Minggu, 30 Agustus 2015

Mazmur Asmara



(Gambar: Drawing karya seniman realis Iran, Iman Maleki)


Tiga Puisi Sulaiman Djaya


DI JAKARTA

Lampu-lampu sepanjang trotoar
dan rindang pohonan
sudah terbiasa akrab dengan dingin yang menusuk
benang-benang bajuku.

Apakah aku harus menulis puisi
dengan rasa es krim atau cukup bercerita
tentang stocking seorang perempuan
yang selama semalaman belum juga
dapat pelanggan?

Sungguh aku sebenarnya ingin juga seperti mereka
yang kencing sembarangan di semak-semak taman kota
memberi kehangatan
pada serangga-serangga malam
yang kedinginan dan bermimpi

di rimbun lalang pinggir comberan.

(2007)


PENYAIR

Bahwa waktu tak berjalan
di saat aku memendam pertanyaan
dan tak menemukan jawaban.

Debu, benda-benda, dan bayang-bayang sang tahun
sudah sekian lama menertawakanku.
Ruang tempatku setia dan gundah
sama halnya lembar-lembar yang lapuk dan kusam
tempatku menceritakan kebosanan
dan keriangan

adalah perlawanan yang selalu mengajakku
untuk memasuki buku-buku berdebu
yang belum sempat kubaca
tiba-tiba telah meminta
lembar-lembar lain yang tak kuasa kucegah.

Baru kusadari, matamu bukan lagi mataku
dan kau menitip usia yang mudah kulupakan begitu saja.
Apakah kematian sempat meberitahukanmu
kapan aku akan kembali dilahirkan
ke sebuah jazirah yang ingin kukenal,
yang mungkin akan semakin membuatku heran,
terpedaya, girang, atau sekadar berpura-pura dungu

seperti sebuah patung yang menunggu
tiba-tiba kusadari bahwa kau bukanlah diriku
selain bayang sang waktu.

Kau tinggalkan namaku bersama tanggal-tanggal
yang setahuku tak bisa memberiku penjelasan
beda tubuh dan jeda tidur. Sekali waktu
aku bertanya-tanya apa yang kulakukan
tanpa menyisakan ingatan.

Mataku telah menjadi bayang-bayang
yang berkeliaran tak tentu arah
bila aku mencari kata-kata dari dunia-dunia
yang dilupakan dan tergesa
oleh tahun-tahun yang merebutku
dari kenangan masa silam.

(2015)  


MAZMUR ASMARA

Aku menulis puisi lagi
ketika hatiku seperti kemarau di matamu.
Ketika arah petang meliuk hijau
seteduh sajak ini.

Misalkan cinta seringan cuaca,
tetap saja bukan soal sebuah sajak.
Sebab aneh juga, serasa baru kemarin,
semua yang kulihat tampak tersenyum

secantik langit di parasmu.  
Kuingin kau membacanya
dengan kiasan matahari mendatangi
rumput-rumput awal hari.

Dengan selagu matsnawi
yang kau madahkan dalam diri.
Sebab telah kutanggung seribu sanjung
mazmur imanku nun dirundung lumpuh.

Kuingin kau menyimaknya
dengan apa yang dikatakan awan
kepada sang pengembara.
Dengan senandung padang lalang

kepada mereka yang berumah dedaunan
selarut rembangku di Januari matamu.

(2015)

Minggu, 23 Agustus 2015

Menjadi Manusia Ala Rachel Corrie




Apa yang kira-kira terbesit pertama kali saat kita mendengar nama Rachel Aliene Corrie, mahasiswi yang mengalami tragedi karena membela kemanusiaan di Palestina itu? Tentu, jika kita membaca kisahnya, kita akan tahu ia adalah seorang pribadi yang menjadi bukti tentang keberanian dan keteguhan hati seorang manusia, seorang anak manusia yang kini menjadi simbol solidaritas kemanusiaan.

Rachel Aliene Corrie adalah bukti nyata bahwa humanisme atau spirit dan nilai-nilai kemanusiaan itu melampaui batas batas agama, ras, bangsa, bahasa, bahkan negara yang kadang menjadi dinding pemisah bagi manusia untuk merasakan empati manusia yang lain. Ia telah melabrak batas-batas tersebut, bahkan dengan mengorbankan dirinya demi membela warga Palestina yang telah berpuluh-puluh tahun tertindas dan hidup dalam represi.

Demikian pula, arti penting apa yang telah dilakukan Rachel Corrie bagi martabat kemanusiaan, bagi nilai dan makna peradaban kita di dunia hingga detik ini, bahkan membuat Edward W. Said, sang intelektual organis jempolan itu, menulis esai khusus yang menggugah dan mencerahkan tentang keteladanannya.

Mungkin untuk sebagian orang, Rachel Aliene Corrie adalah nama yang asing, atau barangkali bagi kita di Indonesia, tapi tidak untuk rakyat Palestina yang telah lama mengalami diskriminasi sosial dan politik di negeri mereka sendiri sejak kehadiran rezim apartheid Zionis Israel. Bagi rakyat dan bangsa Palestina, Rachel Corrie adalah seorang martir alias seorang syuhada, meskipun dia sendiri tidak pernah ingin dianggap seperti itu, tak lain karena perjuangan demi kemanusiaan itu adalah murni panggilan jiwanya.

Kalimat-kalimat yang ia tulis dalam surat-suratnya yang ia layangkan kepada sahabat dan keluarganya telah menunjukkan hal tersebut, sebagaimana ia menyatakannya dengan lantang dan tanpa ragu: “Kusaksikan pembantaian yang tak kunjung putus dan pelan-pelan menghancurkan ini, dan aku benar-benar takut….Kini kupertanyakan keyakinanku sendiri yang mendasar kepada kebaikan kodrat manusia, ini harus berhenti.”

Demikian tulisnya dalam email yang bertanggal 27 Februari 2003 silam itu. Sebagai warga Amerika dan pembayar pajak, ia menuduh atau merasa dirinya sendiri bersalah secara tidak langsung atas apa yang terjadi di Palestina, terlebih lagi negaranya, Amerika, yang setiap tahunnya selalu mengucurkan dana bantuan untuk Israel dan dukungan kepada Ariel Sharon kala itu atas setiap okupasi dan penguasaan semena-mena atas tanah Palestina.

Karena ketergerakan hati dan jiwa solidaritasnya itu, ia datang langsung ke Palestina memenuhi panggilan jiwanya tersebut, dan tepatnya pada Januari 2003 ia tiba di Tepi Barat dan bergabung bersama International Solidarity Movement, sebuah grup pegiat kemanusiaan anti penjajahan yang berkeyakinan bahwa kemerdekaan adalah hak rakyat Palestina berdasarkan hukum internasional dan resolusi PBB, dengan aksi langsung tanpa kekerasan. Kemudian ia tiba di Raffah, dan saat itulah dengan matanya sendiri ia melihat bagaimana tentara Zionis meluluhlantakan pemukiman penduduk dengan buldozer–buldozer dan tentara dengan senapan di tangan di kiri kanan mereka.

Dalam surat kepada ibunya, kepada keluarganya di Amerika, contohnya, ia menggambarkan perasaannya dengan ungkapan yang terasa emosional: “Ngeri dan tak percaya, itulah yang kurasakan. Kecewa. Sama sekali bukan ini yang aku minta ketika aku datang ke dunia ini, bukan ini dunia yang Mama dan Papa inginkan buat diriku ketika kalian memutuskan untuk melahirkanku”.

Dan di Rafffah itulah, Rachel Corrie yang berani dan memiliki panggilan solidaritas dengan segenap jiwanya tinggal beberapa hari di sebuah rumah keluarga bernama Nasrallah, demi menegaskan tekadnya bersama rakyat Palestina memperjuangkan kemerdekaan. Selain itu, ia juga sengaja tinggal di sana agar tentara Zionis mengurungkan niat untuk membuldozer pemukiman warga Palestina tersebut, dengan keberadaan dirinya di dalam rumah keluarga Nasrallah terebut.

Pengalamannya tersebut ia ungkapkan juga lewat email kepada Mama-nya, dan menceritakan secara terus-terang kondisi yang dialaminya: “Dua kamar depan rumah mereka tak dapat digunakan. Dinding-dindingnya hancur ditembus peluru Israel. Seluruh anggota keluarga; tiga anak dan dua pasang suami istri tidur di ruang tengah. Aku tidur di lantai bersama anak perempuannya, Iman, dalam satu selimut”.

Dalam hal ini, rasanya kita perlu mengenal sekilas siapa Rachel Corrie, perempuan pemberani yang memiliki jiwa solidaritas bagi kemanusiaan ini. Ia lahir tanggal 10 april 1979 di Olympia, di dekat teluk selatan negara bagian Washington, Amerika. Ia adalah seorang mahasiswi, yang sesungguhnya memiliki masa depan cerah dan membentang, sebelum bulldozer Israel merenggut nyawanya.

Dan sore itu sekitar jam 5 sore 16 Maret 2003 silam tersebut, dengan jaket kuningnya ia berdiri di Raffah, Palestina, sebuah kota dekat perbatasan Mesir. Ia berdiri di sebuah kota yang jaraknya ribuan kilometer dari tanah kelahirannya, di Washington, Amerika sana. Ia berdiri dengan berani dan tak gentar sedikit pun untuk mengundurkan niatnya membela kemanusiaan, di depan rumah Nasrallah yang beberapa hari didiaminya. Ia berdiri dengan tegak di depan buldozer Israel yang siap meluluhlantakkan pemukiman warga Palestina tersebut.

Dia hadang buldozer yang siap melindas rumah itu, dia berdiri di atas gundukan tanah yang cukup tinggi setelah dikeruk pisau tajam dan berat bulldozer Israel tersebut agar sang tentara yang mengoperasikan bulldozer melihatnya. Namun sang serdadu yang telah mendapat perintah kebijakan Israel itu tak peduli, dan bulldozer jenis D9R milik Israel itu pun terus melaju. Saat itulah Rachel Corrie terbanting, dan lalu terseret pisau bulldozer yang semula dihadangnya tersebut, tubuhnya pun remuk dilindas rantai rantai baja sang bulldozer.

Demikianlah, Rachel Corrie meninggal 16 Maret 2003 pada usia 23 tahun di tanah asing yang sangat jauh dari rumahnya, ia mati demi orang lain dan ia mati demi sebuah harapan di mana masih ada kemampuan manusia untuk tetap menjadi manusia.

Sulaiman Djaya

Jumat, 21 Agustus 2015

Unsur Messianisme (Mahdawiah) dalam Film Lord of the Rings




Dalam film Lord of the Rings itu, Sauron (sang antagonis) dilambangkan dengan “metafora mata satu”, yang mengingatkan kita pada simbol Dollar (yang simbolnya memang Piramida dengan Mata Satu di puncaknya) dan Zionisme. Namun, sebelum melangkah ke detil penjabaran hal ini, alangkah baiknya kita mulai dari latar kisah film Lord of the Rings itu sendiri. Dan marilah kita mulai.

Sewaktu Dunia Tengah masih sepi, banyak kisah-kisah petualangan yang diceritakan turun-temurun di semua bangsa, termasuk sebuah bangsa mungil yang disebut hobbit. Tak ada yang tahu bahwa seorang hobbit akan membawa kisah petualangan yang akan dikenang sepanjang masa (minimal menurut kisah dan versi film yang sedang kita bicarakan ini).

Adalah Bilbo Baggins, seorang hobbit yang tinggal nyaman di liangnya Bag End di negeri Shire yang tenang dan damai. Kehidupannya biasa-biasa saja sampai pada suatu hari seorang penyihir bernama Gandalf bertamu ke rumahnya dengan tiga belas Kurcari (Dwarf), dan memaksa Bilbo ikut dalam petualangan para Kurcaci merebut kembali harta mereka yang hilang jauh di Pegunungan Sunyi di Timur sana.

Singkat cerita, akhirnya, Bilbo menjadi pencuri mereka, suka atau pun tidak. Siapa sangka, hobbit yang memiliki darah Took sebagai petualang ini akhirnya justru banyak berperan dalam sejarah Dunia Tengah, termasuk menemukan kembali Cincin (The One Ring), cincin terkutuk yang sudah lama hilang, yang bisa membuat dirinya tak terlihat.

Selesai dari petualangan ini, akhirnya Bilbo Baggins menjadi sering berpetualang di Dunia Tengah, berbekalkan Cincin saktinya itu. Akhirnya, ia pun menjadi tua. Di sinilah cerita tentang The Lord of the Rings dimulai.

Pada ulang tahun Bilbo ke-sebelas puluh satu (eleventy one, maksudnya ke-111), secara misterius Bilbo menghilang (menggunakan Cincin) dan akhirnya mewariskan Cincin itu pada Frodo. Musim pun berlalu, Gandalf kembali datang dan menceritakan sejarah kelam Cincin serta bahaya yang sekarang mereka hadapi. Sauron, pemilik Cincin, sudah mengetahui bahwa Cincinnya ditemukan, dan sekarang ia amat ingin memilikinya kembali untuk tujuan jahatnya.

Satu-satunya cara adalah memusnahkan Cincin itu di Gunung Api di negeri musuh, Mordor. Maka, akhirnya Frodo pun berangkat, dan setelah Rapat Dewan Penasihat Elrond di Rivendell, sembilan orang pun berangkat: Frodo Baggins, Samwise Gamgee (Sam), Merry Brandybuck, Peregrin Took (Pippin), keempatnya bangsa hobbit; Aragorn (Strider), Boromir, keduanya bangsa manusia, Legolas (bangsa Elf), Gimli (bangsa Kurcaci), dan Gandalf, sang penyihir sendiri.

Dalam perjalanan mereka kelak, banyak yang akan terjadi: kematian salah satu Rombongan Pembawa Cincin, jatuhnya Gandalf, pecahnya Rombongan menjadi tiga, dan banyak lagi.

Itulah kisah Dunia Tengah, yang difilmkan menjadi sebuah film yang sempat “boom”, Lord of the Rings –di mana kiasan cincin itu sendiri mengingatkan kepada enigma cincin Nabi Sulaiman, yang ternyata hendak menuturkan metafora akhir zaman. Berikut detil penjabarannya.

Dalam film itu digambarkan ada koalisi antara dua kekuatan besar untuk melawan imperium kejahatan (Mordor). Dalam kehidupan di Akhir Jaman nanti juga akan terjadi koalisi antara Umat Islam dengan kaum Nasrani, untuk menghadapi imperium kejahatan Zionis.

Dalam film itu digambarkan sosok Frodo sebagai pembawa cincin yang harus menghancurkan raja kejahatan.

Dalam film itu digambarkan munculnya seorang kesatria pemberani, pembela kebenaran, dan sangat konsisten melindungi Frodo. Setelah imperium kejahatan Mordor hancur, kesatria itu diangkat menjadi kaisar. Posisi kesatria ini dalam Tanda-tanda Kiamat sangat mirip dengan posisi Imam Mahdi.

Di akhir cerita digambarkan imperium kejahatan hancur seluruhnya, tidak ada yang tersisa. Begitu pula, di Akhir Jaman nanti imperium Dajjal juga akan hancur.

Sebelum imperium kejahatan (Mordor) itu hancur, mereka mengalami kemajuan-kemajuan pesat dari sisi kekuatan militer. Puncaknya, mereka mampu mengepung kekuatan kebaikan di sebuah lembah. Di Akhir Jaman nanti demikian juga kondisinya. Kaum Zionis mendapat kekuatan yang sangat hebat, sehingga mendesak orang-orang beriman dalam situasi tersudut.

Kunci kekuatan imperium kejahatan adalah “sang mata satu” (Sauron). Semakin kuat dirinya, semakin kuat pula kerajaannya. Namun saat dia hancur, maka hancur pula seluruh imperium kejahatannya. Begitulah hubungan antara Dajjal dengan kaum Zionis di Akhir Jaman nanti.

Hancurnya kekuatan “sang mata satu” (lambang Zionisme dan mata uang Dollar) ditandai dengan melelehnya cincin yang dibawa Frodo di sebuah kawah gunung yang membara.

Dalam film itu digambarkan bahwa tokoh “sang mata satu” bukan muncul dari bangsa jin atau makhluk lain. Ia berasal dari sosok seorang raja di masa lalu. Dalam Tanda-tanda Kiamat disebutkan, bahwa Dajjal itu sejenis manusia, yang telah lahir ribuan tahun silam.

Sang pembawa cincin (Frodo) pada akhirnya meninggal juga. Dia harus berpisah dengan teman-teman setianya.

Misi lain dari perjuangan Frodo adalah menuntaskan cerita dalam buku yang ditinggalkan oleh kakeknya. Cerita itu hampir selesai di tangan Frodo. Namun dia sisakan satu halaman lagi untuk diisi temannya, Sam. Di akhir perjalanan hidupnya, Frodo dihantarkan naik perahu untuk berlayar menuju suatu tempat yang sangat indah. Dia disambut oleh makhluk-makhluk ghaib dari dunia lain (semacam Malaikat). Begitu pula balasan bagi para Nabi dan orang-orang shalih dalam kehidupan di Akhirat nanti. 

Kamis, 13 Agustus 2015

Albert Einstein, Syi’ah, dan Misteri Jagat Raya




Hak cipta ©Sulaiman Djaya (2014-2015)

“Sesungguhnya sehari di sisi Tuhan-mu seperti seribu tahun dari tahun-tahun yang kamu hitung” (Al-Haj: 47). “Yang membuatku marah adalah, ketika orang-orang yang menyangkal Tuhan, mengunakan argumenku untuk mendukung pandangan mereka” (Albert Einstein).  “Suatu ketika hiduplah seorang wanita bernama Bright –dan ia berkelana melampaui kecepatan cahaya. Suatu hari ia berangkat, dengan kecepatan relatif terhadap waktu, dan kembali pada malam sebelum keberangkatan” (dalam Lawrence M. Krauss, Physics of Star Trek).

PROLOG SEBUAH FRAGMEN
Di tahun 1927, para ahli fisika berkumpul di sebuah ruangan (khusus) yang berada dalam sebuah gedung besar. Dan pagi itu, di luar gedung, salju turun ragu-ragu, persis ketika awal musim dingin mulai datang, pelan dan lamban. Tentulah ketika itu, kebanyakan orang memilih berlindung di balik selimut demi melindungi tubuh mereka dari serangan dan serbuan cuaca dingin, sehingga cuaca awal musim selalu disambut dengan kemalasan. Tapi tidak demikian dengan para ahli fisika yang berada di sebuah ruangan di gedung itu, mereka berdebat, berdiskusi, sementara salju turun lamban tapi pasti di luar ruangan (di luar gedung) tempat mereka berdebat menguras argument dan pikiran.

Mereka adalah Max Planck, Pauli, dan Werner Heisenberg, yang sedang membahas tentang Albert Einstein, salah-satu kolega mereka yang sekaligus merupakan teoritikus fisika terbesar abad (mutakhir) ini. Diskusi mereka saat itu menitik pada satu pokok soal yang dirasa urgen dan cukup mengundang tanya mereka sebagai sesama ilmuwan, yaitu Albert Einstein kolega mereka yang terlampau sering berbicara tentang Tuhan dalam setiap esai dan ceramahnya, seperti ketika Einstein menulis, “aku ingin membaca pikiran Tuhan”, “Tuhan tidak bermain dadu”, dan yang lainnya.

Pertanyaan yang ada dalam benak mereka saat itu adalah ‘bagaimana para ilmuwan itu harus menyikapi kelakuan Einstein tersebut?’ Namun, setelah perdebatan sengit yang banjir argumen dan menguras daya-pikir, akhirnya salah-satu peserta rapat itu, yaitu Pauli, menyatakan: “Kalau batas antar bidang-bidang pemikiran dan pengalaman kita semakin menajam, pada akhirnya kita akan masuk pada sebuah kesepian yang menakutkan dan kita harus ijinkan air mata menetes”.

Sebagaimana kita tahu, sebagai ilmuwan (fisikawan), Einstein menolak konsepsi Tuhan yang antroposentris (Tuhan yang dibayangkan seumpama manusia). Einstein melihat ide Tuhan personal sebagai bentuk antropomorfisme (seperti contohnya Mujassimah Wahabi yang menganggap Tuhan punya tangan dan bertempat). Dalam pandangan Einstein yang demikian, seperti alam, Tuhan adalah misteri tak terlukiskan dengan bahasa manusia. Mengapa demikian? Tak lain karena ia pun tidak bisa melukiskan batas sepi (sunyat) kosmos, sehingga ia pun harus terpaksa berhenti pada E=MC2. Dan hal itu pun tidak juga menuntaskan misteri kosmos yang bertahun-tahun dipikirkan dan ingin diketahuinya. Singkatnya, Kosmos dan Tuhan tetap misteri yang tak akan pernah terungkap tuntas.

Dalam hal ini, Imam Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah pernah berkhutbah: “Ia yang untuk menggambarkan-Nya tak ada batas telah diletakkan, tak ada pujian yang maujud, tak ada waktu ditetapkan, dan tak ada jangka waktu ditentukan. Ia mengadakan ciptaan dengan kodrat-Nya, menebarkan angin dengan rahmat-Nya, dan mengukuhkan bumi yang goyah dengan batu”. 

Kita tahu, Albert Einstein adalah nama yang sangat masyhur dalam jagad sains, utamanya dalam dunia fisika. Namun tentu bagi yang masih sedikit informasi tentangnya akan bertanya: apa saja prestasi ilmiah Einstein itu dan di mana letak kehebatannya, hingga ia menjadi masyhur? Berikut ini adalah sejumlah fakta mengenai Albert Einstein: 

BIGORAFI SINGKAT ALBERT EINSTEIN
Albert Einstein lahir pada tanggal 1879 di Jerman Selatan. Ibunya adalah seorang pemain piano yang berbakat, dan Einstein memiliki pelajaran biola ketika dia masih sangat muda. Einstein melanjutkan bermain biola sepanjang hidupnya, dan menjadi seorang Violinist yang hebat. Ketika dia berumur lima tahun, ayahnya menunjukkan kepadanya sebuah kompas. Einstein melihat bahwa jarum bergerak dan dia ingin mencari tahu sebabnya. Itulah awal minatnya di bidang fisika, dan rasa ingin tahu-nya inilah salah satu karakternya yang merupakan kualitas terbesar Einstein. “Hal yang terpenting adalah jangan berhenti bertanya,” demikian ujarnya.

Pada saat berusia 26 tahun, Einstein bekerja sebagai juru-tulis di kantor paten di Bern, Swiss pada tahun 1905 ketika dia membuat karya besarnya Teori Relativitas, Materi, dan Teori Kuantum. Dia menikah dengan Mileva Maric, seorang fisikawan Serbia, yang dari pernikahannya itu ia dikarunia tiga anak. Kemudian dia memegang gelar jabatan profesor di kota Eropa, Zurich, Praha dan Berlin. Saat itu, di Berlin pada akhir 1915-an, ia menyelesaikan Teori Relativitas Umum, yang menjelaskan hubungan antara gravitasi dan ruang-waktu.

Einstein kemudian datang ke Institute of Advanced Study di Princeton, New Jersey Amerika pada tahun 1933, persis ketika Nazi dan Adolf Hitler memiliki kekuatan di Jerman. Ia menghabiskan sisa hidupnya di Princeton, mencoba mencari tahu bagaimana semua bidang fisika dapat disatukan (Theory of Everything). Sebagai seorang yang selalu penasaran alias memiliki kuriositias yang sangat tinggi bahkan perfeksionis dan sebagai seorang pekerja keras, ide-idenya mengubah cara pandang dunia dengan berbagai cara, yang acapkali unik dan imajinatif.

MATERI
Prestasi Einstein lainnya adalah ia termasuk salah satu ilmuwan yang terlibat dalam sejarah terungkapnya Materi dan misterinya. Ceritanya dimulai pada tahun 1900-an,  dimana ketika itu banyak ilmuwan yang berpikir bahwa materi itu berkelanjutan terus menerus, yang berarti akan selalu dapat dibagi menjadi bagian kecil. Beberapa ilmuwan tidak setuju dengan itu, dan mengajukan bahwa materi terdiri dari beberapa partikel kecil, disebut Molekul. Einstein adalah satu dari sekian ilmuwan yang percaya bahwa materi adalah terdiri dari molekul.

Kemudian, di tahun 1905, ketika ia berumur 26 tahun, Einstein mempelajari “Gerak Brownian”. Partikel kecil sekecil debu atau serbuk, ketika ditebarkan di dalam cairan dan dibabarkan mengambang bergerak secara acak. Kita juga dapat melihat kejadian itu melalui mikroskop. Gerak ini disebut Gerak Brownian, dan bayangkan bahwa sebelum tahun 1905, tidak seorangpun mengetahui tentang penyebabnya.

Einstein-lah yang mewujudkan bahwa jika cairan terbuat dari molekul kecil yang selalu bergerak, ini akan menjelaskan Gerak Brownian. Di sini, Molekul menurutnya terkadang menabrak partikel debu dan menyebabkan bergerak ke arah berbeda  –seperti apa yang terjadi pada bumper mobil. Einstein menggunakan matematika untuk memprediksi bagaimana debu harus bergerak, dan ia benar. Selanjutnya ia juga menemukan bagaimana cara untuk mengukur molekul.

Kerja keras dan temuan Einstein menunjukkan bahwa materi terbuat dari molekul. Sejak tahun 1905, kita telah belajar banyak tentang molekul dan atom yang membuat berbagai jenis materi. Karya ini mempunyai banyak aplikasi dalam tekhnologi (termasuk chip komputer), dan masih  merupakan area penelitian yang penting.

MULA TEORI KUANTUM
Tahukah Anda partikel kesayangan dari Einstein? Ya, Foton. Itu karena Einstein menghabiskan banyak waktu untuk berpikir tentang cahaya. Pada awal tahun 1900-an, tepatnya pada tahun 1905, Einstein menyatakan bahwa cahaya seringkali berperilaku seperti gelombang, sekaligus seringkali berperilaku seperti partikel. Cahaya ini, demikian menurutnya, adalah seperti bungkusan kecil energi (di mana kita sekarang ini menyebutnya foton, tidak lagi menyebut sebungkus energi). Setiap foton mempunyai jumlah energi tertentu, atau disebut kuantum (itu karena jamak, yang mana bentuk tunggalnya kuanta).

Dari kerja dan temuan saintifik yang diciptakan seorang fisikawan bernama Max Planck, Einstein menemukan suatu persamaan untuk energi foton (E=hv). Dia menggunakan persamaan ini untuk menjelaskan efek fotolistrik – suatu misteri ketika cahaya berinteraksi dengan bahan metal. Efek fotolistrik tidak masuk akal jika kita berpikir bahwa cahaya berperilaku seperti gelombang, tetapi masuk akal jika kita memikirkan bahwa cahaya sebagai partikel foton (Reaksi Ionisasi).

Berkat prestasi-prestasinya itu, Einstein menerima Penghargaan Nobel pada tahun 1921.

Dan sebagaimana kita tahu, temuan-temuan Einstein untuk foton menjadi dasar utama untuk bidang yang disebut Teori Kuantum (Quantum Theory). Banyak hal penting yang dihasilkan dari bidang ini, seperti tekhnologi untuk membuat TV dan komputer (laser, compact disc). Teori Kuantum menjelaskan bagaimana Alam Semesta bekerja pada sekala kecil, namun ilmuwan belum mengetahui bagaimana Teori Kuantum dan Teori Gravitasi dapat cocok bersamaan. Dan ini adalah bidang penelitian yang penting, bahwa ilmuwan masih menyelidikinya (String Theory alias Teori Dawai).

TEORI RELATIVITAS KHUSUS
Sekarang kita sampai pada soal yang membuat Einstein masyhur hingga kini, yaitu Teori Relativitasnya. Apa yang Anda lihat jika Anda bergerak secepat 186,000 mil per detik (atau kira-kira 299 337.984 Km per detik) atau yang seringkali disingkat dengan Kecepatan Cahaya itu? Einstein menghabiskan banyak waktu untuk memecahkan masalah ini. Dan uniknya, suatu hal yang ia temukan begitu aneh, yaitu bahwa orang harus mulai berpikir tentang  alam semesta dengan cara yang sama sekali baru. Dalam hal ini, Einstein menemukan bahwa ruang dan waktu itu terhubung, dan lebih baik membicarakannya menjadi satu hal saja – Ruangwaktu.

Dia menunjukkan bahwa objek akan bertambah berat ketika mereka bergerak lebih cepat, dan mereka akan menyusut ukurannya ke arah mereka bergerak. Waktu juga terlihat lebih lambat di jam ketika bergerak cepat pada waktu diam. Kita tidak melihat efek ini setiap hari karena mobil dan sepeda tidak cukup cepat untuk mengalami perubahan yang dapat kita ukur. Lawrence M. Krauss menjelaskan dengan sangat baik ketika menjelaskan temuan Einstein yang satu ini dalam bukunya yang berjudul Fisika Star Trek, di mana temuan-temuan Fisika Einstein digunakan sebagai penjelas untuk mengemukakan kekeliruan beberapa bagian film Star Trek. Contohnya adalah bayangkan ketika kendaraan Anda melaju dengan cepat, maka tubuh Anda akan semakin terdesak ke belakang.

Nah, temuan Einstein yang ini adalah bagian dari Teori Relativitas Khusus. Disebut spesial karena ini hanya diaplikasikan ketika objek bergerak pada kecepatan konstan (tak berubah).

Dan sebagaimana kita ketahui, Einstein kemudian membuat Teori Relativitas Umum yang membicarakan tentang apa yang terjadi ketika objek mengalami kenaikan kecepatan atau melambat. Persamaan yang mungkin Anda juga pernah mendengarnya atau mungkin melihat di kaos seorang teman atau stiker E=MC2 di mana hal itu adalah hasil teori Relativitas Khusus. Persamaan ini menunjukkan bahwa Energi dan Massa adalah dua bentuk hal yang sama, dan bahwa sedikit massa dapat dirubah menjadi energi yang sangat banyak. Pengetahuan ini membantu kita memahami bagaimana bintang-bintang menghidupi dirinya, dan bagaimana untuk membuat senjata nuklir. (Bersambung)