Jumat, 11 Desember 2015

Jaman & Manusia Modern Menurut Filsuf & Ilmuwan



 Hak Cipta @Sulaiman Djaya (2001)

Para filsuf dan analis di abad-19 telah menawarkan perspektif baru dalam melihat manusia (setidak-tidaknya dalam kadar jaman mereka).

Soren Kierkegaard, contohnya, memandang manusia di jamannya digerakkan oleh materialisme dan kolektivisme atas dasar rasionalitas instrumental. Sedangkan Sigmund Freud menyatakan bahwa warisan tradisi sebagai sublimasi dan gejala neurotik, seks sebagai fakta yang diingkari telah menimbulkan gangguan kejiwaan manusia dan hipokrisi, dan neurosis adalah buahnya yang tak teringkari.

Tak jauh berbeda dengan Soren Kierkegaard dan Sigmund Freud, sosiolog Max Weber menyesali rasionalisme instrumental sebagai the iron cage dan disenchantment of the world.

Para filsuf, sosiolog, dan para ilmuwan di abad ke-19 itu telah memberikan sumbangan bagi khazanah teoritik dan wawasan kebudayaan, setidak-tidaknya pada jaman mereka.

Namun berbeda dengan para filsuf, sosiolog dan ilmuwan yang telah disebutkan itu, Friedrich Nietzsche lebih menyelam ke dalam saat melihat persoalan tantangan dan gejala yang dihadapi manusia modern, ketika ia menyatakan bahwa peradaban modern mengidap kesadaran buruk, filsafatnya telah menjadi mummy yang menghisap darah kehidupan manusia, dan asketisme kristiani-nya menurutnya justru telah melakukan pembunuhan karakteristik atas manusia modern.

Dalam skala itu, meski berbeda dalam hal fokus dan perspektifnya, tilikan dan pandangan Friedrich Nietzsche dekat sekali dengan apa yang juga disuarakan Soren Kierkegaard, yaitu menyadari krisis manusia modern. Hegelianisme-Kristen, contohnya, dipandang oleh Kierkegaard sebagai rongrongan atas eksistensi manusia sebagai subjek-subjek yang individual dan mandiri. Di sini, Kierkegaard menegaskan bahwa apa yang dipilih seseorang akan menentukan siapa dirinya dalam konteks dunia modern.

Di sisi lain, sains dan rasionalitas modern telah menjadi suatu pabrik, yang pada akhirnya akan menggiring manusia modern kepada nihilisme. Jalan keluarnya, demikian menurut Friedrich Nietzsche, adalah revaluasi dan transvaluasi nilai-nilai yang dianut manusia modern.

Singkatnya, berbeda dengan para filsuf, sosiolog, dan atau para ilmuwan lainnya, Friedrich Nietzsche telah menyingkap lorong-lorong gelap manusia modern.

Singkat kata, kita juga dapat memahami kembali konteks Friedrich Nietzsche dan Soren Kierkegaard dalam hal kritik kebudayaan dan analisis sosial ketika membaca tulisan-tulisannya Erich Fromm, Martin Heidegger, Rollo May, Allan Bloom, dan tentu saja, para filsuf dan analis yang lazim dikenal sebagai Mazhab Frankfurt.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar