungan moralnya. Menentukan posisinya berdasarkan suatu peta moral, menghubungkan sifat, motif, tujuannya pada kaitan seluk-beluk nilai ke dalam mana tindakan itu tergolong. Menarik garis dari berbagai akibatnya yang mungkin terjadi serta berbagai implikasinya yang berpautan atau relevan, memberikan berbagai argumen yang pro atau menentangnya dengan seluruh pengetahuan, pengertian, kecakapan logika dan kedalaman moral yang dimiliki oleh sang filsuf.

Dengan demikian, maka ia telah menjalankan tugasnya bukan sebagai seorang pengkhotbah atau juru mudi kehidupan, melainkan sekadar sebagai seorang penasehat filosofis. Seorang filsuf tidak dapat berbuat lebih jauh dari itu atau melampaui batas tugasnya sebagai seorang penasehat filosofis.

Berpijak pada pandangan tadi, Isaiah Berlin menyuarakan keberatannya pada sebagian besar filsuf moral dan politik, mulai dari Plato dan Aristoteles sampai pada Immanuel Kant, Stuart Mill, Moore, serta kebanyakan para pemikir kontemporer. Menurut Isaiah Berlin, para filsuf itu justru berbuat sebaliknya. Mereka berusaha mengajarkan bagaimana membedakan antara yang buruk dengan yang baik, menganjurkan penerapan pola-pola yang benar ke dalam tingkah laku manusia.

Kendati demikian, diakui pula oleh Berlin bahwa filsafat mengemban tugas ganda: menyelidiki, khususnya mengecam pra-anggapan atas ketentuan-ketentuan nilai yang ditetapkan atau dirumuskan oleh manusia dengan pikiran maupun tindakannya. Sedangkan tugas lain adalah menampung atau melayani berbagai pertanyaan yang tidak termasuk ke dalam golongan formal maupun ke dalam golongan empiris yang telah disinggung di permulaan tadi. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar