Minggu, 13 Desember 2015

Kurban Agung



Setelah para pemuda dan para pengikutnya menjadi para syuhada, Imam Husain as akhirnya mempersiapkan diri untuk mengorbankan jiwa dan raganya. Demi penuntasan hujjah untuk terakhir kalinya, beliau berkali-kali meneriakkan pertanyaan: “Adakah seseorang yang akan melindungi kehormatan Rasulullah dari bencana ini? “Adakah orang bertauhid yang takut kepada Allah berkenaan dengan kami? Adakah orang yang akan menolong permohonan kami demi keridhaan Allah?” [1] Teriakan Imam Husain as ini mengundang jerit tangis kaum wanita yang masih harus beliau lindungi.

Beliau berteriak lagi: “Adakah orang yang menyisakan rasa belas kasih? Adakah seorang penolong?” Ali Zainal Abidin as Sajjad as, putera beliau satu-satunya yang sedang sakit keras dan tak berdaya untuk maju ke medan laga berusaha bangkit dari pembaringannya dan berteriak: “Aku siap. Aku akan mengorbankan jiwa.”

Dengan tubuhnya yang lemas Ali as Sajjad itu berusaha meraih pedang, namun lempengan besi tajam itu masih sangat berat untuk tubuhnya yang nyaris tanpa tenaga itu. Pemuda ini lantas meraih tombak, satu-satunya senjata yang baginya justru lebih menyerupai untuk menyanggah tubuhnya yang lunglai itu. Dengan sisa-sisa tenaga ia mencoba beranjak menuju gerombolan musuh. Namun Imam Husain as tidak membiarkannya berperang dalam kondisi seperti itu. Beliau memerintahkan Ummu Kaltsum untuk mencegahnya, namun Assajjad menolak. “Biarkan aku yang akan menolongnya.” Pinta As-Sajjad.

Imam Husain as akhirnya turun tangan sendiri untuk mencegah dan membawanya kembali ke pembaringan lalu berkata: “Tenanglah puteraku. Tetaplah kamu di sini. Biarkan aku sendiri yang akan menghadapi pedang, sedangkan kamu cukuplah menanti belenggu. Puteraku, kamu harus kembali ke kampung halaman di Madinah. Sampaikan salamku untuk pusara kakekku, ibuku, dan saudaraku. Sampaikan salamku kepada saudarimu, Fatimah. Sampaikan salamku kepada para pengikut kita dan katakan kepada mereka, ayahku berkata; ‘Aku berharap kepada kalian untuk mengingat bibirku yang kering kehausan jika kalian hendak meneguk air, dan menangislah kalian dan jangan kalian lupakan keterasingan dan syahadahku saat kalian bicara tentang keterasingan seorang syahid.”

Di saat-saat terakhir itu, Imam Husain as mendatangi tenda-tenda satu per-satu. Beliau panggil satu per-satu anak-anak beliau. Beliau meminta mereka untuk tabah dan sabar. “Hai para pelipur hatiku sekalian,” tutur Imam Husain as penuh harap, “Allah tidak akan berpisah dengan kalian di dunia dan akhirat. Ketahuilah dunia ini tidaklah abadi. Akhirat-lah tempat pesinggahan yang abadi.” Imam Husain as kemudian menumpahkan segala rahasia kepemimpinan (imamah) kepada putera yang kelak mewarisi kepemimpinannya, Ali Zainal Abidin Assajjad as.

Imam Husain as antara lain berkata: “Pusaka-pusaka para nabi, washi, dan kitab suci aku serahkan kepada Ummu Salamah, dan semuanya akan diserahkan (kepadamu) sepulangmu dari Karbala.”

Imam Husain as lalu mendekati adiknya, Zainab al Kubra as dan meminta supaya diambilkan gamisnya yang sudah lama dan usang. Dengan wajahnya yang dipenuhi sketsa penderitaan dan duka cita itu, Hazrat Zainab mencarikannya kemudian menyerahkannya kepada Imam. Beliau mengenakannya setelah sebagian beliau sobek kemudian diikatkan kuat-kuat sebagai tali yang mengikat gamis itu dengan tubuhnya agar tak mudah lepas atau dibuka oleh orang lain. Gerakan Sang Imam yang diiringi oleh ratapan dan tangisan anggota kerabat yang ada di sekitarnya, seiring dengan jerit tangis bayi mungil Ali Asghar, putera beliau yang masih berusia enam bulan. Bayi itu menjerit-jerit menahan dahaga setelah sekian lama tidak mendapatkan tetesan air susu dari ibunya yang juga sudah lama tercekik kehausan.

Tak tega mendengar tangisan itu, Imam meminta puteranya yang masih bayi itu supaya diberikan kepada beliau. Bayi itu diserahkan kepada beliau oleh seorang wanita bernama Qandaqah. Beliau meraih bayi itu lalu menciuminya sambil berucap: “Alangkah celakanya kaum ini sejak mereka dimusuhi oleh kakekmu.” Bayi bernama Ali Asghar itu beliau bawa ke depan barisan pasukan musuh dan memperlihatkannya kepada mereka untuk menguji adakah mereka masih menyisakan jiwa dan perasaan mereka sebagai manusia. Beliau berucap kepada Allah: “Ya Allah, hanya inilah yang tertinggal dariku, dan jiwanyapun rela aku korbankan di jalan-Mu”

Beliau lalu menatap ke wajah-wajah manusia durjana di depannya itu. Bayi berusia enam bulan beliau junjung sambil berseru: “Hai para pengikut keluarga Abu Sufyan, jika kalian menganggapku sebagai pendosa, lantas dosa apakah yang diperbuat oleh bayi ini sehingga setetes air pun tidak kalian berikan untuknya yang sedang mengerang kehausan.”

Sungguh biadab, tak seorangpun di antara manusia durjana itu yang tersentuh oleh kata-kata beliau. Yang terjadi justru keganasan yang tak mengenal sama sekali rasa kasih sayang dan norma insaniah. Seorang berhati serigala bernama Harmalah bin Kahil Al-Asadi diam-diam mencantumkan pangkal anak panahnya ke tali busur lalu menariknya kuat-kuat. Tanpa ada komando, benda yang ujungnya runcing melesat ke arah bayi Ali Asghar. Sepecahan detik kemudian bayi malang itu menggelepar di atas telapak Imam Husain as yang tak menduga akan mendapat serangan sesadis itu sehingga tak sempat berkelit atau melindunginya dengan cara apapun. Beliau tak dapat berbuat sesuatu hingga bayi itu diam tak berkutik setelah anak panah itu menembus lehernya.

Ali Akbar telah menemui ajalnya dalam kondisi yang mengenaskan. Darah segar mengucur dari lehernya hingga menggenangi telapak tangan ayahnya. Dengan demikian, lengkaplah penderitaan Imam Husain as.

Dengan hati yang tersayat-sayat, beliau melangkah kembali ke arah perkemahan. Beliau menggali lubang kecil untuk tempat persemayaman jasad suci Ali Asghar. Dari langit beliau mendengar suara bergema: “Biarkanlah dia gugur, wahai Husain, sesungguhnya di surga sudah menanti orang yang akan menyusuinya.”[2] Imam menghampiri perkemahannya untuk mengucapkan kalimat perpisahan terakhir. Dalam hal ini kepada puteranya yang sedang sakit, As-Sajjad as, beliau bertutur: “Puteraku, sampaikan salamku kepada para pengikutku. Katakanlah kepada mereka sesungguhnya ayahku telah gugur seorang diri, maka ratapilah dia.”[3]

CATATAN
[1] Qiyam Salar-e Syahidaan halaman 225

[2] Anwar Assyahadah halaman 165
[3] Ma’aali Asshibthain juz 2 halaman 22-23 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar