Senin, 02 Mei 2016

Mukhtar At-Tsaqafi dan Ketegaran Perempuan


Bangkitlah....karena kegetiran padang kering kerontang telah tiba
Kisah ini adalah ungkapan hati yang pedih terbakar
Bangkitlah....karena pentas Nainawa telah digelar
Lembaran tahun Syamsiah dan Qamariah telah menghampiri
Seruling duka telah mengalun dan Arasy menangis
Di semesta alam yang penuh cerita duka ini...................................

Kabar dipenggalnya secara keji Imam Hussain di Karbala telah sampai ke Timur dan Barat. Bersamaan dengan itu, kaum fasis dan kaum zalim serta kaum munafik yang membajak Islam gembira dengan terbunuhnya sang cucu Muhammad Al-Mustafa itu, tetapi kaum muslim dan kaum mukmin yang sejati berduka. Adalah Mukhtar At-Tsaqafi salah-satu mukmin yang hatinya terbakar dan berduka dengan berita tersebut.

Sang Nemesis (dewi yang menghukum kaum zalim) yang bernama Mukhtar At-Tsaqafi yang terbakar karena berita terpenggal-nya Imam Hussain oleh pasukan Ubaidillah bin Ziyad yang merupakan gubernur kesayangan Yazid bin Muawwiyah di Bashrah dan Kufah itu, berjanji akan melakukan revolusi untuk melawan tirani dan fasisme Yazid bin Muawwiyah.

Ketika itu posisi Mukhtar adalah tahanan Yazid bin Muawwiyah, sehingga tak ada yang bisa ia lakukan ketika terjadi pembantaian Imam Hussain di Karbala.

Sesaat beberapa lama kemudian akhirnya Mukhtar berhasil dibebaskan atas bantuan Abdullah bin Umar. Lantas setelah itu Mukhtar langsung bergegas menyusun rencana revolusi dan perlawanan. Dalam salah satu taktik perang yang digunakan Mukhtar, ia menyerukan sandi Ya Litsarat Al-Hussain untuk menyalakan api revolusi dan perlawanan terhadap tirani dan fasisme Yazid bin Muawwiyah bin Abu Sufyan yang membajak Islam, yaitu suatu tanda sudah disepakatinya untuk melakukan revolusi, mirip ketika Muhammad Saaw dan minoritas muslim yang diagressi dan diserang saat Perang Badar yang menggunakan sandi Ya Manshur Ahmad, di mana dalam Perang Badar itu komandan-nya adalah Imam Ali bin Abi Thalib.

Setelah beberapa pertempuran dilewati dan dimenangi pasukannya, Mukhtar pun berhasil meng-qishash Syimr bin Dzil Jausyan, orang yang telah memenggal kepala Imam Hussain di Karbala. Dan tentu saja, ceritanya tak hanya sampai di sini, sebab dari pihak lawan banyak di antara mereka yang tidak menyukai kebijakan politik Mukhtar yang egaliter dan melenyapkan politik rasialis yang dianut Bani Umayyah.

Singkat cerita dalam suatu perperangan akhirnya Mukhtar terbunuh oleh Mush’ab bin Zubair yang merupakan saudara dari Ibnu Zubair, orang yang menyimpan dendam kesumat kepada keturunan Imam Ali. Setelah berhasil membunuh Mukhtar, Mush’ab memerintahkan untuk menangkap Umrah bin Nu’man, istri Mukhtar. Wanita ini adalah wanita yang beriman, salehah, penuh tata-krama, mulia, dan keturunan terhormat.

Mush’ab memintanya untuk mengingkari suaminya, tapi ia berkata, “Bagaimana mungkin engkau menyuruhku untuk mengingkari seorang lelaki yang berkata bahwa Tuhannya adalah Allah, berpuasa pada siang hari, bangun pada malam hari. Dia telah memasrahkan hidupnya untuk Allah dan Rasul-Nya, dia menuntut balas atas kematian cucu Nabi Muhammad SAW, yaitu Hussain bin Ali”.

Mush’ab berkata dengan nada mengancam, “Kalau begitu engkau akan menyusul suamimu”. Wanita itu menjawab, “Gugur sebagai syahid adalah lebih mulia daripada dunia dan seisinya”. Akhirnya Mush’ab memutuskan untuk membunuh Umrah dengan cara dipengggal lehernya. Dialah wanita pertama sepanjang sejarah Islam yang dipenggal lehernya karena kesabarannya.

Dengan kematian Mukhtar dan istrinya ini, tertutuplah lembaran yang merekah dalam sejarah perjuangan nan cemerlang dan kesetiaan cinta hingga ajal menjemput. Demikianlah, “Laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, dan perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik”. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar