Sabtu, 18 Juli 2015

Agama Bermahkota Cinta





Oleh Sulaiman Djaya (Sumber: Tangsel Pos, 4 September 2014)

Nabi Muhammad saw bersabda: “Seluruh makna takwa disimpulkan dalam ayat Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu untuk berbuat adil dan berbuat baik” (al Qur’an Surah an Nahl ayat 90) (Mizanul Hikmah, 10:659). Dalam salah-satu tilikan filsafatnya, Adorno, salah seorang eksponen Mazhab Frankfurt itu, pernah menyatakan bahwa “orang yang masih mencari pendasaran dan alasan moral untuk tindakannya adalah ciri orang yang tidak bermoral”. Sebab menurut Adorno, orang seperti itu pastilah akan melakukan kejahatan-kejahatan bila tak ada moral verbal yang mencegahnya.

Apa yang diutarakan dan dikhawatirkan Adorno bertahun-tahun silam tersebut masih sangat terasa justru ketika teks-teks firman kitab suci yang dipahami secara verbal seringkali dijadikan alasan dan pembenaran untuk sejumlah praktek eksclusi alias penyingkiran atas dan terhadap alteritas dan “keberlainan”, dijadikan alasan untuk membenarkan kezaliman dan kekerasan terhadap orang-orang yang berbeda identitas dan komunitas. Juga sebaliknya, bila saya meminjam wawasannya Kierkegaard, orang seperti itu akan cenderung memahami kebaikan hanya sekedar perintah tanpa penghayatan dan tidak belajar dari kenyataan keseharian untuk memaknakan secara terus menerus apa arti iman dan kebaikan.

Kepekaan Pada Keseharian
Dalam hal ini, barangkali “iman” adalah sebuah pelajaran dari keseharian dan ikhtiar pencarian yang tak pernah usai, karena kita tak pernah tahu apakah kita yang akan masuk surga atau justru orang lain yang kita tuduh sebagai mereka yang tak berhak mendapatkannya, ataukah para gelandangan dan orang-orang gila di jalanan yang kita lihat dan kita jumpai di pasar-pasar atau di trotoar-trotoar perkotaan, mereka yang akrab dengan kesusahan dan penderitaan, ketimbang orang-orang yang nyaman hingga begitu mudahnya berdakwah tentang janji-janji surga kepada setiap orang, padahal motif sang boss yang mendanai mereka dan sumber finansialnya adalah demi kepentingan dan tujuan politis, dan yang menggerakkannya adalah suatu kekuatan atau korporasi yang sebenarnya tidak memiliki minat dan tekad bagi dan terhadap agama.

Mungkin, sesekali persoalannya bukan apakah teks kitab suci telah menjanjikan surga dan neraka, yang menurut Rabiah Adawiah, bunyi verbal teks kitab suci tersebut ditujukan kepada mereka yang iman-nya masih kekanak-kanakan dan perhitungan keimanannya lebih bersifat transaksional dan ekonomistik, yang dalam bahasa Rabiah Adawiah sendiri tak ubahnya seorang buruh yang tak akan bekerja bila tak diberi upah. Iman adalah seperti pengalaman Zakariya yang heran ketika Jibril mengabarkan wahyu tentang kelahiran Yahya, dan lalu ia pun bisu alias tak bisa berbicara hingga Yahya lahir ke dunia, atau seperti Sarah yang tertawa ketika malaikat Jibril mengabarkan kepada Ibrahim tentang berita kehamilannya, hingga arti nama Ishak itu sendiri adalah tawa dan ia yang tertawa.

Beragama Dengan Penghayatan
Barangkali, iman harus lah dimahkotai dan dilandasi kepekaan dan penghayatan, bukan hipokrisi, hipokrisi yang acapkali diklaim sebagai iman dan kesalehan semisal yang dipercayai sahabat-sahabat Ayub, yang dalam Kitab Ayub ditentang oleh Ayub sendiri. Sebab menurut Ayub, iman dan kesalehan yang dipercayai sahabat-sahabatnya itu tak lebih sejumlah dogma dan apologia yang bersumber dari kemalasan dan ketakpekaan, acapkali demi mendukung status quo tindakan-tindakan mereka yang memiliki kepentingan untuk mempertahankan dogma tersebut.

Di sini, saya teringat Rabiah Adawiah, ketika ia menyatakan, “Aku mencari, tapi Ia bersembunyi”, dan dalam khalwat itu pun Rabiah mengaku: “Aku mencintai Tuhan, tapi aku juga tak membenci Azazil. Cinta takkan meninggalkan ruang di hati untuk yang lain. Dan aku takkan mengabdi kepada Tuhan seperti seorang buruh yang meminta gaji”. Juga dengan bait-baitnya itu Rabiah pun berdoa dan menyatakan makna iman-nya: “Jika aku menyembahmu karena takut neraka, maka lemparkan aku ke dalam neraka. Jika aku menyembahmu karena mengharapkan surga, maka jauhkan aku dari surga”.

Meski makna iman yang diinginkan Ayub dan Rabiah rentan jatuh ke dalam hasrat untuk meniadakan diri, bagi saya mestilah dipahami sebagai pemaknaan alternatif dari iman yang berubah menjadi dogma dan apologia politis dan ideologis, yang acapkali malah membenarkan kekejaman. Kekerasan dan kekejaman yang telah disesalkan dan dikhawatirkan oleh Adorno ketika agama menjadi ideologi yang tertutup dan kehilangan kepekaannya pada pengalaman dan keseharian. Iman seperti itu justru lebih merupakan iman yang selalu khawatir dan selalu merasa terongrong, alias iman yang paranoid. Iman yang justru dipenuhi waham.

Dan sebelum kita mengakhiri tulisan ini, barangkali akan merupakan sebuah berkah jika kita menyimak sejenak wejangan Ali Bin Abi Thalib karramallahu wajhah, sebagaimana yang terdapat dalam Nahjul Balaghah, berikut: “Jadikanlah dirimu sebagai timbangan dalam hubunganmu dengan orang lain, dan cintailah orang lain itu sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri, dan bencilah orang lain sebagaimana kamu benci dirimu sendiri, janganlah engkau menganiaya sebagaimana engkau tidak senang dianiaya, dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana engkau senang orang lain berbuat baik kepadamu, dan pandang jeleklah terhadap dirimu sebagaimana orang lain memandang jelek, dan tumpahkan relamu kepada manusia sebgaimana engkau rela jika orang lain rela kepadamu”. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar