Jumat, 18 Maret 2016

Rimba Warna dalam Mazmur Musim Sunyi




oleh Mugya Syahreza Santosa (penyair, tinggal di Bandung)

“Aku selalu punya hitam yang paling lembut
sebuah rumah dalam kerang
bermahkota kabut. Aku selalu punya dinding
yang senantiasa menggambar waktu.“

Penggalan puisi di atas merupakan pernyataan Sulaiman Djaya (selanjutnya dipanggil SD) sebagai penyair yang berhadapan dengan puisi-puisinya. Puisi dalam diri SD merupakan buah pengembaraannya ke dunia teks untuk menghasilkan kembali sebuah teks lain, meski tak dituntut menjadi hal baru, namun minimal memproduksi sesuatu yang mewujud “rupa baru”. Ini merupakan terusan dari apa yang diutarakan Arip Senjaya dalam epilog buku itu. Meskipun Arip menjelaskan bahwa jejak pembacaan SD dalam hal ini, tidak akan menjamin memperlihatkan tempat pemberangkatannya, melainkan mempertajam puisi-puisi SD itu sendiri.

Padahal, dengan tingkat kepercayaan diri SD yang ragu, pada kata pengantarnya, sang penyair sudah menyatakan bahwa puisi-puisinya mungkin saja lanjutan dari setiap hal yang telah hadir sebelumnya. Baik sebagai ide gagasan, estetika, maupun spiritnya. Saya kira tidak ada yang aneh dengan kesadaran SD akan hal tersebut. Bahkan satu sisi mungkin kesadaran tersebut menjebak sebagai kutukan yang bertahap menghampiri diri seorang penyair.

Akan tetapi tulisan ini, demi menghindari pembacaan yang sama, saya lebih memilih mengincar obsesi SD pada hal-hal yang riil dan seringkali menghiasi puisi-puisinya. Baca saja frasa “Hitam yang paling lembut” di larik pertama puisi SD yang berjudul “Mula Puisi”, yang menyuratkan obsesi SD sebagai penyair terhadap warna. Obsesi sebagai pikiran yang berulang dan menetap, impuls-impuls atau dorongan yang menyebabkan kecemasan. Obsesi itu acapkali muncul di berbagai puisi-puisinya untuk menegaskan di mana di SD sebagai penyair sedang berdiri: yang mengakibatkan adanya panorama yang sedang direnunginya sebagai peristiwa, alur waktu seperti ditegaskannya pada frase berikutnya: “menggambar waktu”, dan kegelisahan lainnya lagi yang kerap hadir menghantuinya.

Rasionalisasi benda-benda pada puisi-puisi Sulaiman Djaya selalu memungkinkannya untuk memaknai obsesi tersebut, seperti tercermin dalam pengakuannya: “benda-benda menggambar cuaca jadi warna”, dan begitu mendambakannya SD pada “kertas merah tua dari senja” hingga puisi akan terus dituliskan di atas hamparannya.

Pada puisi berikutnya, yaitu “Di Ruang Baca”, SD semakin mendesak pembaca untuk larut mengiyakan bahwa “hari-hari yang kadang putih” merupakan pemandangan dari mata penyair untuk diterima oleh kita juga. Mengapa bisa demikian? “Karena waktu yang tak pernah bosan // menggambar warna pada bayang-bayang”, yang menurut SD terus ada dalam pikirannya.

Sementara itu, dunia dalam puisinya yang berjudul “Monolog” yang menjadi bagian percakapan penyair dengan bathinnya itu memperlihatkan kembali adanya keraguan untuk menyatakan warna apa yang dirasa pas demi mewakili sebuah nasib yang ditanggungnya? Karena bagi SD “bukan berwarna biru, ungu atau hijau abu-abu”. Ini membuat saya sebagai pembaca harus menerawang dan membayangkan apa yang diwakili warna dalam puisi-puisi SD bisa menjadi sebuah tolok-ukur untuk benda-benda yang sifatnya metafisik.

Akan banyak sekali yang ditemukan dari puisi-puisi yang terhimpun dalam Mazmur Musim Sunyi SD ini, yang secara tanpa sadar menggunakan citraan warna-warna untuk menandakan benda-benda. Sebut saja “putih beludru” dalam puisi “Memoar”, “November yang agak ungu” untuk latar waktu pada puisi “Surat Cinta”, “mendengar putih bintang-bintang”, “tahun-tahun adalah kibasan perak warna kelabu yang jadi biru”, “hijau musim di wajahmu yang matang”, “senja tampak marun”, “langit kuning bulan Mei”, “akhirnya datanglah Desember putih”, dan masih banyak lagi yang lainnya yang kemudian dapat disandingkan dengan penanda waktu.

Mungkinkah SD sedang berusaha meneguhkan dirinya lewat warna-warna yang ada di dunia ini? Agar tidak serta-merta warna-warna tersebut hanya menjadi identitas sebuah produk yang dapat dijual sebagai dagangan semata. Semisal menjadi wilayah fashion, trend, atau hasil industri dan pasaran lainnya lagi. Mungkin puisi yang langsung diberi judul “Elegi Kirmizi” akan memberi sedikit peluang dalam menemukan di mana SD sebagai penyair mengandaikan hidup dirinya “sepekat malam”, hingga pikirannya terobsesi warna-warna di luaran dunia sana.

Lalu perhatian saya berikutnya sebagai pembaca, meyakini latar waktu dalam puisi-puisi SD memiliki peranan ganda yang tidak hanya menjadi durasi, melainkan menjadi ruang beralusi. Jelasnya: “selalu punya dinding yang senantiasa menggambar waktu” untuk dipandangi, dibandingkan kembali bahkan diputar ulang sebagai peristiwa baru lagi untuk dinikmati.

Nama-nama bulan dalam perkalenderan pun banyak diseret oleh SD sebagai sejumlah metafor yang bisa dicampur-baurkan dengan warna-warna, menjadi semacam impressi. Nyanyian Desember adalah puisi yang paling mengesankan semua itu, baik dilihat pada obsesinya pada warna yang terus dihadirkan oleh sang penyairnya, juga latar waktu sebagai alusi.

Secara sengaja atau tak sengaja, puisi-puisi SD merupakan bagian dari representasi dari keadaan jiwanya dalam menangkap fenomena di sekitarnya, yang dalam hal ini dituangkan lewat penanda pada jenis warna-warna yang begitu sangat dominan di sebagian besar puisi-puisinya dalam buku Mazmur Musim Sunyi. Kemungkinan SD mengirim lambang-lambang tersebut untuk memperkokoh kelangsungan pilihan katanya.

Cermati saja, betapa sering SD mewakilkan dirinya sebagai penyair dan sebagai seseorang yang senantiasa menghasilkan sebuah karya, yang berusaha bahkan bersaing dengan dirinya sekalipun, dan kadang penuh “kebirahian”. Hingga nampak, misalnya, pada disandingkannya dengan kata “senja”, terus dengan “kata-kata pertama hawa”, dan sebagainya. Barangkali hal itu disadari oleh SD sebagai penyair, namun bisa jadi alam bawah sadar-nya lah yang membimbing dan menuntunnya.

Sementara itu, warna biru, yang menggeliat di sejumlah nafas puisi-puisinya, memberi kesan menenangkan hingga tercapailah “takdir yang bukan biru”. Sehingga SD sebagai penyair meneguhkan dirinya akan nasibnya yang tidak pernah tenang, tidak pernah banyak harapan seperti tergambar dalam perlambang warna ungu, namun juga tak ada keinginan untuk hampa sebagaimana tercermin dalam perlambang “hijau yang abu-abu”.

Ada baiknya saya akan memberikan beberapa pemahaman saya sebagai pembaca akan warna-warna dalam puisi-puisi SD tersebut sebagai sesuatu yang memiliki ruang jiwa yang dapat kita duga. Misalnya pada warna hijau yang selalu mengesankan suatu keinginan, meski di dalamnya ada ketabahan dan kekerasan hati. Sementara untuk warna coklat seringkali memperlihatkan kondisi perebutan, yang kurang toleran, keadaan pesimis pada masa depan adalah wataknya. Dan terakhir, yaitu warna ungu, menjadikan semacam bagian dari bauran warna merah dan biru sebagai ke-erotis-an, dan selalu mempercayai banyak harapan.

Dari pendekatan inilah, saya sebagai pembaca, bisa menarik-ulur apa yang sering diandaikan penyair, yang dalam hal ini SD, untuk melekatkan citraan warna sebebas-suka pada benda-benda yang ada di ruang sekitarnya. Tidak hal yang ganjil, sebenarnya, warna-warna tersebut menjadi semacam jurus, karena beberapa penyair sebelumnya juga menggunakannya. Meski dalam hal ini, rimba warna dalam puisi-puisi SD begitu kentara dan terkonsentrasi begitu kuatnya.

Demikianlah pembacaan saya atas buku puisi Sulaiman Djaya, Mazmur Musim Sunyi, sesuai dengan fokus dan tafsir saya yang melihat dan mencermatinya pada “kekhususan” SD sebagai penyair ketika menggunakan perlambang warna-warna dan bulan-bulan dalam perkalenderan. Dalam hal yang demikian itu, SD menuliskan kilauan-kilauan puisi-puisinya lewat dendang dan nyanyian yang sunyi, namun sekaligus bergairah.

Sumber: Tabloid Banten Muda Edisi 17, Juni 2013

Vladimir Putin

Russian President Vladimir Putin and Tatarstan President Mintimer Shaimiyev (right) on a walk along Bauman Street. 
Kazan, Tatarstan, Russia, june 24 2000, Russian President Vladimir Putin wearing a Tatar embroidered skull-cap on his head seen attending an open-air holiday events organized outside kazan, sabantui has been traditionally celebrated as a plough holiday marking the end of sowing campaign, now it has become a national holiday marked all over the republic notwithstanding occupation or national identity. 
Russian President Vladimir Putin, left, holds flowers June 24, 2000 outside Kazan, Tatarstan during the celebration of the local Sabantuy holiday. Putin took an active part in mid-summer festivities in central Russian republic, defeating a young woman at arm wrestling and retrieving a coin from a tub of fermented milk with his teeth. 
 Russian President Vladimir Putin with Tatarstan's Mufti Gusman Khazrat in the Kazan. 
 Russia's President Vladimir Putin, left, meets with Iran's Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei in Tehran, Iran, Nov. 23, 2015. 
Russian President Vladimir Putin (L) inspects the honor guard during the welcoming ceremony at the Presidential Palace in Jakarta, 06 September 2007. 
Russian President Vladimir Putin (3-right) stands for the Asia Pacific Economic Cooperation summit's family photo next to Peruvian President Ollanta Humala (right), President Barack Obama (center) and Indonesian President Joko Widodo (left) and others at the National Aquatics Center in Beijing (China) today, Monday 10 November 2014. EFE / Sergei Ilnitsky.

Selasa, 08 Maret 2016

Politik Global Zaman Akhir




oleh Syekh Imran Nazar Hossein (Jenewa, Swiss 27 Februari 2016)

Guru saya Maulana Fazlur Rahman Al-Anshari bertanya kepada saya, Al-Quran telah datang bagi orang-orang yang takut kepada Allah, kemudian apa isi Al-Quran yang lainnya? Beliau menunjuk kearah langit, lihatlah bintang-bintang di langit. Bagi orang-orang yang tidak mengerti, bintang-bintang itu hanyalah sesuatu yang sangat indah. Hanyalah sebatas sesuatu yang berkelap-kelip. Namun ketika Allah berbicara tentang bintang-bintang yang ada di langit, maksudnya adalah bahwa bintang-bintang itu bukanlah hanya sekedar hiasan, bintang-bintang itu memberi kamu panduan, jika kamu bisa memahami maknanya.

Jika kamu menghubungkan satu bintang ke bintang yang lain, kamu akan mendapat gambaran besar. Maka ketika kamu berlayar di lautan, kamu bisa melihat pola bintang-bintang itu untuk memberikan petunjuk arah, ayat-ayat di Al-Quran itu seperti bintang-bintang itu, memberi kamu arahan dan panduan di dalam proses sejarah manusia, banyak orang yang melihat sejarah manusia hanya sebatas menghafal peristiwa dan tanggal kejadian, mereka hanya memahami sejarah sebagai sesuatu yang tidak berarah, tanpa bertujuan, seperti kayu yang ada di lautan, kesana kemari, tidak punya arah yang jelas dan pasti.

Namun ada orang-orang yang tertentu, “biasanya mereka tidak melihat televisi”, mereka itu adalah pemikir, mereka berpikir, mereka bisa menghubungkan peristiwa satu dengan peristiwa yang lain dalam sejarah, dan mereka bisa melihat pola tertentu dalam sejarah, dan membaca sejarah dengan berbeda dari apa apa yang ditulis dalam sejarah, mereka melihat bahwa dunia berada di ambang kehancuran, dan mereka ini belum tentu orang Islam, atau Nashrani (Kristiani) atau Yahudi.

Di sebelah saya ini adalah seorang sekuler, Piero, ia menulis surat kepada saya, “Saya mengerti apa yang kamu bicarakan”, dan setelah berdiskusi dengan saya, kita memperoleh kesimpulan yang sama. Oleh karena itu, Allah memberikan cahaya kepada siapa saja yang diinginkan, dengan cahaya itu, kamu bisa membaca dan menghubungkan peristiwa-peristiwa dalam sejarah, dan mengerti kita berada di mana, dan bagaimana cara mengantisipasinya.

Saat ini Suriah itu seperti tumpukan kayu kering, yang hanya membutuhkan api kecil untuk membakarnya. Mereka yang telah menciptakan ISIS, yang saya sebut sebagai Negara Islam palsu, telah menciptakan ISIS melalui perencanaan yang matang, dan untuk mencapai tujuan-tujuan penting. Namun sekarang rencana mereka hancur berantakan, karena intervensi militer Rusia di Suriah yang telah mengalahkan ISIS, dan mereka tidak bisa menerima hal itu terjadi.

Maafkan bahasa saya yang kasar. Ada orang-orang yang munafik, mereka mengatakan kebohongan besar, kemudian keesokan harinya mereka mengenakan pakaian bagus untuk pergi ke Gereja di Hari Minggu [Barat], dan ada juga datang ke Masjid di Hari Jum’at [Erdogan-Turki], tanpa rasa malu. Yakni mereka yang telah menciptakan ISIS. ISIS telah berada di ambang kehancuran, karena penyusupan militer mereka ke Suriah telah gagal. Digagalkan oleh tentara yang berada di dalam Suriah, bukan tentara yang berada di luar Suriah, yang dibayar satu ribu dolar per-hari, para tentara bayaran. Tentara yang mempertahankan Suriah, apapun agama mereka, Muslim, Kristen, atau yang lainnya, telah memenangkan peperangan itu.

Oleh karena itu, saat ini kita berada di saat yang berbahaya, itulah pengantar ceramah hari ini, yaitu mempersiapkan diri menghadapi perang nuklir. Kami mengajak para pendengar untuk melihat dua kota yang penting, yaitu ALEPPO di utara Suriah, dan MOSUL di utara Irak, jika kedua kota tersebut jatuh ke tangan Rusia kita berkemungkinan, entah besok atau lusa, bahwa Turki anggota NATO, yang dipimpin Presiden Erdogan, akan melakukan serangan militer ke Suriah. Agar tidak kalah dalam peperangan itu. Dimana Arab Saudi mungkin akan menjadi bagian dari perang itu. Jika serangan itu terjadi, apakah serangan itu dengan ijin NATO? Atau Turki dan Arab Saudi melakukannya tanpa sepengetahuan NATO, dengan harapan NATO akan ikut campur. Ini adalah pertanyaan yang tidak bisa saya jawab, saya dan semua orang tidak bisa menjawab pertanyaan itu, ini adalah analisis kecil, sebelum kita masuk ke gambaran besarnya.

Jadi ada dua kemungkinan di situ, akan ada perang terbatas dimana NATO tidak ikut campur. Turki dan Arab Saudi akan bertempur bersama NATO dimana mereka akan kalah, Rusia akan mengalahkan mereka. Ini adalah skenario di mana saya harus memilih apa yang harus saya katakan dengan hati-hati. Jika skenario itu terjadi yaitu pilihan yang pertama tadi, maka akhir dari perang terbatas itu secara pasti sudah kita ketahui jawabannya, yaitu bahwa Iran menjadi penguasa di Timur Tengah, bahwa keluarga kerajaan Saudi akan hilang dari sejarah manusia, bahwa ISIS akan menguasai Mekkah dan Madinah.

ISIS adalah ular berbisa yang diciptakan dengan tujuan khusus memulai perang adu-domba antara Syi’ah dan Sunni di dunia Islam. Maka jika ISIS menguasai Saudi Arabia, hal itu akan menjadi umpan yang saya harap Iran tidak akan memakannya. Jika Iran memakan umpan itu, dan menyerang Arab Saudi, maka mereka yang menciptakan ISIS mendapatkan apa yang mereka inginkan, yaitu perang antara Syi’ah dan Sunni di dunia islam, dan yang diuntungkan adalah Israel.

Saya akan mengutuk Iran jika itu terjadi, jika Iran melakukan serangan bodoh ke Arab Saudi. Pilihan yang kedua, dan kita bergerak cepat sekarang, adalah serangan Barat ke Suriah, Dimana NATO ikut campur karena Turki adalah anggota NATO. Itu adalah kewajiban legal, jika salah satu anggota NATO berperang, maka seluruh NATO ikut berperang. Ini akan memicu terjadinya perang dunia, dan jika perang dunia terjadi saat ini, maka itu adalah sebuah perang nuklir. Jika itu perang nuklir, maka hanya ilmuwan nuklir yang bisa memberitahu kita, apa saja dampak perang nuklir, dan saya harap Piero dapat menjelaskan kepada kita semua hal yang akan terjadi, seperti apa dunia setelah perang nukllir itu?

Sekarang Eskatologi Islam akan menjelaskan apa-apa yang berkaitan dengan perang nuklir? Kita sudah sering mendengarkan apa yang Nabi saw katakan, hanya saja kita tidak menempatkannya dalam konteks yang benar. Nabi Muhammad saw berkata: ‘Bahwa sungai Eufrat suatu hari nanti, akan mengeluarkan segunung emas, dan orang-orang akan berperang untuk memperebutkan emas itu, bahwa 99 orang dari 100 yang memperebutkan emas itu akan mati, dan masing-masing akan berkata bahwa akulah yang akan selamat atau menang, tetapi mereka yang beriman kepada Allah tidak boleh menyentuh emas itu’.

Kami mengenalinya sebagai simbolisme keagamaan, dan pada seminar kami di Bulan Agustus 2014 di Jenewa, kami menjelaskan ta’wilnya, bahwa segunung emas yang dimaksud bukanlah logam, memang, ada mereka yang memaksakan untuk mentakwilkannya secara tersurat, dan mereka sampai saat ini menunggu Sungai Eufrat mengeluarkan logam emas. Tetapi menurut kami ini adalah simbolisme keagamaan, pada tahun 1974, lautan minyak bumi yang berada dibawah sebuah sungai telah berfungsi sebagai segunung emas.

Kapan? Bagaimana? Yaitu ketika HENRY KISSINGER meminta Raja Faisal untuk menjual minyak ke Arab Saudi (Sebuah permintaan yang sangat arogan), bahwa minyak Arab Saudi hanya boleh dijual dengan Dollar Amerika. Dan mereka berkata; kami adalah kaum yang menegakkan pasar yang bebas dan adil, benarkah? Apakah ini pasar yang bebas dan adil? Apakah mereka tidak malu? Apakah kamu tidak malu? Apakah ini pasar yang bebas dan adil? Bahkan jika saya ingin membeli minyak bumi dengan emas pun tidak boleh. Saya tidak boleh membeli minyak bumi dengan yang lain kecuali dengan Dollar Amerika. Raja Faisal menyetujuinya, dan mengajak seluruh negara Arab pengekspor minyak bumi untuk mengikutinya, dan itulah OPEC maha karya Gerakan Zionist.

Ya OPEC melaksanakan hal itu. Lalu lahirlah sesuatu yang disebut sebagai PETRODOLLAR. Dan prediksi Nabi Muhammad [saw] terbukti, lalu beliau berkata, bahwa mereka akan berperang untuk memperebutkan minyak itu. Hati-hati dengan apa yang Nabi katakan, perang itu akan terjadi sebentar lagi, karena BRICS adalah ancaman bagi PETRODOLLAR. Dan Rusia adalah pemimpin BRICS, tanpa Rusia, China tidak akan ada berada di BRICS. Tanpa Rusia, Brazil, India, China, Afrika Selatan, BRICS hanyalah taman kanak-kanak. Jadi menurut pandangan eskatologi kami, sebuah perang besar telah datang, kami mengerti dan memahami, itu adalah perang untuk memperebutkan segunung emas.

Oleh karena itu Ukraina adalah hanya tontonan, dan Suriah adalah tontonan, perang sebenarnya adalah untuk segunung emas. Untuk menjaga kekuasaan mereka di seluruh dunia, mereka harus menjaga kekuasaan mereka terhadap uang. Kamu tidak bisa menguasai dunia tanpa mengusai uang, dan kamu tidak menguasai uang selama umat manusia menggunakan emas dan perak sebagai uang. Kamu harus membuang emas dan perak sebagai uang? Karena itulah uang yang memiliki nilai intrinsik. Itu adalah uang yang sebenarnya dan kamu menggantinya dengan permainan monopoli, ada orang yang menyebutkannya uang kertas toilet.